PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Pemerintah Provinsi Riau bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau menggelar expose desain pembangunan Flyover Simpang Panam. Pembangunan flyover ini sebagai upaya mengatasi kemacetan di kawasan perbatasan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.
Proyek tersebut diproyeksikan menjadi salah satu infrastruktur strategis yang mampu memperlancar arus lalu lintas di simpang empat Jalan HR Soebrantas menuju Kabupaten Kampar, serta jalur Garuda Sakti menuju Kubang Raya. Flyover ini dirancang untuk mengurai kepadatan kendaraan yang selama ini kerap terjadi di Simpang Panam, terutama pada jam-jam sibuk.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau, Yohanis Tulak Todingrara, menjelaskan pola pergerakan kendaraan setelah flyover beroperasi nantinya. Kendaraan dari arah Jalan HR Soebrantas menuju Kabupaten Kampar yang hendak belok ke kiri dapat langsung melintas mengikuti jalur yang tersedia, sedangkan kendaraan yang akan berbelok ke kanan diarahkan mengikuti rambu lalu lintas yang telah disiapkan.
Hal serupa juga akan diterapkan bagi kendaraan dari arah perbatasan Kampar menuju Garuda Sakti. Pengaturan arus lalu lintas tersebut diharapkan mampu mengurangi titik konflik kendaraan sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Secara teknis, panjang penanganan flyover mencapai 644 meter dengan lebar penanganan 40 meter berdasarkan Penetapan Lokasi (Penlok) Provinsi Riau. Dimensi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan lalu lintas serta rencana pengembangan kawasan di sekitar Simpang Panam.
Kepala Balai BPJN Riau tersebut turut mengatakan bahwa flyover tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga akan menjadi identitas baru bagi Provinsi Riau. Menurutnya, unsur budaya Melayu akan dihadirkan melalui desain ornamen yang menghiasi bangunan tersebut.
Selain aspek rekayasa lalu lintas, Yohanis menambahkan bahwa desain flyover juga mengedepankan nilai estetika dengan menghadirkan ornamen berciri khas Melayu. Kehadiran elemen budaya tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas lokal sehingga flyover tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga landmark baru di Riau.
"Flyover ini nantinya bisa menjadi ikon strategis di Riau. Kami berharap pihak kebudayaan dapat memberikan masukan terkait ornamen Melayu yang akan dibuat di flyover ini," ujar Yohanis di Kantor Gubernur Riau, Rabu (22/7/2026).
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menuntaskan proses pembebasan lahan sebagai syarat dimulainya pembangunan. Ia menyebutkan target pembebasan lahan diselesaikan paling lambat pada akhir tahun 2026.
"Untuk pembebasan lahan akan kita tuntaskan, paling lama akhir tahun 2026. Kalau ada permasalahan, akan kita bahas langsung ke pusat untuk pengurusannya agar target tahun 2027 pembangunan sudah bisa dimulai," kata SF Hariyanto.
Menutup kegiatan expose, SF Hariyanto menyampaikan apresiasi atas paparan desain yang telah disusun BPJN Riau. Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat terus terjalin.
"Harapan ke depannya, kolaborasi daerah dan pusat ini bisa untuk membangun Provinsi Riau lebih baik," tutupnya.