PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Penerimaan siswa baru tingkat sekolah dasar (SD) akhirnya menuai polemik.
Pembatasan jumlah penerimaan siswa yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru berbuntut ada ratusan anak-anak di Kota Pekanbaru yang harusnya bisa mengenyam pendidikan di sekolah negeri harus gigit jari.
Bahkan banyak dari mereka yang tidak bisa masuk sekolah negeri itu berasal dari anak-anak tempatan.
Kecewa atas kebijakan yang tidak pro rakyat kecil itu,ratusan orang tua didik pun akhirnya melakukan aksi demo di sejumlah sekolah.
Informasi yang dihimpun riausky.com, setidaknya, Senin (10/7/2017) yang menjadi hari pertama masuk sekolah, ada sejumlah sekolah yang sempat menjadi sasaran kekecewaan orang tua.
Aksi paling raksioner dilakukan oleh orang tak dikenal yang menggembok pagar SDN 78 dan SDN 90 Tenayan Raya di Jalan Dahlia Indah.
Tak hanya menggembok, mereka yang mengatasnamakan warga setempat juga membuat sejumlah spanduk berisikan protes atas kebijakan dinas pendidikan yang tidak pro pada kewajiban belajar pada anak usia sekolah dasar.
Akibat pagar sekolah yang dikunci, baik murid dan guru tidak bisa masuk ke dalam sekolah.
Warga benar-benar dibuat geram dengan kebijakan yang sangat tidak simpatik itu. Apalagi, informasi yang diketahui warga, sekolah tersebut masih bisa menampung jumlah siswa lebih layaknya tahun-tahun sebelumnya.
''Tahun lalu sekolah-sekolah ini bisa menampung dua rombongan belajar. Tapi sekarang, aneh, cuma satu rombongan belajar. Kalau anak-anak kami semua bisa masuk tak apa, ini buktinya, anak-anak kami disini banyak yang tak lulus,'' kata salah seorang orang tua yang mengaku kecewa.
Terkait keluhan warga tempatan yang anaknya tak lulus, Kepala Sekolah SDN 90 Pekanbaru, Indrawita menyebutkan pihaknya hanya melakukan penerimaan siswa baru sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dari Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.
Dari informasi yang diterima di lapangan, jumlah siswa yang diterima oleh SDN 90 hanya 36 orang, sementara, jumlah siswa yang mendaftar mencapai ratusan orang.
''Yang mendaftar memang banyak. Tapi kita hanya bisa menerima sebanyak 36 orang saja,'' kata dia.
Sejumlah orang tua yang masih tidak terima dengan kenyataan anak-anak mereka tidak lulus sempat terlihat berdebat dengan pihak sekolah. Tampak berupaya mengamankan situasi sejumlaha aprat kepolisian. (R07)
Listrik Indonesia

