KUALA KAMPAR (RIAUSKY.COM) - Tak kurang dari 60 anak-anak usia sekolah (tingkat SD-SMP) anak dari warga Suku Akit, Suku Melayu, Suku Bugis di Desa Teluk, Kecamatan Kuala Kampar tak mampu menempuh jenjang pendidikan.
Satu yang jadi alasan mereka adalah beban hidup ekonomi keluarga yang semakin berat.
Ironisnya, Pemkab Pelalawan punya program Pelalawan Cerdas namun di lapangan program ini belum mampu mengurai persoalan warga miskin di Desa Teluk.
"Ya, kita mau bilang apa, kondisi ekonomi keluarga miskin ini yang menjadi faktor utama. Hampir saban hari anak-anak usia sekolah ini membantu orang tua, bekerja mencari ikan, terkadang hasil yang mereka dapat hanya lepas untuk beli beras untuk makan dua kali dalam sehari. Beban berat inilah yang jadi faktor utama sehingga anak-anak terbut tidak besekolah dan memilih memikul beban yang bukan tanggung jawab mereka," jelas Darianto Kepala Desa Teluk, Kecamatan Kuala Kampar kepada media ini, Rabu 10 Mei 2017.
Kendati Pemerintah Daerah telah mengratiskan uang sekolah, sambung Kades ini, bukan otomatis anak-anak usia sekolah bisa menempuh jenjang pendidikan dasar.
"Saya pikir kondisi mereka sangat dilema, bersekolah bukan sekedar biaya sekolah saja. Bagi warga lain yang tidak merasakan kesulitan semacam mereka, mungkin berpikir lain, bisa saja yang disalahkan justru orang tuanya, dan bisa saja berpikir tentang kemuan orang tuanya untuk menyekolahkan yang tidak ada, namun saya sangat yakin para orang tua kepingin melihat anak-anaknya bersekolah dan sukses macam anak-anak yang tinggal diperkotaan, namun terkadang yang menyejukkan hati adalah ini bukan nasib anakku," imbuhnya.
Guna menjawab keluhan warga ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan Syafarudin belum berhasil dijumpai. "Bapak keluar bang, jawab para bawahannya," tutupnya. (R09)
Listrik Indonesia

