Organisasi Ini Bantah Pungutan Rp25.000 di Pasar Pagi Arengka, Adanya Cuma Rp11.000 Itu pun untuk...

Organisasi Ini Bantah Pungutan Rp25.000 di Pasar Pagi Arengka, Adanya Cuma Rp11.000 Itu pun untuk...
Pengurus FKPP Pasar pagi Arengka saat memberi klarifikasi.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Ramli Syahputra selaku Ketua Forum Komunikasi Pedagang Pasar (FKPP), Pasar Pagi Arengka secara tegas membantah isu yang berkembang tentang adanya pungutan liar (pungli) sebesar Rp 25 ribu terhadap pedagang setiap harinya.

"Kita nyatakan bahwa itu tidak benar. Apalagi sampai Rp 25 ribu per pedagang setiap harinya," tegas dia.

Ia menuturkan, adapun pungutan yang dilakukan hanya sebesar Rp 11 ribu per hari. Dengan rincian untuk uang pemuda, lampu, dan kebersihan. Itu pun diakuinya, sudah sesuai dengan kesepakatan bersama seluruh pedagang kaki lima di Pasar Pagi Arengka.

Bahkan isu yang lebih parah dan tidak sesuai dengan fakta dan realita di  lapangan disebutkan pria yang juga akrab disapa Buyung ini, uang pungli yang didesas-desuskan tersebut juga disetor kepada beberapa oknum petugas dari Disperindag dan Satpol PP.

Ramli menilai, bisa jadi isu itu sengaja disebarluaskan untuk menguatkan upaya penggusuran yang dilakukan Satpol PP sejak 4 hari belakangan ini.

"Katanya memang salah satu alasan penggusuran karena adanya aktivitas pungli itu. Tapi sekali lagi kita tegaskan, tidak ada pungli di pasar ini (Pasar Pagi Arengka)," ucapnya seperti dilaporkan tribunpekanbaru.

Ia yang mewakili ratusan pedagang kaki lima di kawasan Pasar Pagi Arengka juga menyesalkan tindakan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui Satpol PP dalam melakukan penggusuran terhadap lapak-lapak mereka.

Terlebih menurut pedagang, dalam aksi penertiban yang dilakukan tersebut, ada petugas yang bertindak secara arogan.

Mereka menyebutkan, bahkan salah seorang petugas sempat mengeluarkan senjatanya dalam proses penggusuran yang dilakukan.

Ia juga mengaku, pihaknya tidak menerima pemberitahuan terkait akan adanya rencana penggusuran tersebut sebelumnya.

"Kita tidak ada dapat pemberitahuan. Tiba-tiba datang main gusur saja.
 Ada pula yang pakai mengeluarkan senjata. Memangnya kita penjahat. Kita semua di sini hanya berjualan untuk menyambung hidup saja kok. Kita juga kalau memang diminta pindah, kita kooperatif," sebut dia.

Ia melanjutkan, Pemko Pekanbaru dibawah kepemimpinan Firdaus seharusnya menyediakan lahan baru bagi mereka untuk tetap dapat berjualan. Tidak hanya sekedar main gusur seperti yang sudah dilakukan 3 hari belakangan.

"Jadi jangan hanya main gusur saja, kalau tidak ada solusi sesudah itu, lalu nasib kita para pedagang kecil ini seperti apa, tolong diperhatikan juga," katanya.

Lebih jauh Buyung bercerita, saat ini sekitar 300 orang pedagang di Pasar Pagi Arengka kini terpaksa tak bisa berjualan. Mereka kebingungan lantaran tak tahu hendak berjualan di mana lagi.

Sementara itu, Ketua FKPP Kota Pekanbaru, Revelino menyatakan, pihaknya akan mencoba berkoordinasi terkait hal ini secara langsung dengan Walikota Pekanbaru.

"Biasanya sebelum dilakukan penggusuran, pihak Pemko selalu berkoordinasi dengan pihak pedagang. Karena sudah jadi komitmen dan kesepakatan dengan bapak Walikota juga sebelumnya. Sekaligus mencarikan solusi juga," ulas dia.

Revelino mengungkapkan, pihaknya sekaligus juga akan mempertanyakan progres pembangunan pasar induk yang sudah diterbitkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)-nya.

"Kita hanya ingin para pedagang ini bisa mendapatkan tempat yang lebih layak dan nyaman untuk berjualan. Tanpa harus terjadi ketegangan seperti sekarang ini," tandasnya.

Terpisah, salah seorang pedagang kaki lima Pasar Pagi Arengka Masrizal mengungkapkan, saat ini ia tak tahu harus seperti apa melanjutkan hidup.

Pasalnya, lapaknya juga menjadi salah satu lapak yang digusur petugas kala itu. (R04/tp)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional