Kritik Rencana Proyek Terowongan Mahal Jokowi 

Rustam: Umat Islam Tak akan ke Katedral untuk Misa dan Umat Katolik Tak akan ke Istiqlal untuk Salat

Rustam: Umat Islam Tak akan ke Katedral untuk Misa dan Umat Katolik Tak akan ke Istiqlal untuk Salat
Lanskap Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Senin (28/7/2014).(KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO-RODERICK ADRIAN MOZES)

RIAUSKY.COM - Rencana pemerintahan Joko Widodo membangun terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral di Jakarta Pusat dikritik sana-sini. 

Intinya, mereka mempertanyakan apa manfaat proyek terowongan yang nilainya mahal itu.

Salah satu pengkritik adalah mantan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Dipo Alam agaknya lebih setuju kalau anggaran pembangunan terowongan itu dimanfaatkan untuk membangun perpustakaan keuskupan dan pesantren di Agats, Papua. 

"Bro @NataliusPigai2 dan Prof S Aqil Siroj @nu_online percaya proyek "terowongan silaturahmi" (biaya APBN?) lebih bermanfaat untuk bangun simbol kedamaian umat Islam dan Katolik?; atau bangun perpustakaan Keuskupan dan pesantren di Agats, Papua?" kata Dipo Alam melalui akun Twitter.

Dipo merasa perlu untuk mention ke akun Twitter Natalius Pigai dan Said Aqil Siroj karena keduanya merupakan tokoh penting dan pendapat-pendapatnya dijadikan pertimbangan. 

Natalius adalah mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia asal Papua, sedangkan Said adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010-2020.

Pengkritik rencana pembangunan terowongan berikutnya pengamat politik Rustam Ibrahim. Melalui akun Twitter @RustamIbrahim, dia juga menilai terowongan itu tidak banyak memberikan manfaat karena toh, "Umat Islam tidak akan ke Katedral untuk ibadah misa dan umat Katolik tidak akan ke Istiqlal untuk sholat."

Menurut dia alangkah lebih baik kalau Presiden Joko Widodo menyelesaikan pekerjaan rumah dulu, memastikan tidak ada hambatan dalam kebebasan beribadah bagi umat minoritas.

Lebih jauh, Rustam menilai simbol terowongan untuk menggambarkan jembatan hubungan erat antar umat beragama bisa ditafsirkan untuk menyembunyikan adanya masalah dalam hubungan antar-iman di Indonesia, seperti hambatan dalam menjalankan kebebasan beribadah bagi kaum minoritas. 

Rencana pembangunan terowongan juga dikritik Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain. 

Menurut dia untuk mengoneksikan kedua tempat ibadah tidak perlu membangun terowongan dengan nilai miliaran rupiah.

"DPR dukung pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral... Apa gunanya? Jaraknya cuma sepelemparan batu. Jalan kaki di permukaan tanah saja tidak dilarang jika mau. Dibangun puluhan miliar rupiah, buat apa?" kata Tengku melalui akun Twitter.

Menurut Tengku masih banyak pekerjaan yang perlu dibangun untuk mendongkrak ekonomi.

Tengku juga mengatakan ibadah merupakan urusan masing-masing agama.

"Kini pak @jokowi mau mencoba connecting rumah ibadah Katolik dengan rumah ibadah Islam. Biar apa...? Ibadah itu masing-masing..." kata dia.

Jokowi sudah setuju

Sebelumnya, Presiden Jokowi akan membangun terowongan bawah tanah dari Masjid Istiqlal ke Gereja Katedral untuk mempermudah silaturahim antarumat beragama.

"Ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi. Jadi tidak kelihatan berseberangan, tapi silaturahmi," kata Jokowi beberapa waktu yang lalu dalam laporan Antara.

"Tadi ada usulan dibuat terowongan dari Masjid Istiqlal ke Katedral. Tadi sudah saya setujui sekalian, sehingga ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi. Terowongan bawah tanah. Sehingga tidak menyeberang," Jokowi menambahkan.

Terkait proses renovasi Masjid Istiqlal yang dimulai sejak Mei 2019, Jokowi mengharapkan seluruh proses renovasi dapat selesai sebelum Ramadhan 2020 agar Masjid terbesar di Asia Tenggara, dengan desain dan konstruksi yang baru, dapat dimanfaatkan umat muslim untuk shalat tarawih berjamaah.

Total anggaran yang disiapkan pemerintah untuk merenovasi Masjid Istiqlal adalah Rp475 miliar. Pemerintah melalui Kementerian PUPR merenovasi bagian-bagian Istiqlal seperti desain eksterior, interior, lahan parkir, kondisi lantai, termasuk perbaikan kondisi sungai yang melintasi kawasan Istiqlal.

Selain itu, kata Jokowi, fasilitas di dalam masjid juga diperbaiki seperti peningkatan kualitas tata suara, cahaya, dan udara. Hal itu diharapkan dapat memberikan kenyamanan saat beribadah.

"Anggaran itu dipakai untuk memperbaiki, memoles lantai, mengganti karpet, pencahayaan, tata suara, semuanya. Menambah basement yang di depan, parkirnya ditambah. Juga pembangunan 'landscape' di luar, bukan hanya interior, eskterior semuanya dibangun," ujar Jokowi. (R02)

Sumber: Akurat.co

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional