TRAGIS... Tiga Bersaudara Ini Akhiri Hidup dengan Cara Gantung Diri

Jumat, 20 Oktober 2017 | 14:11:57 WIB

LECES (RIAUKSY.COM) – Sungguh teramat tragis akhir hidup tiga bersaudara asal Dusun Curah Watu, Desa Tigasan Wetan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo ini. Bayangkan, mereka sama-sama meninggal dengan cara gantung diri. 

Usai Nur Salim, 50 kakak tertua ditemukan tewas gantung diri pada 2009, Aryono anak kedua ditemukan tewas kendat pada 2011. 

Nah, Kamis petang (19/10) giliran si ragil, Tihab, 45 yang ditemukan gantung diri. Ia ditemukan gantung diri sekitar pukul 17.30 di rumahnya.

Adalah Misa, 60 tetangganya yang pertama kali menemukan kondisi Tihab tewas dengan cara gantung diri. 

“Saya hendak ater-ater makanan ke rumah Tihab. Sebab, adat di desa kami, tiap Kamis malam Jumat saling mengirim makanan antar tetangga,” terangnya seperti dilansir Radar Bromo. 

Saat itu, Misa mendapati rumah Tihab dalam dalam terbuka saat hari sudah gelap. Lantaran itu, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Saat masuk ke ruang tengah itulah, ia dibuat terkejut. 

Sebab, ia mendapati Tihab dalam kondisi tergantung dengan menggunakan tali tampar plastik. “Posisinya menghadap ke barat agak sedikit ke selatan,” terang Misa.

Misa pun langsung berteriak minta tolong. Selanjutnya, datang Untung dan Sali, tetangga lainnya. Mereka pun lantas menurunkan Tihab. “Saya yang melepas ikat tali di lehernya. Sementara, Untung dan Sali menjunjung badannya,” terangnya. 

Sali, 40 mengaku, saat itu kondisi Tihab sejatinya masih hidup. “Kami beri minum air. Namun, air itu tidak bisa diminumnya. Tak lama setelah itu, ia meninggal,” terang Sali. 

Tak berselang lama, petugas polisi pun datang. Kanitreskrim Polsek Leces, Aiptu Rosimin mengatakan, saat pihaknya datang, korban sudah meninggal. 

Menurut Rosimin, korban nekat gantung diri lantaran diduga frustrasi. Sebab, korban selama ini hidup sebatang kara. “Sebelumnya, 2 saudaranya juga meninggal gantung diri. Tihab ini yang ke tiga gantung diri,” terangnya. 

Tepisah, Kapolsek Leces, AKP Sugeng Wikanto mengatakan, pihaknya tak menemukan tanda kekerasan pada korban. Pada kemaluan korban juga mengeluarkan air mani. Petugas Puskesmas  Leces juga menyebut korban meninggal karena bunuh diri. 

Lantaran itu, polisi tak melakukan otopsi pada jenazah korban. “Kami lunak. Tidak harus diotopsi. Tergantung keluarga mau atau tidak diotopsi. Kalau prosedur hukum harus diotopsi, tapi kami juga memperhatiakn pendapat masyarakat,” jelasnya. 

Perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu menjelaskan, bila keluarga menerima tidak mau diotopsi, maka dibuatkan surat pernyataan.

“Namun, bila di suatu hari ditemukan ada indikasi pembunuhan, kuburannya bisa dibongkar. Biayanya nanti dibebankan ke keluarga,” jelasnya. (R02/Jpg)

Terkini