Minyakita Produksi Riau Tak Beredar di Riau

Direktur Bapanas Kumpulkan Seluruh Produsen Minyakita di Riau

Direktur Bapanas Kumpulkan Seluruh Produsen Minyakita di Riau
Kadis Ketahanan Pangan Adrizal mendampingi DIrektur Ketersediaan pangan Bapanas Indra Wijayanto saat melakukan pemantauan Minyakita di Pasar Arengka Pekanbaru, Senin (11/5/2026) pagi tadi.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Indra Wijayanto mengumpulkan seluruh produsen Minyakita yang memiliki pabrik di Riau, Senin (11/5/2026).

Pertemuan dengan para perwakilan produsen Minyakita tersebut dilakukan di Ruang Rapat Bulog Riau Kepri, dihadiri Kadis Perindag Provinsi Riau Taufik OH, Kadis Ketahanan Pangan Pekanbaru Adrizal, Kadis Perindag Pekanbaru Yulianis, Kasubdit I Direskrimsus Polda Riau AKBP Agus Prihandika, Pimwil Bulog Riau Kepri Dani Satrio.

Tampak juga hadir perwakilan dari perusahaan produsen, masing-masing dari PT Intibenua Perkasatama (Musimas Grup), Sumber Tani Agung Resources (STA), Sari Dumai Sejati (SDJ), Kreasijaya Adhikarya, Intan Sejati Andalan,  Pelita Agung Industri dan sejumlah pabrikan lainnya.

Tampak juga hadir beberapa produsen secara zoom meeting, juga beberapa distributor seperti ID Food dan beberapa lainnya.

Pertemuan tersebut,  dijelaskan Indra Wijayanto merupakan tindak lanjut dari laporan dari anggota DPR RI yang beberapa waktu lalu, turun ke Riau menyikapi tingginya harga Minyakita di kabupaten dan kota di Provinsi Riau.

Pada kesempatan itu, Indra mengungkapkan kalau pihaknya sudah turun ke dua pasar di Kota Pekanbaru dan menemukan bahwa pasokan minyakita di Pekanbaru masih cukup melimpah. Hanya saja, memang ada beberapa temuan, dimana Minyakita di jual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Hanya saja, sebut Indra, dari pemantauan di dua pasar yakni Pasar Pagi Arengka dan Pasar Dupa, hanya ada dua produk Minyakita yang beredar, yakni Minyakita yang diproduksi oleh Permata Hijau Sawit (Sumut) dan Pelita Agung Industri yang didistribusikan melalui alokasi 35 persen oleh Perum Bulog.

''Sekarang seperti ini, kami tadi sudah keliling ke dua pasar. Kalau kita keliling sampai 10 pasar pun, saya yakin pasti ketemu barangnya Pelita Agung Agro Industri yang didistribusikan  lewat Bulog. Pertanyaannya, ini bagi pelaku usaha yang Lain, 65 persen yang Bapak distribusikan itu kemana, baranya ada di  mana, kenapa di pasar tidak ada?'' tanya Indra.

Dia mencatat, berdasarkan data Simirah,  di Riau sendiri, tercatat ada 13 pabrik yang memproduksi Minyakita.

''Kita nanti sama-sama lihat, berapa DMO Bapak. Saya tarik saja Bulan April 2025, kemana saja D1-nya siapa, D2-nya siapa. Nanti kita akan ajak ke D2 Bapak yang infonya mereka menjual kepada pedagang Rp235.000 per karton, sehingga pedagang harus menjual Rp20.000 per liter,'' ungkap Indra.

Dijelaskan Indra, produsen pasti akan mengatakan, sudah mendistribusikan kepada D1, kemudian D1 menyampaikan sudah menyampaikan kepada D2, apakah tanggung jawabnya memang hanya seperti itu.

Indra menyinggung tentang tanggung jawab moral dari tiap-tiap produsen untuk memastikan Minyakita yang diproduksi tetap masuk ke pasar-pasar rakyat yang ada di Riau, termasuk di Pekanbaru.

''Kami tidak meminta banyak, misal, Bapak ibu produksi 1.000 ton, sebanyak 35 persen atau 350 tonnya sudah pasti untuk Bulog, sesuai dengan Permendag No.34/2025, kemudian sisanya 65 persen atau 650 ton. Boleh nggak kami minta 50 ton dari 650 ton itu untuk didistribusikan ke pasar pantauan, atau pasar yang ditunjuk Disperindag dan Polda Riau?'' gugah Indra.

Sejumlah perwakilan perusahaan yang hadir mengungkapkan kesiapan mereka bila memang itu menjadi kebijakan pemerintah. Dan untuk itu, pihak perusahaan juga akan mengkoordinasikan kebijakan ini kepada perusahaan.

Indra menyinggung bahwa, saat ini, panel harga untuk Minyakita di Provinsi Riau semenjak Januari 2025 lalu, berkisar Rp15.900 dan ini merupakan peran dari Perum Bulog.

''Saya apresiasi kerja keras Bulog untuk ini. Bukan saja di Riau, namun juga di Kepulauan Riau. Tapi Bapak dan Ibu masih mengendalikan 65 persen lagi produksi Minyakita. Mengapa tidak kita pertimbangkan untuk mengalokasikan di wilayah Riau, sehingga harganya bisa di bawah HET,'' tantang Indra.

Pada kesempatan itu, membuka data Simirah tentang pasokan yang dialokasikan oleh masing-masing produsen kepada distributor.

''Kami melihat alokasinya ada yang sampai 1.000 ton, ada juga yang 500 ton. Kami minta tidak banyak, kalau dari jumlah itu minta 20 ton saja untuk tiap-tiap pasar rakyat di Riau, rasanya masih sangat kecil. Tapi itu akan sangat membantu untuk mamastikan kecukupan Minyakita di pasar-pasar di Riau,'' ungkap dia.

Sementara itu, Kadis Perindag Provinsi Riau, Taufik OH mengungkapkan apresiasinya atas pemantauan yang dilakukan oleh Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas.

Taufik tidak menapik persoalan alokasi minyakita di Provinsi Riau yang memang masih terbatas.

Dia juga menyapresiasi skema baru dalam pendistribusian  Minyakita yang lebih memperhatikan daerah penghasil. Dan pemerintah Provinsi Riau siap untuk memfasilitasi untuk mendukung penyaluran dari distributor ke pasar-pasar yang sudah ditunjuk oleh pemerintah dalam rangka menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga pangan.

''Dalam prosesnya nanti, sebut Taufik, pihaknya tetap akan berkoordinasi bersama dengan Bapanas sehingga bisa berjalan sesuai dengan harapan, di mana, Minyakita yang diproduksi di Riau juga bisa beredar di Riau,''ungkap dia.(R04)

 

 

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional