JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Gubernur DKI Jakarta menjawab dengan runtut tentang jumlah data penerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah pusat maupun Pemprov DKI Jakarta.
Dalam sesi wawancara pada Kabar Petang TVOne, Sabtu (9/5/2020), Anies menyebutkan dia juga mempertanyakan dimana salahnya terkait dengan 'serangan' terkait data penerima bantuan sosial tersebut.
''Saya juga tidak tahu dimana salahnya.Tapi saya sampaikan, bahwa dalam pembicaraan kita menyepakati membantu 3,7 juta orang. Kemudian bukan di bagi per orang, tapi per KK,'' ungkap Anies.
Kalau di level teknis, disebutkan dia, semua tahu para pengelola program ini bahwa ada 1,2 juta kepala keluarga (KK).
''Karena itu, pembagian sembako dari DKI pada keluarga, sembako dari kementerian juga pada keluarga. Artinya memang samakan, dan jumlahnya juga sama, orangnya juga sama,'' kata dia.
Perbedaannya, lanjut Anies adalah waktu penyalurannya. DKI menyerahkan lebih awal, sesudah PSBB diberlakukan, kemudian kementerian memberikan tanggal 20 April hingga 5 Mei. ''Jadi sebenarnya tidak ada masalah disitu,'' kata dia.
Lantas muncul pembicaraan kemana yang 1,1 juta tanggung jawab DKI. Ini yang dikatakan Anies harus diluruskan.
Angka penerima per orang 1,1 juta dengan 2,6 juta sudah dijadikan satu dalam hitungan keluarga.
''Sudah tidak ada lagi pembicaraan pembagian sembako per orang karena saya sampaikan ada satu keluarga yang dapat bantuan sosial, anaknya terima KTP, ayahnya terima kartu pekerja, neneknya terima bantuan lansia, mungkin anaknya juga ada yang menerima bantuan disabilitas, kalau dihitung mereka 4 orang menerima. Sementara sembako hanya diberikan 1 untuk 1 keluarga,'' tegasnya.
''Jadi sesungguhnya di lapangan, ada 1,6 persen keluarga yang tidak tepat. itu dikembalikan, tapi 98,4 persen itu kan benar. Tapi yang 98,4 persen itu kan tak jadi berita. Yang jadi berita kan yang 1,6 persen,'' sindir Anies.
Mengapa ada data 1,6 persen yang tidak tepat sasaran, Anies menyebutkan ada banyak faktor.
Satu, Mereka selama ini menerima bantuan tapi tak pernah mengaku menerima bantuan, karena bentuknya transfer. Jadi mereka sebenarnya penerima bantuan. Ketika diberi bentuknya cash, tak lapor kalau itu salah.
Atau, lanjut Anies, ''mereka dulu mengusulkan dan diterima. Bahkan ada nama-nama yang cukup menonjol itu terima. Anaknya terima bansos, dalam bentuk KTP,'' imbuhnya.
Kemudian, kata dia, ada juga orang yang sudah meninggal, sudah pindah, ''macam-macam faktornya semua kita koreksi,'' ujarnya.
''Dari sisi data sih Insya Allah baik ini. Kalau boleh jujur, bayangkan, tanggal 7 April kita putuskan PSBB tanggal 10 April, langsung dalam 2 hari menyiapkan bansos untuk 1,2 juta orang. Kalau tidak memiliki basis data yang baik, tidak mungkin errornya hanya 1,6. Kalau basis datanya lemah, erornya bisa 30 persen, 20 persen, Errornya 1,6 persen dalam persiapan 3 hari,'' kata Anies Lagi.
''Saya sampaikan sama anak buah, this is impressif. Dalam waktu 3 hari menyiapkan data 1,2 juta, dengan data yang ada ini bagus. Yang sempurna hanya milik Allah dan koreksinya diakui dan kami tak menutup-nutupi,'' singkatnya.(R04)
Listrik Indonesia

