Ketua MPR: Jangan Jadikan Pancasila Sebagai Alat Provokasi Bangsa

Jumat, 02 Oktober 2020 | 01:30:09 WIB
Ketua MPR: Jangan Jadikan Pancasila Sebagai Alat Provokasi Bangsa
Ket Foto : Ketua MPR RI Bambang Soesatyo

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menekankan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tak boleh sekadar menjadi upacara yang bersifat seremonial belaka. 

Menurutnya, hari yang diperingati setiap 1 Oktober tersebut harus membangkitkan semangat untuk meneguhkan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Bamsoet mengatakan lahirnya momentum Hari Kesaktian Pancasila tak lepas dari tragedi G30S/PKI saat enam jenderal dan satu perwira dibunuh secara keji dan dibuang ke sumur sedalam 12 meter di kawasan Lubang Buaya.

Adapun enam jenderal dan satu perwira tersebut adalah nama-nama yang sudah tak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Antara lain Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.

"Gerakan tersebut pada akhirnya berhasil diredam. Pancasila membuktikan keberadaannya sebagai ideologi menyatukan sehingga kemudian setiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (1/10/2020).

Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat membacakan Teks Pancasila, dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. 

Turut hadir pada acara tersebut Presiden Joko Widodo bertindak sebagai inspektur upacara, Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti dan Menteri Koordinator PMK Muhadjir Effendy. Hadir juga Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, Panglima TNI Marsekal TNI AU Hadi Tjahjanto dan Jenderal Pol Idham Azis.

Lebih lanjut, Ketua DPR RI ke-20 dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengungkapkan tragedi G30S/PKI tidak berhasil menggantikan Pancasila dengan Marxisme, Leninisme, maupun Maoisme. Ini karena Pancasila tak hanya ideologi bangsa, namun juga sumber kekuatan moril dan spiritual bangsa Indonesia.

"Sebagai tindak lanjut, MPR RI mengeluarkan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran dan pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang, serta pelarangan penyebaran paham komunisme/Marxisme-Leninisme. Hingga kini TAP MPRS tersebut masih berlaku, dan menjadi pegangan kuat bagi bangsa Indonesia dalam melindungi jati dirinya," tandas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Depinas SOKSI dan Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mengingatkan, Pancasila tak boleh dijadikan komoditas politik bagi sebagian kelompok, karena Pancasila merupakan milik bangsa. Di sisi lain, menganggap diri paling Pancasilais juga merupakan tindakan yang tidak dibenarkan.

"Jangan menjadi pengkhianat bangsa dengan menjadikan Pancasila sebagai alat provokasi pemecah belah bangsa. Tak perlu merasa paling benar sendiri, paling Pancasila sendiri. Karena nilai-nilai Pancasila bukan untuk dikatakan atau didiskusikan, melainkan untuk diamalkan," pungkas Bamsoet.(R04)

Sumber Berita: detik.com


FOLLOW Twitter @riausky dan LIKE Halaman Facebook: RiauSky.Com



 
Cetak Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
loading...
Tulis Komentar Index »
IKLAN BARIS