Dari Hobi, Warga Desa di Pelalawan Rakit dan Terbangkan Pesawat Buatan Sendiri, ''Belajar Otodidak, Lihat dari Youtube''

Dari Hobi, Warga Desa di Pelalawan Rakit dan Terbangkan Pesawat Buatan  Sendiri, ''Belajar Otodidak, Lihat dari Youtube''
Edi saat menerbangkan pesawat hasil rakitannya sendiri. Foto: selasarriau/kumparan.

LANGGAM (RIAUSKY.COM)- Pekan lalu, Senin (16/3/2020), menjadi hari bersejarah bagi tamatan SMP ini.  

Bermodalkan tekad bulat, Edi Sr (45), warga Desa Langkan, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, menerbangkan pesawat jenis capung hasil karyanya sendiri ke angkasa.  

Bagi montir sepeda motor ini, merakit dan menerbangkan pesawat capung ini merupakan impiannya selama belasan tahun terakhir.  

Hebatnya, ia gunakan barang-barang bekas untuk merangkai satu demi satu hingga bisa terbang ke udara.  

Edi mengaku awalnya sangat menyukai hal-hal berbau pesawat capung.  Sekitar empat tahun silam, Edi punya pengalaman tersendiri dengan pesawat saat bekerja di Duri, Bengkalis, Riau.  

"Berawal dari hobi, saya suka dengan pesawat-pesawat kecil, ditambah 4 tahun lalu, saya punya pengalaman pada  satu perusahaan di Duri. Waktu itu, saya melihat orang menggunakan pesawat capung untuk menyirami sawit. Saya sempat ikut menaikinya," kata Edi mengenang kepada Selasar Riau, Ahad (22/3/2020).  

Dari hobi itulah, kemudian Edi pelan-pelan mulai merakit impiannya.  

Ia butuh empat tahun untuk merakit berbagai barang-barang bekas hingga  dirangkai menjadi  sebuah pesawat terbang.  

Waktu empat tahun tersebut, tuturnya, dilakukan disela-sela bekerja mencari nafkah dengan membuka bengkel motor di desanya.  

"Saya belajar otodidak serta melihat dari Youtube bagaimana membuat dan merakit pesawat terbang," cerita Edi.  

Uji coba pekan lalu, tuturnya, merupakan percobaan ke-15 kali, dan berhasil terbang sebentar, sebelum jatuh ke tanah, ke semak-semak usai terbang beberapa detik.  

Bapak tiga anak ini sempat gagal saat take off pesawat SR Eksperimen miliknya di sekitar perkampungan Desa Langkan, Kecamatan Langgam. 

Pemicunya, keterbatasan landasan pacu. 

"Percobaan penerbangan pertama gagal, saat kedua sudah bisa terbang, tapi karena landasan pacunya minimal perlu 200 meter, makanya kita ubah lagi modifikasi (pesawat)," ungkap Edi. 

Kemudian uji coba selanjutnya, ujarnya, ia menerbangkan pesawat di jalan Koridor PT RAPP KM 20. 
 
Saat itu, ia  berhasil menerbangkan hanya dengan jarak landasan pacu sepanjang 50 meter. 

"Uji coba terakhir kemarin, Senin siang sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu jalanan sepi. Sudah bisa terbang pesawatnya dengan jarak landasan pacu 50 meter, tapi lantaran stelan gas bermasalah, jatuh," kata Edi sambil tertawa ringan. 

Kendati demikian, ia tak ingin berputus asa. Edi bahkan ingin memodifikasi lebih baik lagi, hingga pasawat capung ciptaannya itu bisa terbang dengan sempurna. 

"Sekarang saya sudah mulai merakit dengan memodifikasi rancangan terbaru, agar nanti bisa lebih sempurna," jelasnya.  

Adaspun bahan-bahan yang digunakan Edi untuk merakit pesawat terbangnya diantaranya adalah  mesin speedboat bekas yang dimodifikasi. Mulai dari mesin hingga kedudukannya hingga besi bekas dirancang hingga menjadi sebuah bentuk pesawat capung.  

Kesemuanya itu, Edi belajar secara otodidak serta ditambah dengan menonton video merakit pesawat di Youtube.  

Mesin pesawat digunakan adalah mesin speedboat bekas merek Yamaha Enduro 40 PK seharga Rp 16 juta ia beli, lalu dimodifikasi dan ubah kedudukannya.  

"Kalau baru harganya Rp 45 juta. Makanya kita coba dari yang bekas dan peralatan lain saya lengkapi dengan barang seadanya Mas. Pembuatan rangka dan lainnya saya pelajari di Youtube," ungkap Edi. 

Jika dirincikan, tutur Edi, dari awal perakitan hingga selesai pengerjaannya selama empat tahun, biaya dikeluarkan lebih kurang Rp 35-40 jutaan.  

"Kalau dirincikan dari awal sekitaran Rp 35-40 jutaan lah Mas. Itu juga lantaran keterbatasan dana dan waktu saat kita mengerkakan sepeda motor pelanggan mas," ungkapnya. 

Edi mengakui, selama 11 tahun berada di Desa Langkan, Kecamatan Langgam, ia sering terdampak banjir setiap tahunnya.  

Ini juga menjadi motivasi dan faktor kuat ingin menciptakan pesawat rakitan. 
Tujuannya, agar bisa membantu sebagai alat transportasi apabila jalan ditutup akibat banjir tersebut. 

"Karena sejak saya tinggal di sini sering banjir, kadang harus pindah jalur, kadang jalannya ditutup ketika mau pulang ke rumah. Ini juga memotivasi saya, agar bisa membantu kalau apabila banjir terjadi," ujarnya.  

Saat ditanyakan, perhatian pemerintah terhadap keinginannya menciptakan pesawat capung ini, Edi tidak menampik harapan dari hobinya itu bisa tersalurkan secara sempurna. 

"Sejauh ini, dari pemerintah Desa memang sudah tahu kagiatan saya selama ini, dan mereka tidak ada melarang. Kalau harapan saya sebetulnya butuh juga, sekarang kita hanya bisa menggunakan alat seadanya dan semampunya saja," pinta Edi mengakhiri.(R04/selasarriau/kumparan)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional