JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Budayawan dan Rohaniawan, Franz Magnis Suseno menyebut Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi sosok yang kurang kompeten dalam tugasnya.
Hal tersebut, dikatakan Romo Magnis terlihat dari cara Yudian dalam menjelaskan perihal agama sebagai musuh terbesar agama yang kemudian memantik kehebohan publik.
Romo Magnis juga menyebutkan kalimat-kalimat yang disampaikan dengan omongan atau sindiran itu bisa bernafaskan marxisme leninisme.
''Atas nama kejahatan di masa lampau, harusnya itu semua disingkirkan,'' ungkap petinggi sekolah filsafat Driyarkara itu.
''Saya sendiri waktu membaca di WA, ucapan prof., Yudian, menjadi kaget, Pancasila kok musuh paling besarnya Agama,'' ungkap Magnis Suseno saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club TVOne, Selasa (18/2/2020) malam tadi.
''Saya menganggap pembicaraan itu sesuatu yang sembrono.
Yang mengancam Pancasila bukan agama. yang mengancam Pancasila itu psoedo agama, ekstimisme agama, radikalisme agama, tapi bukan justru agama,'' tegas dia.
Dia juga menjelaskan latar sejarah bahwa Pancasila itu adalah kehebatan yang dilontarkan bung Karno dan ditetapkan dalam UUD 1945. ''Bahwa Indonesia, atas dasar Pancasila, semua komunitas agama bisa hidup dengan agama sesuai aspirasi mereka,'' imbuh dia.
Jadi, sambung romo Magnis Suseno, tidak perlu menjadi kurang katolik untuk menjadi pancasilais, tidak perlu kurang islam untuk menjadi Pancasilais.
Dia juga menegaskan, kalau Pancasila bukan kompromi antara sekularisme dan agama. Pancasila itu tidak sekularis. Pancasila itu kenegaraan yang religius.
''Pancasila itu religius yang memungkinkan semua agama tanpa memotong apapun dari mereka bisa hidup bersama dan bisa membangun Indonesia bersama,'' imbuhnya.
Masalahnya, kata dia, adalah, kalau ada kelompok yang ekstrim, itu tentu mengancam Pancasila. Pancasila itu menuntut semua komunitas beragama bersedia saling menerima.
''Saya mengharapkan bahwa ketua BPIP mempunyai satu bahasa yang sudah jelas. Dalam posisi ini, harus disadari, kita tidak pernah melawankan Pancasila dengan agama. Itu bisa menimbulkan segala macam reaksi di tengah masyarakat,'' tegasnya.
''Menurut saya, bicara seperti itu, menunjukkan tidak cukup kompeten. Karena di dalam posisi itu (Ketua BPIP,red) orang harus sudah menginternalisasikan bahwa agama tidak dilawankan dengan Pancasila,'' jelasnya lagi.
''Ya, Dalam posisi cukup tinggi ya kita harus tahu yang kita katakan,'' kata dia saat ditantang pembawa acara, Karni Ilyas soal sikap yang harusnya diberikan kepada Yudian. (R04)
Listrik Indonesia

