DUMAI (RIAUSKY.COM) – Malam merambat larut di Kota Dumai, Rabu (20/5/2026). Di sudut sebuah hotel, aroma kopi mengepul dari cangkir-cangkir panas yang tersusun di atas meja kecil. Di ruangan yang tak begitu luas itu, seorang lelaki bernama Nyoto masih bersemangat bercerita tentang kampung halamannya di Desa Kedabu Rapat, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Sesekali ia tersenyum, lalu menyeruput kopi hitam pekat di hadapannya. Matanya tampak berbinar ketika menyebut satu nama yang belakangan mulai dikenal para penikmat kopi: Kopi Liberika Meranti.
Bagi Nyoto, kopi itu bukan sekadar minuman. Liberika adalah cerita tentang tanah gambut, tentang kampung kecil di pesisir, tentang warisan yang kini mulai diperhitungkan dunia luar.
“Orang dulu mengira tanah gambut tidak cocok untuk kopi. Tapi justru di situlah liberika tumbuh dengan karakter yang berbeda,” ujarnya.
Cerita Nyoto membawa imajinasi jauh dari ruang hotel di Dumai. Dari Selat Panjang, ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti, perjalanan menuju Desa Kedabu Rapat harus ditempuh dengan menyeberang sekitar 15 menit melalui Dermaga Selat Air Hitam menuju Peranggas. Setelah itu, perjalanan berlanjut sekitar satu setengah jam menggunakan sepeda motor.
Jalannya bukan jalan besar. Hanya lintasan semen selebar sekitar satu setengah meter yang membelah kebun, rumah warga, dan hamparan lahan gambut yang tampak tak berujung. Saat musim hujan, jalur itu bisa licin dan menyulitkan, namun di sanalah kehidupan petani kopi terus berdenyut.
Di wilayah itulah, Desa Kedabu Rapat berdiri—sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, tetapi perlahan mulai dikenal karena kopi yang tumbuh di tanahnya.
Kopi yang tumbuh di tanah yang “tidak mungkin”
Bagi banyak orang, lahan gambut bukan tempat ideal untuk kopi. Tanahnya asam, basah, dan tidak semua tanaman bisa bertahan. Namun justru di situlah liberika menemukan rumahnya.
Pohon kopi liberika tumbuh tinggi, jauh melampaui arabika dan robusta. Daunnya lebar, buahnya besar, dan kulitnya tebal. Akar-akarnya menancap kuat di tanah yang lembab, seolah menolak anggapan bahwa lahan itu tidak produktif.
Nyoto menyebut, dulu banyak petani ragu. Mereka lebih percaya pada tanaman seperti kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Namun sebagian kecil tetap bertahan dengan liberika—tanaman yang saat itu belum punya pasar jelas.
“Dulu dianggap tidak ada masa depan,” ujarnya. Namun waktu berjalan pelan tapi pasti.
Aroma yang tidak biasa
Perubahan mulai terasa ketika orang-orang luar mulai mencicipi hasil panen mereka. Kopi ini tidak seperti yang biasa mereka kenal. Aromanya unik, kadang mengejutkan. Ada yang menyebutnya smoky, seperti kayu terbakar ringan. Ada yang mencium aroma nangka matang. Sebagian lain merasakan sentuhan cokelat dan rempah yang tidak dominan, tetapi hadir perlahan di ujung lidah.
Keunikan itulah yang membuat Kopi Liberika Meranti mulai diperbincangkan. Bagi sebagian penikmat kopi, rasa liberika tidak langsung “menyerang” seperti robusta, juga tidak secerah arabika. Ia berjalan pelan, lalu menetap lebih lama di ingatan.
Nyoto menyebut, kopi ini bahkan sering dianggap lebih “ramah” bagi mereka yang sensitif terhadap kopi kuat karena kandungan kafeinnya relatif lebih rendah dibanding robusta.
Dari kampung ke pasar luar negeri
Yang membuat Nyoto semakin bangga adalah ketika ia mendengar bahwa sebagian besar kopi dari Meranti justru lebih banyak mengalir ke Malaysia. Permintaan datang terus-menerus, bahkan sering kali melebihi kemampuan produksi petani.
“Kadang kami tidak bisa penuhi semua permintaan,” katanya.
Kondisi itu menjadi paradoks tersendiri. Di satu sisi, permintaan tinggi menunjukkan peluang besar. Namun di sisi lain, keterbatasan produksi dan infrastruktur membuat petani belum sepenuhnya menikmati potensi ekonomi dari kopi mereka sendiri.
Bagi Nyoto, ini bukan sekadar soal jual beli. Ini soal bagaimana sebuah komoditas lokal bisa menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar komoditas
Di Kedabu Rapat, kopi bukan hanya tanaman. Ia menjadi bagian dari cara hidup. Dari menanam, merawat, hingga memanen, semua dilakukan dengan ritme yang mengikuti alam.
Nyoto menyebut banyak petani di desanya tidak hanya melihat kopi sebagai sumber uang, tetapi juga sebagai warisan. Sesuatu yang harus dijaga agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Ia mengajak warga untuk tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga menjaga kualitas. Menurutnya, tanpa kualitas yang baik, nama liberika Meranti bisa kehilangan daya saingnya.
“Kalau kualitas dijaga, orang akan terus datang mencari kopi kita,” ujarnya.
Tantangan yang belum selesai
Namun perjalanan liberika tidak sepenuhnya mulus. Infrastruktur terbatas, akses distribusi yang jauh, serta minimnya fasilitas pengolahan masih menjadi tantangan utama. Di banyak tempat, petani masih bergantung pada cara-cara tradisional.
Nyoto menyadari, tanpa dukungan yang lebih luas, potensi besar ini bisa berjalan lambat. Ia berharap pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pihak dapat ikut terlibat dalam pengembangan kopi ini—mulai dari peningkatan produksi, pengolahan pascapanen, hingga perluasan pasar.
“Kalau ini dikembangkan serius, dampaknya bisa besar untuk masyarakat,” katanya.

Coffee Cupping (Dok. Riausky.com)
Identitas yang tumbuh dari tanah gambut
Malam di Dumai semakin larut. Namun cerita tentang Kedabu Rapat belum juga selesai. Di antara uap kopi yang masih mengepul, Nyoto seperti sedang membawa seluruh ruangan itu berpindah ke Pulau Rangsang—ke jalan sempit, ke kebun kopi, ke tanah gambut yang dulu dianggap tidak menjanjikan.
Di sana, di antara kebun yang basah dan udara pesisir yang lembab, tumbuh sebuah identitas yang perlahan menguat.
Di tengah dominasi arabika dan robusta, Kopi Liberika Meranti tumbuh dengan caranya sendiri. Tidak terburu-buru, tidak seragam, tetapi meninggalkan jejak rasa yang pelan-pelan membuat orang ingin kembali mencicipinya lagi.
Kopi Liberika Meranti punya karakter yang cukup berbeda dibanding kopi yang lebih umum seperti Arabika atau Robusta. Perbedaannya terlihat dari jenis tanaman, rasa, aroma, cara tumbuh, sampai kandungan kafeinnya.
Berikut perbandingannya:

Jadi Andalan Baru Kopi Indonesia
Di tengah perubahan iklim yang kian tak menentu, peta kopi dunia perlahan mulai bergeser. Varietas yang selama ini mendominasi pasar global—arabika dari dataran tinggi yang sejuk, dan robusta yang lebih tahan panas—kini menghadapi tekanan baru akibat kenaikan suhu dan pola cuaca yang tidak stabil. Dari situ, perhatian mulai mengarah pada satu varietas yang lama berada di pinggir peta: liberika.
Bagi Abdurrahman Farhumi, pendiri ErberCoffee, pergeseran ini bukan sekadar tren, melainkan sinyal perubahan yang lebih besar. Ia melihat Kopi Liberika Meranti sebagai salah satu contoh paling nyata bagaimana komoditas yang dulu kurang diperhitungkan kini mulai menemukan momentum.
“Perubahan iklim yang semakin nyata telah berdampak pada produktivitas kopi dunia. Kondisi ini akan menggeser peta komoditas kopi global, dan membuka ruang bagi varietas yang selama ini kurang mendapat sorotan, termasuk liberika,” ujarnya.
Di Kepulauan Meranti, Riau, pernyataan itu menemukan bentuknya di lapangan. Di atas lahan gambut yang selama ini dianggap marginal untuk pertanian intensif, kopi liberika justru tumbuh dengan relatif stabil. Akar-akarnya tidak menuntut tanah tinggi dan dingin; ia beradaptasi dengan panas, kelembapan, dan kondisi tanah yang asam.
Keunggulan itu membuat liberika berbeda dari dua saudaranya yang lebih populer. Arabika membutuhkan iklim sejuk yang spesifik, sementara robusta masih memiliki batas toleransi terhadap perubahan ekstrem. Liberika, sebaliknya, justru mampu bertahan di wilayah dataran rendah yang panas dan lembap—termasuk kawasan gambut seperti Meranti.

Q Grader asal Pekanbaru, Abdurrahman Farhumi dari Erber Coffee dan Umar Roastery. Bersama seorang barista bernama Imam Makarim dan tim membawa kopi Liberika di panggung kompetisi nasional Indonesia Coffee Competition (ICC) Brewers League 2025 Regional 3 atau Kingsland Brewers Cup. Foto: SM News
Bagi Abdurrahman, inilah titik penting yang sering terlewat: kemampuan adaptasi. Di saat banyak komoditas pertanian mulai tertekan oleh iklim, liberika justru membuka kemungkinan baru.
Lebih jauh, kopi ini juga membawa dimensi ekologis yang tidak bisa diabaikan. Lahan gambut yang selama ini rentan degradasi dapat dimanfaatkan tanpa harus mengubah total ekosistemnya. Dengan pengelolaan yang tepat, keberadaan kopi liberika bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Namun yang membuatnya semakin menarik adalah dinamika pasar yang mulai terbentuk. Kopi Liberika Meranti kini telah menembus beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina. Permintaan datang, bahkan dalam jumlah yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi oleh produksi yang ada.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan itu justru menjadi penanda peluang. Tantangan utama bukan lagi pada minat pasar, melainkan pada kapasitas produksi di tingkat petani dan pelaku usaha lokal. Di sinilah pekerjaan rumah terbesar berada: meningkatkan kualitas budidaya, memperkuat rantai pasok, dan menjaga konsistensi hasil.
Di dalam negeri, liberika juga mulai menemukan ceruknya sendiri. Kemampuannya tumbuh di tanah gambut yang asam menjadikannya pilihan strategis untuk wilayah-wilayah yang selama ini kurang tersentuh pengembangan kopi skala besar. Ini membuka ruang baru bagi diversifikasi pertanian di kawasan pesisir dan rawa-rawa Indonesia.
Dampaknya tidak berhenti di kebun. Di tingkat masyarakat, kopi ini perlahan membentuk ekosistem ekonomi baru. Lapangan kerja muncul, nilai tambah produk meningkat, dan petani mulai memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan komoditas yang rentan fluktuasi harga.
Di titik ini, Kopi Liberika Meranti tidak lagi berdiri sebagai “kopi alternatif”. Ia mulai dipandang sebagai kandidat serius dalam percakapan tentang masa depan kopi Indonesia—sebuah komoditas yang tidak hanya bertahan di tengah krisis iklim, tetapi juga tumbuh di dalamnya.
Kepulauan Meranti Masih Mendominasi Pasar Liberika
Di Riau, kopi perlahan bukan lagi sekadar komoditas sampingan di sela-sela kelapa dan sawit. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mulai menempati ruang yang lebih serius dalam peta ekonomi daerah—didorong oleh satu varietas yang tumbuh di tanah yang tidak biasa: Kopi Liberika Meranti.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat produksi kopi pada 2024 berada di kisaran 3.400 hingga 3.800 ton. Angka itu menggambarkan sektor yang relatif stabil, meski tetap berjalan di atas tantangan klasik: iklim yang berubah-ubah, keterbatasan produktivitas, dan karakter lahan yang tidak selalu bersahabat. Namun arah pergerakannya cenderung naik. Pada tahun berikutnya, produksi diproyeksikan meningkat ke kisaran 3.900 hingga 4.200 ton, sejalan dengan dorongan pemerintah daerah untuk menguatkan komoditas ekspor non-sawit.
