Ribuan Ikan Mati, Warga Masih Tunggu Hasil Uji Lab Air Sungai Kampar, 'Penasaran, Tapi Pesimis'

Kamis,10 Januari 2019 | 02:22:41 WIB
Ribuan Ikan Mati, Warga Masih Tunggu Hasil Uji Lab Air Sungai Kampar, 'Penasaran, Tapi Pesimis'
Ket Foto : Kondisi temuan ikan mati di perairan.

PANGKALAN KERINCI (RIAUSKY.COM) - Dua pekan sudah warga menunggu hasil penelitian ataupun uji sampel terhadap air sungai Kampar yang menyebabkan ribuan ikan mati secara mendadak.

Ini memang bukan pertama kali, ini peristiwa yang kesekian kali yang membuat warga khusus di Kelurahan Pelalawan dan warga Kedesaan Pangkalan Terap menderita kerugian yang tak sedikit nilainya.

Tak hanya ikan di keramba yang mati, ikan di sungai juga ikut mati, alhasil mau 'melaut' pun warga yang kebanyakan nelayan menjadi enggan karena tangkapan yang tak seberapa.

Hingga ini uji sampel oleh laboratorium Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi bersama pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan terhadap air sungai yang tercemar belum juga membuahkan hasil.

Meski masih penasaran dengan hasilnya, namun warga yang pernah mengalami kejadian ini merasa pesimis dengan hasil uji lab tersebut, pasalnya dari yang sudah-sudah tak jelas juga hasilnya.

Seperti diketahui, adanya peristiwa matinya ribuan ikan di Sungai Kampar membuat tim dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan bersama Tim laboratorium Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi turun ke dua lokasi tercemar yaitu di Kelurahan Pelalawan dan Kedesaan Pangkalan Terap, 26 Desember 2018 lalu. 

"Sejauh ini, warga khusus di Kelurahan Pelalawan dan warga Kedesaan Pangkalan Terap belum mendapatkan informasi dari pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten penyebab matinya ribuan ikan tersebut," ucap Ahmad (55) warga Kelurahan Pelalawan. 

"Rasa penasaran akan tetap ada. Jadi bagaimana hasilnya,  warga akan selalu sabar. Namun sekali lagi, kami pesimis akan hal ini," imbuhnya.

Lebih jauh disampaikan bahwa terkait aktivitas nelayan pasca ribuan ikan mati, Ia mengatakan bahwa sejauh ini nelayan memilih untuk lagi melaut. Hal ini disebabkan tangkapan ikan sangat tidak memadai. 

"Pasca ribuan ikan mati, kami para nelayan memilih tidak melaut. Ada juga yang mencoba melaut hasil tangkap ikan sangat tidak memadai. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, para nelayan memilih untuk bekerja serabutan," tutupnya.

Guna mendapatkan informasi terkait uji laboratorium,  media mendatangi Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan di Komplek Bakhti Praja, Pangkalan Kerinci,  Rabu 9 Desember 2019 pagi, namun Kepala Dinas Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan sedang tidak berada ditempat. Saat dihubungi via WhatsApp belum dibalas.

Sebelumnya diberitakan, walau sulit membuktikan, namun warga sempat menuding kalau kematian ribuan ikan tersebut akibat limbah perusahaan sepeti PT RAPP yang memang berada di hulu sungai.

"Kami patut menduga, matinya ikan-ikan tersebut adalah disebabkan oleh tercemar sungai kampar oleh perusahaan PT RAPP," ujar Arman dan juga Herman dengan yakinnya, Rabu (26/12/2018) lalu.

Keyakinan mereka ditambah dengan adanya peristiwa serupa sebelumnya, sehingga warga yang jadi korban pun menyakini kalau penyebabnya juga masih sama. "Sebab bukan kali ini saja ikan di kerambah warga mati mendadak," ujarnya.

Selama ini diakui mereka, ada kejadian seperti ini sudah dilaporkan kepada pihak berwenang, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil.

