TEGALSARI (RIAUSKY.COM)- Ekspresi yang ditunjukkan dua pelaku perampasan ini berubah total 360 derajat.
Sebab, mereka yang garang di jalanan, ternyata menangis mengiba-iba saat berada di tahanan Polsek Tegalsari.
Kedua pelaku perampasan itu adalah Widjanarko, 20, dan Dayat Taufik, 22. Kedua pelaku yang masing-masing tinggal di Jalan Gundih Lapangan, Dupak, dan Jalan Lasem Baru Nomor 2 Surabaya ini dihadiahi timah panas lantaran mencoba melawan petugas saat ditangkap.
Penangkapan Widjanarko dan Dayat dilakukan tim reskrim Polsek Tegalsari, Rabu (23/1/2019) malam. Mereka diringkus saat hendak beraksi di Jalan Majapahit.
Proses penangkapan berlangsung cukup susah, lantaran keduanya kabur sehingga sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara pelaku dan polisi. Keduanya baru berhenti setelah kakinya ditembak dan jatuh tersungkur di jalan.
“Kami kejar dan berhasil dihentikan. Namun saat kami amankan mereka melawan dan mencoba menabrak anggota. Kami pun berikan tindakan tegas,” ungkap Kapolsek Tegalsari, Kompol David Trio Prasojo, Kamis (24/1/2019).
David mengatakan, perburuan kedua pelaku dilakukan sejak empat hari lalu. Berawal saat ada korban yang melapor ke polsek usai handphonenya dirampas di depan minimarket di Jalan Dinoyo.
Dia adalah Misrun, 28, penjual buah yang tinggal di Jalan Dinoyo Sekolahan 1/42.
Kemudian berdasarkan ciri-ciri pelaku yang disampaikan korban dan rekaman CCTV minimarket, polisi berhasil mengidentifikasi pelaku.
“Salah satu yang kami kenal adalah motor yang dijadikan sebagai sarana perampasan, yakni Suzuki Satria nopol L 5489 BE,” imbuhnya.
Menurut mantan kapolsek Tambaksari ini, kedua pelaku biasa beraksi dengan berboncengan motor. Mereka berkeliling ke sejumlah lokasi di Surabaya.
Sasaran utamanya adalah tas atau hape yang digunakan korban di pinggir jalan atau lokasi yang sepi. Mereka berbagi tugas, Dayat sebagai eksekutor sedangkan Widjanarko joki motor.
Kepada polisi kedua tersangka mengaku baru sekali beraksi. Keduanya nekat merampas lantaran butuh uang untuk pesta miras.
Meski keduanya sudah bekerja sebagai kuli dan ekspedisi, namun uang yang mereka peroleh tetep kurang. Mereka mencari tambahan penghasilan dengan cara merampas.(R04/pojoksatu)
Listrik Indonesia