Di balik angka-angka itu, ada lanskap yang lebih konkret: kebun-kebun kopi rakyat yang tersebar, terutama di wilayah pesisir dan gambut. Dari semua daerah penghasil, Kepulauan Meranti berdiri sebagai penyumbang terbesar. Lebih dari 60 persen produksi kopi Riau berasal dari wilayah ini—dan sebagian besar adalah kopi liberika, varietas yang dulunya dianggap “pinggiran”, kini justru menjadi identitas utama.
Di Meranti, kopi tumbuh di tanah yang tidak banyak dipilih komoditas lain. Gambut yang lembap, asam, dan kadang dipengaruhi intrusi air laut, justru menjadi rumah bagi liberika. Di tempat lain, kondisi seperti ini sering dianggap keterbatasan. Di sini, ia berubah menjadi keunggulan.
Di posisi berikutnya, Kabupaten Indragiri Hilir membangun pola yang berbeda. Kopi tidak berdiri sendiri, melainkan ditanam berdampingan dengan kelapa dalam sistem tumpang sari. Pendekatan ini bukan hanya soal efisiensi lahan, tetapi juga cara petani membaca ulang potensi pesisir yang luas namun belum sepenuhnya optimal.
Sementara itu, Kabupaten Bengkalis mulai memanfaatkan lahan gambut yang sebelumnya kurang produktif. Di wilayah ini, kopi menjadi salah satu cara mengubah lanskap ekonomi—dari lahan yang dianggap “tidak terlalu bernilai” menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Di tengah perkembangan itu, Kopi Liberika Meranti mulai mendapatkan tempat yang lebih luas, bahkan hingga pasar internasional. Karakter rasanya yang khas—dengan aroma unik dan kadar kafein yang lebih rendah—membuatnya memiliki segmen tersendiri di tengah dominasi arabika dan robusta. Ia tidak bersaing langsung, tetapi membentuk jalur pasarnya sendiri.
Dorongan dari pemerintah daerah ikut memperkuat arah ini. Program pembinaan petani, peningkatan kualitas bibit, hingga pendampingan pascapanen terus dilakukan untuk menjaga mutu produksi. Fokusnya bukan hanya meningkatkan jumlah, tetapi juga memastikan kopi Riau bisa bersaing di pasar yang menuntut konsistensi dan kualitas.
Di balik strategi dan angka produksi, ada satu hal yang perlahan mulai terbentuk: ekosistem kopi Riau yang lebih percaya diri. Dari kebun-kebun kecil di Meranti hingga pasar ekspor, kopi tidak lagi dipandang sebagai hasil sampingan, tetapi sebagai komoditas yang sedang menegaskan posisinya.
Dan di antara semua itu, liberika tetap menjadi wajah yang paling khas—tumbuh di gambut, bertahan di pesisir, dan perlahan mengangkat nama Riau ke percakapan kopi yang lebih luas.
Tantangan Pengembangan Kopi Liberika Meranti
Di Kepulauan Meranti, kopi Liberika tumbuh di atas lahan yang tidak biasa. Bukan dataran tinggi yang sejuk dan berkabut, melainkan tanah gambut yang lembap, kadang asam, dan tak jarang dipengaruhi pasang surut air laut. Di tengah lanskap yang keras itu, kopi ini bertahan—bersama para petani yang juga belajar bertahan.
Namun di balik potensi besar sebagai kopi khas Indonesia dari lahan gambut, perjalanan Kopi Liberika Meranti tidaklah sederhana. Ia menyimpan tantangan panjang yang merentang dari kebun hingga ke cangkir konsumen.
Di tingkat budidaya, banyak kebun kopi masih dikelola secara tradisional. Petani mengandalkan pengetahuan turun-temurun, sementara kebutuhan akan teknik budidaya yang lebih tepat di lahan gambut belum sepenuhnya terpenuhi. Padahal, karakter tanah gambut yang unik menuntut perlakuan khusus agar tanaman tetap produktif dan berumur panjang.
