Utusan Bank Dunia Sambangi Bangkalis, Ini Agendanya

Utusan Bank Dunia Sambangi Bangkalis, Ini Agendanya

BENGKALIS (RIAUSKY.COM) – Dua utusan Bank Dunia (World Bank) Selasa 26 Februari 2019 kunjungi Kabupaten Bengkalis, tepatnya di Desa Pambang Baru dan Kembung Luar Kecamatan Bantan. Kehadiran mereka untuk memantau operasi dan pemanfaatan air dari sarana Pamsimas.

“Kehadiran utusan Bank Dunia, menindaklanjuti surat yang diteruskan oleh Satker PIP kabupaten Bengkalis ke CPMU pada 31 Oktober 2018, terkait dengan masalah pengolahan air gambut, payau dan air yang mengandung FE yang tinggi,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kadis PUPR) Bengkalis Hadi Prasetiyo, melalui layanan WhatsApp, Jumat pagi 1 Maret 2019

Utusan Bank Dunia yang berkunjung ke Bengkalis, yakni Water and Sanitation Specialist Global Practice Alizar Anwar dan Risyana Sukarma. Keduanya didampingi rombongan dari Propinsi terdiri unsur ROMS 4 Propinsi Riau, yakni Bappeda dan Pokja AMPL Riau serta Satker PIP propinsi Riau.

Kunjungan World Bank, sebagai referensi penyelesaian penyusunan pedoman pada instalasi pengolahan air minum dengan mengggunakan sistem dan cara yang lebih sederhana dengan biaya yang relatif murah.

“Sampai dilokasi, Tim Bank Dunia melihat kondisi air yang ada di SPAM Desa Pambang Baru, mengambil sampel di menara air dan mengecap rasa airnya dan melakukan Uji PH,” ungkap Hadi Prasetiyo.

Dari hasil analisa singkat terhadap air di Desa Pambang Baru, air di Desa Pambang baru dinilai mengandung warna gambut yang cukup tinggi, namun tidak payau karena PH nya cukup bagus. Pengolahan yang bisa dilakukan oleh KPSPAMS terbilang cukup sederhana misalnya dengan teknologi PAC dan membangun sarana tambahan untuk pengolahan melalui pendanaan misalnya melalui dana desa.

Berbeda dengan kondisi air. Dari hasil pengamatan diketahui air yang berasal dari sumur bor yang juga untuk pengolahan RO di Desa Kembung Luar. Air mengandung logam Fe cukup tinggi dan rasanya payau dibuktikan dengan pengujian PH yang angkanya rendah dari angka yang layak digunakan.

Tim Bank Dunia memberi saran, agar mengooptimalkan jaringan sambungan rumah langsung ke masyarakat. Selanjutnya barulah dilakukan revitalisasi pengelola RO, merancang kolaborasi pendanaan dengan BUMDes Desa Kembung Luar serta persiapan sebagai Plan Project untuk pengolahan air dengan bantuan teknis dari Bank Dunia.

Pihak Pemerintah Desa Pambang Baru dan Kembung Luar menyambut baik niatan dan rencana teknis yang akan dilakukan Bank Dunia, karena masyarakat sangat membutuhkan air bersih.

Ibarat gayung bersambut, Pemerintah Kabupaten Bengkalis langsung merespon positif bahkan bukan hanya satu desa, tapi langsung menyodorkan 3 desa dari kecamatan berbeda dengan kondisi air yang berbeda.

“Ini merupakan sebuah peluang, makanya kita langsung menawarkan tiga desa yang bakal dijadikan Plan Projet pengolahan air,” Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kadis PUPR) Hadi Prasetiyo, melalui layanan WhatsApp, Jumat pagi 1 Maret 2019.

Sebagaimana diketahui, Selasa 26 Februari 2019, utusan Bank Dunia, melakukan Pertemuan ini dihadiri tim Bappeda Propinsi Riau dan Kabupaten Bengkalis, PPK Pembangunan Infrastruktur Pemukiman (PIP) Kabupaten Bengkalis, TA ROMS 4 Riau bidang Water Supply dan Sanitation dan Local Government, ROMS 4 Kabupaten Bengkalis beserta Senior Fasilitator, dan PDAM Kabupaten Bengkalis.

Dalam pertemuan yang difasilitasi Kadis PUPR diwakili Sekretaris Tomi Nanda, pihak Bank Dunia menyatakan siap memberikan bantuan teknis dan advise secara detail dan berkala melalui pedoman teknis tentang instalasi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi masing-masing desa. Namun, untuk pendanaan dan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan sistemnya menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah.

Salah satu utusan World Bank, Risyana Sukarma, pada pertemuan itu, memaparkan tentang cara pengolahan air gambut, payau dan mengandung Fe tinggi dengan mekanisme yang lebih sederhana dan berbiaya relatif rendah dan bisa terjangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan sistem yang sudah dikenal lama seperti Reverse Osmosis (RO).

“Hal ini sudah dilakukan di Kabupaten Ogan Ilir Propinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan Selatan, dan dinilai berhasil untuk meningkatkan kualitas air menjadi jauh lebih baik,” ungkapnya. (R14)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional