Siak, BSP dan Harapan Besar Orang Riau Mengelola Pertambangan Minyak di Negeri Sendiri

Kamis, 09 Juli 2026 | 07:21:49 WIB
Logo BSP

MELIHAT  sebuah foto Bupati Siak Dr Afni Zulkifli bersama Direktur baru PT Bumi Siak Pusako (BSP) Robi Junipa bertemu mantan Bupati Siak Arwin AS, hati dan pikiran saya terkenang dengan perjalanan tahun 2021, atau  25 tahun yang lalu.

Saat itu, saya masih seorang jurnalis muda di Harian Riau Pos, di usia yang masih relatif muda, yakni 25 tahun dan berada di sebuah kabupaten yang masih sangat baru berdiri,  Siak di usia 2 tahun.

Belum ada prasarana apapun layaknya Siak saat ini. Kantor bupati Siak masih terbuat semi permanen dan umumnya berbahan kayu. Lantai kantor bupati yang kala itu diinjak oleh Bupati Siak Arwin dan Wakil Bupati Syamsuar masih melengkung dan berderit setiap kali orang melintas karena terbuat dari kayu.

Gedung kantor Bupati Siak pertama sekali yang terletak membelakangi Sungai Siak itu, yang saat ini telah beralih menjadi taman kota, bagi saya adalah sebuah legenda, di mana, di sanalah banyak cita-cita besar terlahir. Salah satunya adalah PT Bumi Siak Pusako (BSP).

Di awal pendiriannya, orang belum melihat keberadaan Bumi Siak Pusako (BSP) sebagai entitas bisnis yang layak diperhitungkan. Karena, pada saat itu, hanya ada dua entitas bisnis besar industri perminyakan yang diketahui ada di Riau adalah PT Caltex Pacific Indonesia yang kemudian beralih manajemen dan nama menjadi PT Chevron Pacific Indonesia  yang berbasis di Duri dan Rumbai serta PT Pertamina  di Dumai.

Dan blok minyak yang saat ini dikelola oleh PT Bumi Siak Pusako (BSP) adalah eks blok minyak yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang dalam bahasa teknisnya disebut Blok Coastal Plains Pekanbaru (CPP).

Apa itu blok CPP, sebagai seorang jurnalis muda di daerah, dengan kondisi akses informasi yang masih sangat terbatas (belum ada akses internet, belum paham apa itu mesin pencarian google,red) dan mengirimkan berita masih menggunakan faksimile,  saya sendiri pun belum terlalu paham apa itu Blok CPP.

Namun kala itu, nama CPP sudah diketahui merupakan salah satu blok pertambangan minyak di wilayah Riau yang akan habis masa kontraknya dari PT Chevron. Dan saat itu, masyarakat di Riau sedang riuh dengan tuntutan supaya  anak daerah  bisa terlibat dalam mengelola usaha pertambangan minyak.

Dan pembahasan tentang berdirinya PT Bumi Siak Pusako lebih banyak dilakukan di Pekanbaru oleh tokoh-tokoh Riau, termasuk Gubernur Riau kala itu, Saleh Djasit.

Jadi, memang, semenjak awal, berdirinya BPS ini tidak terlepas dari besarnya harapan seluruh tokoh-tokoh Riau supaya bisa berperan dalam mengelola blok minyak yang selama ini hanya terlintas seperti mimpi. Di sana, sejumlah kepala daerah yang wilayahnya berada di sekitar area operasi CPP berkali-kali melakukan pertemuan hingga akhirnya berdiri BSP.

Dan saya sangat sering mendapati Bupati Arwin dan Wakil  Bupati Siak Syamsuar maupun Sekretaris Daerah kala itu melakukan rapat-rapat secara marathon  di Pekanbaru. Dan di sana, saya cukup intens memberitakan tentang pengelolaan Blok CPP dan PT Bumi Siak Pusako.

Mimpi besar tersebut terwujud dengan berakhirnya masa kontrak kerja Chevron serta beralihnya pengelolaan CPP kepada Badan Operasi Bersama (BOB) Pertamina Hulu- Bumi Siak Pusako pada Agustus 2002.

Mengapa tidak langsung BSP yang mengelola?

Itu tak terlepas dari pada saat itu, masih ada keraguan dari pemerintah pusat kala itu, khususnya melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa dikhawatirkan, perusahaan daerah yang dibentuk belum mampu. Dan perlu ada proses alih kelola yang dilakukan guna memastikan putra putri  Riau mampu berdiri sendiri.

Dan BOB Pertamina Hulu - Bumi Siak Pusako menjadi katalisator dari proses alih teknologi perminyakan pertama yang pernah terjadi di Riau dengan masa kontrak kerja yang diberikan pemerintah selama 20 tahun.

20 tahun berselang, begitu masa kerja kontrak CPP berakhir, pada tahun 2022, pemerintah resmi menyerahkan blok CPP kepada PT BSP. Waktunya pembuktian!

Dinamika dalam berjalannya BSP secara mandiri selaku pengelola blok minyak juga bukanlah hal yang lancar-lancar saja. Karena, memang permasalahan alih teknologi juga tidak hanya menuntut kesiapan sumber daya manusia yang andal, namun juga modal investasi yang tidak sedikit.

Tak jarang produksi BSP merosot karena kerusakan dan kendala teknis yang berujung pada  terkendala peralatan, kemudian naik lagi, hingga kini BSP sendiri telah berusia 24 tahun.

Pada tahun 2022, atau masa terakhir pengelolaan Badan Operasi Bersama (BOB) Pertamina Hulu-BSP, total produksi per tahun di blok CPP besesar Rp3 juta barel. 

Tahun 2023, BSP ditargetkan bisa memproduksi 15.000 BPOD, namun terealisasi sebesar 90 persennya. 

Tahun 2024 tercatat produksi BSP sebesar 5.678 BOPD.

Tahun 2025, dari mesin pencarian saya mendapati produksi minyak bumi PT Bumi Siak Pusako (BSP) sebesar  7.660 barel per day (BOPD). 

Sementara untuk tahun 2026, BSP ditargetkan bisa memproduksi sebanyak 21.000 BPOD.

Bagi saya, keberhasilan dari pengelolaan blok minyak oleh BSP  bukan hanya sekadar angka. Sampai hari ini, saya masih menghidu bagaimana besarnya harapan dan asa dari para tokoh Riau yang saat itu menjadi pemimpin daerah, seperti Saleh Djasit, Herman Abdullah, Arwin AS maupun Syamsuar juga kepala daerah lainnya, termasuk para tokoh masyarakat  agar anak-anak muda Riau bisa berkontribusi dalam mengelola minyak bumi yang merupakan salah satu hasil bumi Riau.

Saat ini, saya memang tidak lagi banyak melihat perjalanan BSP. Yang saya ketahui, setiap melintas menuju ke Bengkalis, saya melintasi Pedada, dan  saya tahu, di sana, bermastautin sebuah perusahaan yang merupakan harapan besar masyarakat Riau kala itu untuk bisa menjadi 'tuan' di negeri sendiri dalam sektor perminyakan.

Apakah BSP kini telah bisa menjadi jawaban atas harapan tersebut, saya kembali tertarik dengan sebuah berita beberapa hari lalu, di mana, Bupati Siak saat ini, Dr Afni Zulkifli yang juga kolega saya selaku Jurnalis di Riau Pos Group 'menantang' manajemen BSP bisa menghasilkan deviden sebesar Rp300 miliar per tahun yang dulu pernah terjadi di masa kepemimpinan Bupati Arwin AS.

Begitu foto Dr Afni bersama Direktur BSP Robi Junipa yang baru dilantik bertemu dengan Arwin AS, berbincang bersama H Syamsuar, saya begitu memahami begitu besar harapan Afni supaya manejemen BSP ke depan memahami hakikat dari tujuan berdirinya BSP.

Bukan saja sebagai entitas bisnis di mana ada ratusan atau ribuan orang bekerja di sana, bisa menghasilkan deviden yang meningkat dari waktu ke waktu, namun juga menjadi sebuah kebanggaan ketika anak-anak Riau bisa 'membuktikan' bahwa mereka bukan cuma 'tuan', tapi juga sudah mampu mengelola sumber daya alamnya secara baik dan berkelanjutan.

BSP bukan sekadar entitas usaha, namun dia adalah gambaran 'nama baik' dan bukti keberhasilan anak-anak Riau dalam  mengelola sumber daya alamnya.

Buat saya, apa yang dilakukan Bupati Siak, Dr Afni Zulkifli adalah menapaki semangat dari para tokoh. Waktu boleh berlalu, sumber daya alam pun pasti akan habis, namun, anak-anak Riau harus mampu menjadi tuan di negeri sendiri.

Bukan tidak mungkin BSP juga mengelola blok minyak lainnya yang ada di Riau yang sampai saat ini potensinya masih cukup besar. Dan mengelola CPP adalah batu uji yang patut dinanti.

Tahniah  Robi Junipa, semoga sukses memimpin bahtera BSP.****

Penulis Buddy Syafwan/ Jurnalis

Terkini