Cuaca yang kian tak menentu memperumit keadaan. Hujan yang datang tak pada waktunya, musim panas yang lebih panjang, hingga ancaman banjir dan kekeringan di wilayah pesisir membuat petani harus terus menyesuaikan diri. Bagi mereka, perubahan iklim bukan sekadar istilah global—tetapi realitas harian yang memengaruhi hasil panen.
Tantangan itu berlanjut di tahap pascapanen. Di banyak tempat, proses pengolahan kopi masih bertumpu pada peralatan sederhana. Dari pemetikan, fermentasi, pengeringan, hingga penyimpanan, setiap tahap sangat menentukan kualitas akhir. Namun tidak semua pelaku usaha memiliki akses pada teknologi atau pengetahuan standar kopi spesialti. Akibatnya, mutu produk belum selalu konsisten.
Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur pengolahan juga menjadi penghambat. Kapasitas produksi sering kali terbatas, efisiensi belum optimal, dan modernisasi alat masih menjadi kebutuhan yang belum merata. Padahal, untuk masuk ke pasar yang lebih luas, kualitas dan konsistensi adalah kunci utama.
Masalah lain muncul di ranah pemasaran. Meski memiliki cita rasa khas—sering disebut bernuansa buah nangka dengan sentuhan cokelat—Kopi Liberika Meranti belum sepopuler arabika atau robusta. Identitasnya sebagai kopi khas masih perlu diperkuat agar mampu bersaing di pasar nasional maupun global. Branding, promosi, dan cerita asal-usul menjadi bagian penting yang masih terus dibangun.
Di pasar kopi spesialti yang semakin kompetitif, tuntutan semakin tinggi. Konsumen tidak hanya mencari rasa, tetapi juga jejak asal, konsistensi, dan keberlanjutan. Tanpa itu, kopi dari Meranti akan sulit menembus segmen premium yang lebih luas.
Namun tantangan terbesar mungkin justru ada pada manusia yang merawatnya. Regenerasi petani menjadi persoalan yang kerap mengemuka. Generasi muda di desa-desa perkebunan banyak yang mulai menjauh dari dunia pertanian, melihatnya sebagai jalan hidup yang penuh ketidakpastian ekonomi. Jika tren ini berlanjut, keberlanjutan kopi Liberika Meranti bisa ikut terancam.
Meski demikian, harapan belum hilang. Di balik semua keterbatasan itu, Kopi Liberika Meranti tetap memiliki modal penting: kemampuan tumbuh di lahan gambut dan karakter rasa yang unik. Dengan dukungan teknologi, pendampingan petani, akses pembiayaan, serta kolaborasi berbagai pihak, kopi ini masih memiliki peluang untuk naik kelas.
Bagi Meranti, kopi bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari identitas wilayah, dari cara masyarakatnya bertahan di tengah alam yang terus berubah. Dan seperti halnya tanah gambut yang menyimpan banyak lapisan kehidupan, perjalanan kopi ini masih panjang—dan belum selesai.

Bank Indonesia Provinsi Riau bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti serta komunitas pecinta kopi Riau di bawah naungan Specialty Coffee Association of Indonesia menyelenggarakan kegiatan pemetaan komoditas unggulan Kopi Liberika Meranti (Dok. Bank Indonesia)
Peran Bank Indonesia Provinsi Riau
Bank Indonesia menunjukkan perhatian yang serius terhadap pengembangan potensi Kopi Liberika Meranti sebagai salah satu komoditas unggulan daerah yang memiliki nilai ekonomi dan identitas khas wilayah pesisir gambut. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan sektor perkebunan dan UMKM kopi lokal, pada tanggal 20–21 Januari 2026 Bank Indonesia Provinsi Riau bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti serta komunitas pecinta kopi Riau di bawah naungan Specialty Coffee Association of Indonesia menyelenggarakan kegiatan pemetaan komoditas unggulan Kopi Liberika Meranti.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam upaya mengidentifikasi potensi, karakteristik, hingga rantai nilai Kopi Liberika Meranti secara menyeluruh. Selain itu, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas produk, pengembangan UMKM berbasis kopi, serta memperkuat daya saing petani dan pelaku usaha kopi lokal agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi coffee cupping atau uji cita rasa kopi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pegiat kopi, roaster, hingga praktisi kopi spesialti. Pada sesi ini dilakukan pengenalan dan penilaian terhadap profil rasa, aroma, tingkat keasaman, body, hingga karakter akhir (aftertaste) dari Kopi Liberika Meranti. Penilaian tersebut kemudian dibandingkan dengan lima kopi liberika lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu Liberika Wonosalam, Semendo, Gunung Prau, Gorontalo, dan Jawa Barat.
