Tangani Covid-19, Faisal Basri: Panglima Perangnya Tak Jelas!

Tangani Covid-19, Faisal Basri: Panglima Perangnya Tak Jelas!
Faisal Basri. Foto: majalah csr

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Ekonom senior, Faisal Basri menilai wacana  pemerintah yang hendak memberlakukan relaksasi bukanlah kebijakan yang berlandaskan data.

Rencana tersebut, dikatakan Faisal, lebih dikarenakan jajaran pemerintah cenderung brusaha menjabarkan apa yang menjadi keinginan Presiden Joko Widodo.

Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi salah satu nara sumber dalam dialog Mata Najwa di Trans7 dengan tema ''Hati-hati Relaksasi'' yang dilaksanakan Rabu (13/5/2020) malam tadi.

''Ya, kelihatannya kan ini mencoba menjabarkan apa yang diinginkan presiden,'' kata Faisal. 

''Presiden ingin kan puncaknya Mei, Juni sudah menurun, Juli sudah seperti biasa. Jadwal nya kan merespon apa keinginan presiden, Bukan dilandasi scientific avidence, bukan dilandasi data,'' kata dia.

Dilanjutkan Faisal, ''Kalau saya lihat ini keinginan subjektif. tentu saja semuanya ingin lebih cepat. Tapi tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi,'' imbuhnya. 

Hari ini, sebut Faisal  ''Kita lihat ada 689 kasus baru, kalau kita lihat, dari perilaku statistik, statistik harian indonesia, daily cases- nya naik turun gak karu-karuan. Kadang-kadang naik kencang, kadang-kadang turun. itu fungsi dari tes,'' katanya.

Karena itulah, sebut dia, perlu adanya sense of crisis. Yang di lawan saat ini adalah virus yang tidak kelihatan. Cara mengujinya tentulah dengan melaksanakan tes, Bukan dengan macam-macam.

Sejauh ini, sebut Faisal, sembari menjelaskan kalau dia bukanlah ahli epidemologi, tes yang dilaksanakan di Indonesia  baru sebanyak 600-an per 1 juta penduduk alasannya alat-alat tes kurang. Tapi, lanjut dia,  kok negara yang lebih miskin dari Indonesia, bisa melakukan 800 tes.  

Untuk menjelaskan itu, kata Faisal, tentu alasannya harus jelas. 

''Sekarang kita lihat, semua menteri senior bicara. Covid ini harusnya diserahkan pada panglima perang. Justru sekarang panglima perangnya tak jelas,'' kata dia. 

Hal tersebut, ditambahkan Faisal terbukti, dari pelaksanaan sidang kabinet, yang presentasi bukan ahli epidemologi, tapi menko. Yang melakukan kajian dampak cuacalah, panas udara, menanggulangi covid.

Namun begitu, bila ditanyakan apakah sudah saatnya dilaksanakan pembahasan PSBB, Faisal menyebutkan, bila untuk disiapkan saja oke. 

Namun dia juga memberi catatan, relaksasi yang terjadi di seluruh dunia, Jerman, Spanyol, Itali, daily casesnya turun dulu,  kematian turun, active cases juga turun walau kumulatif cesesnya naik terus.

contoh yang paling bagus kurvanya adalah Iran. Tapi tiga hari terakhir naik lagi. Jadi turun pun belum jaminan. Turun pun juga harus tetap memperhatikan aspek kedisiplinan, dan itu perlu panglima perang untuk melaksanakannya,'' kata dia.(R04)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional