JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Beberapa waktu lalu, pemerintah mulai melonggarkan aturan penggunaan masker jika berada di luar ruangan.
Hal ini karena kasus Covid-19 melandai. Meski demikian, beberapa hari ini terjadi tren kenaikan kasus Covid.
Bahkan disinyalir muncul subvarian baru Omicron BA4 dan BA5 yang keberadaannya cukup meresahkan masyarakat.
Menurut Peneliti dari FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Gunadi, PhD, Sp.BA., tingkat kesakitan varian ini rendah dibanding varian lain.
Hanya saja, subvarian Omicron BA4 dan BA5 tetap harus diwaspadai.
Dikatakan, kini terjadi kenaikan kasus Covid-19 pasca lebaran.
Dibanding pada gelombang sebelumnya, kenaikan kasus kali ini terjadi lebih kurang 30 hari setelah Hari Raya dan ditemukan subvarian BA.4 dan BA.5 di Indonesia.
Rata-rata tidak bergejala Adapun subvarian Omicron BA4 dan BA5 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 6 Juni 2022 dengan diketemukannya 4 kasus.
Keseluruhan kasus adalah pada laki-laki sudah divaksin 2 hingga 3 bahkan booster, dan tiga diantaranya terkena subvarian Omicron BA5 adalah para pelaku perjalanan luar negeri
"Rata-rata mereka ini tidak bergejala dan hanya satu yang mengeluhkan sakit tenggorokan dan merasakan badan pegal-pegal," ujar Gunadi, seperti dikutip dari laman UGM, Kamis (16/6/2022).
Lebih lanjut, ia menjelaskan subvarian Omicron BA4 dan BA5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibanding BA1 dan BA2.
Subvarian baru inipun tidak ada indikasi yang menyebabkan kesakitan lebih parah dibanding varian Omicron lainnya.
Subvarian BA4 dan BA5 dinilai memiliki penurunan kemampuan terhadap terapi beberapa jenis antibody monklonal.
Ia juga memiliki kemungkinan lolos dari perlindungan kekebalan yang disebabkan oleh infeksi varian Omicron.
Selain itu, subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki banyak mutasi yang sama dengan varian Omicron asli tetapi memiliki lebih banyak kesamaan dengan varian BA.2.
"Kedua varian mengandung substitusi asam amino L452R, F486V, dan R493Q dalam spike receptor binding domain dibandingkan dengan BA.2," tuturnya.
Mutasi L452R, yang juga terdeteksi pada varian Delta diperkirakan membuat virus lebih menular dan menghindari penghancuran sebagian oleh sel-sel imun.
Mutasi F486V juga membantu menghindari pengenalan sistem imun.
Gejala varian omicron
Adapun karakteristik varian Omicron rata-rata memiliki tanda-tanda gejala awal seperti: batuk (89 persen) fatigue (65 persen) hidung tersumbat atau rinore (59 persen).
Gejala lainnya: demam (38 persen) mual atau muntah (22 persen) sesak napas (16 persen) diare (11 persen) anosmia atau ageusia (8 persen) "Saat ini terdapat sejumlah kecil kasus BA.4 dan BA.5. Karenanya masih terlalu dini untuk mengetahui secara pasti apakah ada gejala baru yang terkait dengan garis keturunan ini," urainya.
Tata laksana penanganan Covid-19
Sedangkan untuk tata laksana farmakologis sebagaimana penanganan Covid-19 pada umumnya.
Jika tanpa gejala cukup diberikan: vitamin C, D pengobatan suportif pengobatan komorbid dan komplikasi Gejala ringan diberikan: vitamin C, D Favipiravir atau Molnupiravir atau Nirmatrelvir/Ritonavir pengobatan simtomatis pengobatan suportif pengobatan komorbid dan komplikasi Gejala sedang diberikan: vitamin C, D remdesivir atau alternatifnya: Favipiravir Molnupiravir, atau Nirmatrelvir/Ritonavir antikoagulan LMWH/UFH berdasarkan evaluasi DPJP pengobatan simtomatis.(R02)
Sumber Berita: kompas.com