Melalui proses cupping tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai karakter khas Kopi Liberika Meranti yang dikenal memiliki aroma unik, karakter fruity dan smoky, serta sensasi rasa yang berbeda dibandingkan jenis kopi lainnya. Kegiatan ini juga menjadi sarana penting untuk memetakan potensi kualitas kopi lokal sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan standar mutu, penguatan identitas produk, serta strategi branding Kopi Liberika Meranti sebagai kopi khas lahan gambut yang memiliki keunikan tersendiri.
Setelah kegiatan cupping, tim melanjutkan agenda dengan meninjau langsung proses pengolahan kopi yang dilakukan oleh masyarakat dan pelaku usaha setempat. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat rantai produksi dari hulu hingga hilir, mulai dari proses panen, pengupasan kulit kopi, fermentasi, pengeringan, hingga proses roasting dan pengemasan produk akhir. Dari hasil peninjauan tersebut terlihat bahwa pengolahan Kopi Liberika Meranti terus berkembang dan mulai menerapkan praktik pengolahan yang lebih baik guna menghasilkan kualitas kopi yang konsisten.
Tim kemudian melanjutkan kunjungan ke perkebunan Kopi Liberika Meranti yang dikembangkan oleh Kelompok Tani Indah di Pulau Rangsang. Pada kawasan perkebunan tersebut ditemukan varietas kopi liberika unggulan, yaitu LIM 1 dan LIM 2, yang merupakan varietas khas daerah setempat. Varietas ini telah beradaptasi secara alami dengan kondisi lahan gambut dan iklim pesisir di wilayah Kepulauan Meranti. Keberadaan LIM 1 dan LIM 2 menjadi bukti bahwa Kopi Liberika Meranti memiliki kekuatan dari sisi karakter wilayah (terroir) yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Bank Indonesia Provinsi Riau bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti serta komunitas pecinta kopi Riau di bawah naungan Specialty Coffee Association of Indonesia menyelenggarakan kegiatan pemetaan komoditas unggulan Kopi Liberika Meranti (Dok. Bank Indonesia)
Selain memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lahan gambut, varietas tersebut juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah. Hal ini karena Kopi Liberika Meranti tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan lahan gambut secara produktif dan ramah lingkungan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim juga mengunjungi sentra industri pengolahan Kopi Liberika Meranti yang berada di kawasan yang sama. Di lokasi ini, ceri kopi hasil panen petani dikumpulkan untuk melalui berbagai tahapan pengolahan, mulai dari sortasi, fermentasi, pencucian, pengeringan, hingga pengemasan menjadi produk kopi bubuk maupun green beans. Sentra industri ini menjadi bagian penting dalam mendukung rantai pasok kopi lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah produk sebelum dipasarkan.
Produk Kopi Liberika Meranti yang dihasilkan saat ini tidak hanya dipasarkan di pasar domestik, tetapi juga telah menjangkau pasar ekspor ke negara tetangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kopi Liberika Meranti memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai komoditas kopi spesialti Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.
Melalui kegiatan pemetaan komoditas unggulan ini, diharapkan lahir berbagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem kopi di Kepulauan Meranti, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan kualitas produksi, pengembangan UMKM, hingga perluasan akses pasar. Dengan dukungan berbagai pihak, Kopi Liberika Meranti diharapkan mampu menjadi identitas daerah sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Kepulauan Meranti. (*)