PANGKALAN KERINCI (RIAUSKY.COM) - Kondisi rumah warga Desa Teluk , Kecamatan Kuala Kampar sangat memprihatinkan disamping kumuh juga jauh dari kata layak disebut sebuah rumah.
Ironisnya hampir 10 tahun berlangsung, pemerintah daerah masih belum mampu mengurai persoalan memprihatinkan warga.
Informasi mengejutkan ini disampaikan Bone dan Wajo Warga Teluk kepada awak media, Rabu, 10 Mei 2017 via seluler.
Dan informasi ini juga dibenarkan Darianto Kades Desa Teluk Kecamatan Kuala Kampar. Dijelaskannya kondisi ini sudah berlansung hampir sepuluh tahun belakangan ini sejak para suku laut migrasi kedarat.

Jalan menuju pemukiman warga
"Kondisi ini mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang sangat miskin. Dan bagi kami dapat makan saja sudah cukup dan persoalan rumah dapat sekedar berteduh dari panas dan hujan jadilah, karena inilah kemampuan kami. Kalau dipikir siapa sih yang mau kondisi semacan ini. Dan kami gantungkan nasib kami kepada pemerintah, ya bapak tahu sendirilah," ujar Bone dan Wajo
Informasi yang mirip sama juga disampaikan Darianto, Kepala Desa Teluk, Kecamatan Kuala Kampar.
"Ya, 50 KK masih menempati rumah kumuh, sangat jauh dikatakan sebuah rumah, mereka rata-rata berdomisili didusun tiga, dan sebagian lagi rumah papan beratap daun rumbia dan ditempati dua sampai tiga kepala keluarga (KK) dalam satu rumah, rumah ini agak lumayan lah kalau tingkat rumah didesa," jelas Darianto dan menjelaskan juga rata-rata mereka bersuku bangsa Bugis, Melayu, Suku Akit, dan lain-lain, disini ada 13 suku bangsa.
Menurut keterangan Darianto lagi, warga ini bermata percarian sebagai nelayan, dan petani tradisional.

Mushalla, tempat warga beribadah
"Ya, hampir sebagian besar warga saya berprofesi sebagai nelayan, petani tradisional. Rata-rata per bulananya mereka hanya dapat pemasukan Rp1 juta sampai Rp1,5 juta dari profesi ini. Bapak bisa bayangkan dengan kondisi sulit ini apa yang bisa diperbuat," ujarnya dan ditambah lagi kesulitan bagi petani adanya larangan membakar ladang dari pemerintah. Maka sejauh ini banyak lahan tidur di daerah kami.
Lantas apa harapan kepada pemerintah, Darianto, Bone dan Wajo mencoba mewakili masyarakat berharap agar kedepanya ada perbaikan ekonomi masyarakat.
"Rasa optimis masih tetap ada. Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Pusat diminta meringan tangan meninjau kami disini. Tak hanya sekedar meninjau, harapan bantuan terselip dihati yang paling dalam bagi warga. Tak dapat saya sebutkan bantuan semacam apa, yang jelas sangat banyak, sebab kami memang miskin," jelasnya lesu penuh makna. (R09)

Rumah warga
Listrik Indonesia