Menurutnya selama ini, pihaknya hanya diberikan penjelasan kalau kematian ikan-ikan tersebut lebih pada faktor seleksi alam, bukan limbah.

"Nah kalau demikian, kenapa di hulu sungai tersebut, semisal di kualo, Sering Jembatan Kerinci tidak ada ikan yang mati, padahal air dari sungai yang sama," ujarnya.

Makanya dengan adanya kejadian ini, ia berharap pihak berwajib bisa menyelidiki kasus ini, jangan sampai hal ini terulang lagi.

Selain itu, Ia juga menyampaikan bahwa tidak saja ikan di kerambah milik mereka yang mati, ikan-ikan bebas di luar keramba juga pada ikut mati. 

"Yang jelas ikan dan habitat sungai pada mati, diantaranya ikan di keramba jenis ikan baung, ikan tapah, dan di luar kerambah jenis ikan berisisik," imbuhnya lagi. 

Akibat matinya ikan di keramba ini, ditaksir kerugian warga ini mencapai puluhan juta rupiah.

Namun hal itu kemudian dibantah langsung oleh perusahaan, dimana Dalam surat resmi yang diterima redaksi Riausky.com, Kamis, 27 Desember 2018, Djarot Handoko, Kepala Komunikasi Perusahaan PT RAPP menyampaikan pihaknya prihatin dengan penemuan beberapa ikan mati di sekitar desa Pelalawan dan Teluk Meranti di Sungai Kampar. 

Tapi adanya dugaan hal itu disebabkan oleh limbah dari PT RAPP, pihaknya membantah hal tersebut.  

"Namun, kita perlu menjelaskan bahwa sistem pengolahan limbah PTP dan Riau Andalan bekerja dengan baik dan sesuai dengan standar bahkan di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah," ujar Djarot dalam suratnya. 

Perusahaan juga secara teratur memeriksa ke lembaga independen dan bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup (DLH) untuk memantau kualitas air.

Disisi lain, Sudirman, Dewan Majelis Pusat Gambut Riau, yang tinggal bersebelahan dengan Desa Pangkalan Terap, meminta Dinas Lingkungan Hidup Pelalawan segera mengidentifikasi penyebab ikan mati. “Kami tak mau efeknya pada masyarakat dan anak-anak.”

Syamsul Anwar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pelalawan, menduga ikan mati karena limbah. Dia mengklaim tak ada limbah industri, meski diakui RAPP membuang limbah ke sungai. Dia bilang, sudah sesuai baku matu. RAPP, katanya, selalu memberi laporan dan DLH Pelalawan selalu menguji terlebih dahulu limbah buangan.

Faktor lain, kata Syamsul, bisa jadi ikan mati karena kekurangan oksigen atau mikroorganisme dalam air. Kejadian serupa pernah terjadi tahun-tahun sebelumnya bila sungai meluap saat banjir.

“Makin banyak debit air dalam sungai sebenarnya lebih cepat dan mudah mengurai limbah yang dibuang ke sungai.” seperti dilansir Mongabay.com.

Syamsul terus meyakinkan, dugaan ikan itu datang dari Kuantan Singingi, Kampar atau Pariaman, bukan asli di Sungai Kampar. Dia merujuk hulu Sungai Kampar, dari daerah itu. Ditambah lagi, PLTA Koto Panjang, selama musim hujan beberapa kali menaikkan pintu air untuk mengurangi debit air.

Untuk membuktikan dugaan ikan mati karena limbah industri atau rumah tangga, Syamsul menunggu hasil uji sampel Dinas Perikanan Pelalawan. Mereka juga akan menguji sampel air sungai. 

“Itu tidak selesai satu atau dua hari. Tunggulah hasilnya. Jangan bilang kami kerja tidak profesional," ujarnya seperti dilansir mongabay.co.id. (R09)


FOLLOW Twitter @riausky dan LIKE Halaman Facebook: RiauSky.Com



 
Cetak Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Loading...
Tulis Komentar Index »
Loading...
IKLAN BARIS