JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Pandemi virus corona atau covid-19 hingga saat ini masih mewabah hampir di seluruh penjuru Indonesia.
Hal ini diperparah dengan semakin bertambahnya kasus Covid-19 setiap harinya.
Ini menunjukkan bahwa belum ada tanda-tanda pandemi Covid-19 akan segera berakhir.
Hal ini rupanya dinilai pakar komunikasi politik, Effendi Gazali membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa kesal.
Effendi Gazali, sebagaimana kami kutip dari tribunnews.com menilai Presiden Jokowi mulai kesal terkait penanganan Covid-19 yang dilakukan jajarannya.
Sedangkan, Jokowi baru saja menargetkan agar kurva penyebaran Covid-19 harus mulai mengalami penurunan pada bulan ini.
Effendi Gazali menilai bahwa Jokowi sudah mulai kesal dengan bawahannya terkait penanganan Covid-19.
"Bang Ege (Effendi Gazali) ini begitu mengejutkan kalau kita mendengar pernyataan presiden memang kebijakan-kebijakan ini sekarang kebijakan, ini sekarang sudah arahan perintah untuk jajaran ini, apa maksudnya," tanya presenter.
Mulanya, Effendi menjawab bahwa dirinya mendukung Jokowimaupun Satgas Covid-19 agar cepat berakhir.
"Tiga hal yang pertama pasti kita semua sependapat mendukung Pak Presiden dan Pak Ketua Gugus Tugas kalau bisa cepetlah Covid-19 ini selesai."
''Dan terima kasih untuk apa yang sudah dilakukan," ujar Effendi.
Ia menilai bahwa pernyataan Jokowi itu menunjukkan sang presiden mulai kesal.
"Tapi dari apa yang diucapkan tadi, kesan utama yang saya tangkap adalah dia mulai kesal, ya dong, mulai kesel juga," katanya.
Lalu, Effendi menduga Jokowi yang sempat dalam kesendiriannya memikirkan masalah tersebut.
"Biar barangkali pada suatu saat, dia jadi presiden yang duduk seorang diri kan. menterinya enggak ada, penasihatnya enggak ada, yang datang di tv-tv itu enggak ada."
"Terus dia mulai lihat-lihat 'Ini sebenarnya gimana sih ini' gitu ya, Anda cuma bayangkan," katanya.
Effendi menduga, Jokowi pasti sempat berpikir bagaimana para bawahannya mengatasi masalah Covid-19.
"Ada saatnya ketika dia seorang diri, menteri-menterinya sudah enggak ada penasihatnya pada pergi, terus yang biasa jubir-jubir di tv itu enggak ada, lama-lama dia duduk sendiri juga."
"Dia mikir-mikir 'Ini pada bener enggak sih yang disampaikan'," ujarnya.
Effendi menduga bahwa Jokowi sudah mengetahui dirinya diberi keterangan palsu terkait Virus Corona seperti awal masuknya wabah tersebut.
"Terus dia mulai bertanya 'Sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi'."
"Bapak Presiden kalau orang Betawi bilang agak dikibulin kan pada waktu awal," ungkapnya.
Sebagaimana diketahui pemerintah sempat melakukan kebijakan-kebijakan yang kontroversial sebelum Indonesia benar-benar terbukti positif Virus Corona.
Menurutnya tak ada orang di Istana menasehati Jokowi dengan benar.
"Enggak ada sama sekali, kita aman, datangin saja turis-turis ke sini Pak, kita kasih buzzer pak, masak satu Istana enggak ada yang bilang, pak mohon pak, pak izin pak itu keliru, misalnya kayak gitu."
"Ini kan enggak ada, jadi perlu juga Anda bayangkan ketika presiden seorang diri lalu dia mulai kesal, itu tadi," pungkasnya.
Kritikan Dokter Erlina Burhan soal Isu Pelonggaran PSBB
Dokter spesialis paru-paru Erlina Burhan menyampaikan hal yang perlu dipertimbangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menangani pandemi Virus Corona.
Dikutip TribunWow.com, hal itu ia sampaikan ketika diundang dalam Indonesia Lawyers Club (ILC) di TvOne, Selasa (5/5/2020).
Seperti diketahui, sejumlah daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi menghambat penyebaran Virus Corona (Covid-19).
Larangan mudik juga telah disampaikan pemerintah untuk mengurangi transmisi virus antardaerah.
Awalnya, presenter Karni Ilyas bertanya tanggapan Erlina Burhan tentang isu PSBB akan dilonggarkan.
Dr Erlina Burhan menegaskan tidak setuju terkait wacana tersebut.
"Saya sungguh berharap Pak Presiden mendengarkan kami tenaga medis," tegas Erlina Burhan.
Hal itu ia sampaikan mengingat tenaga medis adalah garda terdepan dalam perjuangan melawan Virus Corona.
"Kami ini 'kan di hilir, menerima apa yang terjadi di hulu. Di hulu ini seharusnya pencegahan," papar Erlina.
"Kalau ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada fasilitas kesehatan dan para petugas kesehatan," lanjut dia.
Ia menyebutkan saat ini masih terlalu dini untuk mencabut kebijakan PSBB.
Erlina mengatakan saat ini kasus positif masih dapat melonjak.
"Saya sedikit berani mengatakan, kalau ini dilakukan dengan cara prematur, suatu ketika akan mendapat serangan yang cukup (besar), atau jumlah kasus yang cukup banyak," jelas dia.
Erlina menuturkan kemungkinan sebagian besar pasien yang terkena gejala ringan kemungkinan akan sembuh.
"Saya selalu katakan. Kalau banyak sekali, 80 persen ringan nih, oke kemungkinan sembuh," papar Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 PB IDI ini.
Meskipun begitu, sisa pasien lainnya yang menderita gejala berat harus dirawat.(R04)
Listrik Indonesia

