
Penulis: MUKHTAR
RUPAT (RIAUSKY.COM) - Iskandar, pria asli Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau ini begitu semangat dan senang saat bercerita dengan riausky.com tentang kondisi kampung halamannya.
Pria 41 tahun ini mengaku lahir dan besar di salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan negeri jiran Malaysia itu, katanya, apapun kondisinya, ia begitu cinta dengan Rupat.
Kalau dibandingkan beberapa tahun yang lalu, kondisi Pulau Rupat kata Iskandar sudah jauh berubah, pembangunan infrastrukturnya juga cukup baik walaupun belum sesuai dengan harapan masyarakat di sana.
"Jalan-jalan sudah mulai bagus, tak seperti dulu, parah sekali, namun sekarang warga bisa bepergian kemana-mana, tak susah lagi," kata Iskandar dengan logat Melayu-nya yang kental, Rabu, 23 Agustus 2017.
Iskandar yang bermukim di Kelurahan Pergam, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis ini sungguh merasakan nikmatnya pembangunan oleh pemerintah, walaupun terlambat namun ia mensyukuri itu semua.
Rupat yang sekarang menurutnya telah jauh berubah, kalau dulu ia merasa tak memiliki negara, Rupat seolah-olah bukan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun kini situasinya telah berbeda.
Bahkan, karena tak ada arus informasi yang masuk, dulunya warga disana tak pernah tahu siapa Presiden Indonesia.
"Jadi waktu zaman pak Saleh Djasit sebagai Gubernur Riau datang ke Pulau Rupat, saat ia bertanya kepada warga siapa Presiden Indonesia, warga pun menjawab pak Mahatir Mohammad yang saat itu jadi Perdana Menteri Malaysia," ujarnya tertawa ngakak.
Hal ini kata Iskandar wajar, karena pada waktu itu masyarakat hanya menikmati siaran-siaran dari Malaysia yang secara geografis sangat dekat dengan Pulau Rupat, sementara tayangan-tayangan tv lokal tak terjangkau.
Saat itu katanya kondisi memang sangat miris, ayah 5 orang anak ini bercerita bagaimana kondisi pada waktu itu, apa-apa sulit, jalan buruk, akses buruk, penerangan minim. Tak usah cerita signal hape, mau kemana-mana saja susah.
"Apa-apa dari Malaysia, siaran TV dari Malaysia, produk-produk lain dari Malaysia, motor aja dari Malaysia. Makanya jangan heran kalau bertamu ke rumah orang Rupat, terutama saat lebaran, yang disuguhi pasti munuman dan makanan dari negeri jiran," terangnya.
Ia pun mengakui, memasang bendera Indonesia merah putih saat Agustusan baru beberapa tahun terakhir, karena ia merasa belum merdeka dan belum menjadi bagian dari Indonesia karena minimnya perhatian pemerintah.
"Baru beberapa tahun ini lah pasang bendera, dulu tak pernah pasang, tapi tak pernah juga ada yang negur," ujar Iskandar.
Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) ini juga bercerita bagaimana dulu masyarakat berkomunikasi sebelum operator telekomunikasi melayani kebutuhan mereka di pulau itu.
Katanya, pertama kali dulu warga mengenal orari, alat komunikasi ini lah dulu yang dipakai, meski terbatas, tapi cuma alat ini satu-satunya yang ada pada waktu itu.
"Jadi kami yang di Pulau Rupat ini komunikasi pakai orari waktu itu, lumayan lah," katanya.
Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat pun mulai mengenal handphone alias hape, tapi tak mudah, harganya waktu itu selangit, saking mahalnya banyak yang tak mampu membeli, apalagi ekonomi warga juga tak bagus-bagus amat.
"Saya ingat pertama kali beli hape harganya sangat mahal, saya lupa berapa, namun kalau tak salah, untuk kartu perdana saja waktu itu belinya Rp700 ribu, minimal ngisi pulsa Rp200 ribu," cerita Iskandar.
Meski mahal, namun untuk mendapatkan fasilitas berkomunikasi yang baik, mau tak mau, warga pun harus merogoh kocek dalam-dalam.
Kondisi itu berlangsung cukup lama, sampai kemudian Telkomsel hadir di Pulau Rupat, sejumlah tower pun kini telah berdiri kokoh, walaupun belum menjangkau semua wilayah Pulau Rupat, namun cerita Iskandar, komunikasi sudah cukup lancar, memang ada juga kadang hilang timbul sinyalnya.
Namun ia bersama warga bersyukur keberadaan Telkomsel banyak membantu warga di Pulau yang memiliki luas lebih kurang 1.500 km2 dan dihuni sekitar 47.000 jiwa penduduk itu.
"Kalau saya komunikasi lancar, karena rumah tak jauh dari tower, kalau mau bagus ya harus dekat-dekat tower karena jangkauannya masih terbatas, tapi beberapa daerah masih sulit," katanya.
Hadirnya Telkomsel membuat masyarakat seperti merdeka dan serasa berada di Indonesia yang sebenarnya, dengan jaringan yang cukup baik, warga bisa berkomunikasi dengan cepat, baik sesama warga pulau rupat maupun yang ada di luar pulau.
Ia pun mengaku tak sulit berkomunikasi dengan dua anaknya yang kini menempuh pendidikan di kota Yogyakarta, setiap saat pun ia bisa berkomunikasi.
Untuk urusan pekerjaan, Iskandar juga merasa sangat terbantu, karena kini segala sesuatunya bisa ia kerjakan tanpa harus jauh-jauh ke Ibukota Kabupaten Bengkalis, cukup berkemunikasi lewat hape, semuanya jadi lancar.
Iskandar yang sehari-hari berkebun dan juga pemborong ini merasa begitu bersyukur, pulau yang kini bisa dijangkau dengan penyeberangan Roro Dumai-Rupat dengan waktu tempuh 20-30 lebih ini, kini terasa lebih hidup dan lebih memberi harapan bagi masyarakatnya.
"Ya sekarang lah baru merasakan Indonesia hadir di pulau ini, sekarang apa-apa lebih mudah, kebutuhan sehari-hari tak sulit, tak harus ke Dumai ataupun Bengkalis, atau ke negara tetangga," katanya.
Di balik rasa syukur itu, tetap tersirat keiinginan dirinya agar pemerintah lebih memberikan perhatian yang lebih besar pada warga yang berada di pulau ini. Karena pembangunan sekarang masih jauh dari harapan warga.
Pulau yang juga ditempuh dengan perjalanan laut selama 2 jam dari dan ke ibukota Kabupaten ini masih menunggu perhatian dari kita semua.
Namun yang pasti, sejak ada Telkomsel, warga merasa sangat terbantu sekali, karena bagaimana sarana komunikasi menjadi alat vital dalam aktivitas sehar-hari.
"Kalau dulu hape mungkin barang mewah, tapi kalo sekarang udah jadi kebutuhan, jadi kalau orang kampung punya hape canggih, ya biasa aja keliatannya," kata Iskandar.

Salah satu tower telekomunikasi yang ada di Pulau Rupat
Jangkauan Sudah 75 Persen
Sementara itu, General Manager Sales Region Sumbagteng, Ihsan menegaskan kalau saat ini secara umum jaringan Telkomsel sudah mencakup daerah pelosok dan perbatasan Riau dengan negeri jiran dengan market share mencapai 75 persen.
Kondisi ini katanya bisa dilihat di wilayah-wilayah perbatasan RI-Malaysia seperti di wilayah Bengkalis, Nongsa-Batam, Lagoi- Tj.Pinang dan juga Natuna dan daerah lainnya.
Namun tidak hanya di wilayah perbatasan, Ihsan menyebut sejumlah daerah pelosok diakuinya hingga saat ini memang belum ada signal Telkomsel.
Beberapa daerah diantaranya sebagian desa-desa di pelosok daerah Rohul, Indragiri Hilir dan juga Indragiri Hulu.
Hal ini menurutnya disebabkan karena akses yang masih terbatas, seperti tidak adanya jaringan listrik maupun PLN serta akses transport yang harus memakai satelit’
'Makanya, untuk mengatasi masalah tersebut, Telkomsel menargetkan setiap tahun untuk membuka akses jaringan di daerah pelosok," jelasnya.
