WASPADA! Cacar Monyet Bermutasi dengan Cepat Tiga Bulan Terakhir

Kamis, 28 Juli 2022 | 09:33:56 WIB
Ilustrasi virus monkey pox./ Sumber Foto: gettyimage/stockphoto/kontekbrothers/rri.co.id

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr Robert Sinto menyebutkan, virus monkeypox atau cacar monyet telah bermutasi dengan sangat cepat dalam tiga bulan terakhir. 

"Data tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti di Amerika Serikat, bahwa di tahun 2022 rata-rata ditemukan 50 mutasi strain baru Monkeypox dibandingkan dengan tahun 2018 hingga 2019," kata Robert pada keterangan pers “Update Perkembangan Cacar Monyet di Indonesia" yang disiarkan secara daring, Rabu (27/7/2022) dikutip dari rri.co.id. 

Mutasi ini, kata Robert, terlihat dari perbedaan karakteristik antara Monkeypox di negara-negara endemis seperti Kamerun, Benin, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Ghana (hanya diidentifikasi pada hewan), Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone, dengan negara-negara nonendemis.

“Itu kenapa muncul hipotesis mengapa tampilan klinisnya agak berbeda dengan tampilan klinis yang kita temukan di Afrika dalam beberapa bulan terakhir,” kata Robert. 

Jika sebelumnya gejala Monkeypox di negara-negara endemis terlihat dari lesi kulit yang menyebar di seluruh tubuh. Namun setelah terjadi mutasi, lesi kulit hanya terlihat di beberapa bagian tubuh saja seperti mulut, telapak tangan, muka dan kaki.

Perbedaan lainnya, Monkeypox di Afrika dapat menginfeksi semua kelompok umur mulai dari anak-anak hingga lansia. Sementara di negara-negara nonendemis, kasus Monkeypox didominasi oleh laki-laki dengan rata-rata usia sekitar 37 tahun.

“Meski banyak dialami laki-laki, namun penyakit ini tidak segmented. Semua orang memiliki potensi tertular virus ini. Saat ini masih dilakukan penelitian oleh WHO,” lanjut dr. Robert.

Selain menyebabkan perubahan karakteristik virus, strain baru Monkeypox diduga juga mengubah cara penularan sehingga lebih cepat menular. Hal ini menyebabkan kenaikan kasus yang signifikan di berbagai negara.

Berdasarkan data WHO per 27 Juli, Monkeypox telah menginfeksi sekitar 17.150 orang di 75 negara dengan tingkat kematian mencapai 11%. Angka ini mulai meningkat pada Juli 2022.(R02)

Sumber Berita: rri.co.id

Terkini