Seperti tahun 2017 ini Telkomsel membuka akses jaringan di daerah terpencil Beto Dusun Bagan Ubi, Kepenghuluan Bangko Mas Raya di Rohil, Desa Pongkai di Kabupaten Kampar dan juga Desa Kepenuhan Tengah di Kabupaten Rokan Hulu.
Untuk mendukung target-target tersebut, Telkomsel menargetkan bangun 22 BTS baru di daerah pelosok wilayah Riau.
Namun demikian, Ihsan mengakui, untuk merealisasikan target itu tidak lah mudah, apalagi melihat kondisi geografis wilayah-wilayah di Riau.
"Kendala utama yang dihadapi Telkomsel untuk membuka akses telekomunikasi di wilayah perbatasan antara lain akses infrastruktur ke lokasi yang masih terbatas, ketersediaan sarana PLN dan perizin pendirian site," terang Ihsan.
Walaupun sulit, namun Telkomsel optimis bisa mewujudkan itu semua, apalagi pihaknya punya komitmen yang kuat untuk dapat terus menambah cakupan jaringan di daerah pelosok tiap tahunnya dan diselaraskan dengan program pemerintah dalam membuka akses daerah terpencil.
"Dukungan pemerintah daerah terhadap upaya Telkomsel membuka akses jaringan di telekomunikasi di Riau dengan mempermudah proses perizinan, site acquisition dan support sarana pendukung site," harapnya Ihsan.
Program Merah Putih
Seperti diketahui juga, secara nasional Telkomsel terus melakukan pembangunan infrastruktur jaringan hingga ke pelosok, termasuk di wilayah-wilayah berpenduduk yang belum memperoleh akses telekomunikasi.
Tahun ini rencananya Telkomsel akan membangun sebanyak 63 Base Transceiver Stations (BTS) di lokasi-lokasi pelosok melalui program Merah Putih.
Sebanyak 63 BTS Merah Putih yang akan digelar Telkomsel pada tahun ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti di NTT (16 BTS), NTB (7 BTS), Maluku (11 BTS), Sulawesi (21 BTS), Papua (5 BTS), dan Kepri (3 BTS).
Hadirnya 63 BTS baru di lokasi-lokasi tersebut diharapkan akan mampu melayani kebutuhan komunikasi dari sekitar 120.000 warga masyarakat yang sebelumnya memiliki kesulitan dalam mengakses layanan telekomunikasi.
Sejak diluncurkan pertama kali di tahun 2008, proyek Telkomsel Merah Putih telah berhasil membuka jaringan di sekitar 450 lokasi dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia, yang terus ditingkatkan layanannya dari sisi kualitas dan kapasitas.
Saat ini telekomunikasi tidak hanya menjadi kebutuhan utama masyarakat di kota besar namun juga hingga ke pelosok negeri.
Lewat program Merah Putih, Telkomsel menerapkan teknologi berkonsep remote solution system yang dinamakan: Very Small Aperture Terminal-Internet Protocol (VSAT-IP) yang berbasis satelit ditambah dengan teknologi power supply yang menggunakan solar panel system.
Teknologi ini merupakan solusi layanan komunikasi yang cocok untuk diterapkan di daerah terpencil dengan infrastruktur yang sangat terbatas dan kondisi geografis yang sangat ekstrim, seperti pedesaan dan wilayah terdepan Indonesia.
Dengan diimplementasikannya teknologi ini, pelanggan dapat menikmati layanan suara, SMS, dan data dengan kualitas yang memadai.
Saat ini, Telkomsel mencatat memiliki 178 juga pelanggan di Indonesia dan menempat dirinya sebagai operator seluler terbesar di Tanah Air.
Guna menjamin layanan jasanya, Telkomsel sudah membangun setidaknya 146.000 BTS yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk juga di daerah terpencil dan pulau terluar serta daerah perbatasan negara.
Saat ini, Telkomsel terus mengembangkan bisnis digital, diantaranya Digital Advertising, Digital Lifestyle, Mobile Financial Services, dan Internet of Things. Untuk melayani kebutuhan pelanggan, Telkomsel menggelar call center 24 jam dan layanan GraPARI yang tersebar di seluruh Indonesia. (*)
Listrik Indonesia

