Membangun Indonesia dari Lintas Timur Sumatera

Kamis, 23 Desember 2021 | 22:09:41 WIB
Membangun Indonesia dari Lintas Timur Sumatera
Ket Foto : Aktivitas pekerja RAPP setiap pagi menjadi magnet perekonomian di Jalan Lintas Timur Sumatera Pangkalan Kerinci./ Foto: Buddy Syafwan

Rinai hujan masih membasahi wajah kota Pangkalan Kerinci, Pelalawan.

Hari masih gelap. Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 WIB.  Beberapa penerangan di rumah warga maupun lampu jalan masih menyala.  Namun, Sampuladi Irawan sudah disibukkan dengan hilir mudik orang-orang berseragam aneka warna di sekitar tempatnya berjualan. 

Di antara mereka ada yang membeli penganan yang dijualnya. Banyak juga yang sekadar menepi menghindari rintik hujan  sembari menunggu bus karyawan datang menjemput. 

Setiap subuh hari, Sampuladi  sudah berdiri di emperan Jalan Lintas Timur Sumatera ini. 

Dia menyediakan nasi, mie goreng, aneka kue, bubur untuk sarapan para pekerja yang umumnya adalah pekerja perusahaan bubur kertas, pulp dan serat rayon  terbesar dunia, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan para kontraktornya.

Sampuladi, sudah bertahun-tahun melakoni pekerjaan ini.  Pelanggannya pun bukan lagi puluhan, tapi sudah ratusan  setiap hari. 

''Rata-rata pekerja kontrak. Mereka datang dari luar daerah, anak istrinya di kampong, disini ngekos. Sebelum ke pabrik mereka sarapan dulu di sini,'' ungkap  pria yang akrab disapa Adi itu.

Sampuladi pun sebenarnya bukan penduduk asli Pangkalan Kerinci. Dia datang dari nun jauh di sana, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jalan hidup membawanya  menetap di kota ini. 

Sempat terkatung-katung sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia, Adi akhirnya menetap di Pangkalan Kerinci berjualan makanan bagi pekerja di daerah industri itu.

''Lebih 50 persennya yang beli karyawan dan pekerja kontraktor,'' ungkap dia.

Tapi, dari usaha inilah, Adi  dan keluarga menggantungkan hidup. 

''Kalau di RAPP lagi banyak proyek, itu ramai sekali di sini.  Dari subuh jalanan ini sudah dipenuhi pekerja,'' jelas dia.

Jalan Lintas Timur Sumatera adalah salah satu kawasan yang menjadi urat nadi perekonomian di Kota Pangkalan Kerinci. 

Di sepanjang  jalan yang membelah Kota Pangkalan Kerinci itu berdiri jejeran pertokoan yang menyediakan banyak sekali kebutuhan industri maupun barang harian. Pembelinya, tentunya  warga yang kebanyakan  juga pekerja perusahaan. 

Yang berjualan di emperan pun tak hanya Sampuladi. Ada puluhan bahkan ratusan pedagang lainnya. Mereka berlomba mengais rezeki dari ribuan pekerja perusahaan yang pertama sekali didirikan pada tahun 1993 itu.

Simpang Pos II RAPP di Jalan Lintas Timur  adalah sebagian  dari bukti   bagaimana aktivitas industri bisa mendorong ekonomi. Bukan hanya untuk perusahaan, namun juga bagi masyarakat di sekitarnya. 

Aktivitas yang hampir tidak pernah sepi menyebabkan kawasan ini demikian strategis bagi masyarakat yang menggantungkan hidup mereka di sana.

RAPP sendiri mempunyai 7.000-an karyawan. Selain mereka, juga ada pekerja dari rekanan dan kontraktor  yang  jumlahnya mencapai belasan ribu orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari 50 persen di antaranya bekerja di Pangkalan Kerinci.

Sebenarnya, aktivitas usaha di sekitar industri merupakan hal yang lazim. Namun, ketika keberadaan industri menjadi lokomotif dari sebuah pertumbuhan ekonomi kawasan, tentunya akan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kawasan tersebut.


Hilirisasi Ekonomi

Bupati Pelalawan, H Zukri adalah salah satu kepala daerah yang sangat concern mendukung kemajuan industri di daerahnya.  Bahkan dia menegaskan RAPP adalah salah satu lokomotif penggerak perekonomian di Pelalawan.

Zukri menjelaskan, aktivitas RAPP berkontribusi besar terhadap peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pelalawan. 

''RAPP punya pabrik, punya Hutan Tanaman Industri (HTI), semuanya mempunyai kontribusi pada penguatan ekonomi Pelalawan secara makro dan mikro,''  papar dia.

''Pasti besar muptiplier effect  RAPP untuk Pangkalan Kerinci dan daerah di sekitar usahanya. Karyawannya belanja kebutuhan sehari-hari, makan, kontraktornya membutuhkan bahan baku, pekerja butuh peralatan, tempat tinggal, mereka belanja di Pangkalan Kerinci dan semua itu membuat perputaran roda ekonomi di Pelalawan,'' ungkap Zukri.

Namun begitu, dia tetap berharap bahwa keberadaan perusahaan tetap harus mampu memberikan nilai tambah untuk kemajuan daerah. 

Karena itulah, selain aktivitas usaha dan upaya pembinaan yang telah dilakukan, dia juga  mendorong industri yang ada di Pelalawan untuk  melakukan hilirisasi.

Zukri pun menjelaskan, dia menemukan salah satu strategi baru untuk pembangunan Pelalawan dengan kehadiran industri viscose (serat rayon) yang dikelola PT Asia Pacific Rayon (APR).

Kehadiran industri serat rayon itu menjadi taruh harap Zukri untuk bisa mengembangkan potensi ekonomi baru Pelalawan  lewat industri konveksi masyarakat. 

Zukri ingin mensinergikan  pabrik viscose milik APR dengan industri konveksi masyarakat ke depan.  Dengan demikian, Pelalawan bisa menjadi pusat konveksi di Sumatera dengan keberadaan pabrik viscose di daerahnya. 

Apa yang diinginkan Bupati Zukri tersebut sebenarnya sangat masuk akal. Karena, dalam pengembangannya, saat ini produk viscose yang dihasilkan oleh APR  sudah merambah brand-brand besar industri garmen tidak hanya di Tanah Air, namun juga dunia. 

Sebut saja produsen garmen Uniqlo, H&M, menjadi beberapa brand ternama yang kini memanfaatkan  viscose APR yang lebih ramah lingkungan ini.

Bahkan, batik Pelalawan yang dikelola oleh Rumah Batik Andalan  kini pun mulai menggarap bahan baku dengan persentase 60 persen viscose, 40 persen cotton.


Sinergi  Membangun Indonesia

RAPP adalah salah satu industri  yang tumbuh pesat di Tanah Air. Kontribusi  usahanya mendunia. 

Hal tersebut ditandai dengan aktivitas produksi dan ekspor yang kemudian menempatkan perusahaan berbasis di Pelalawan-Riau ini menjadi salah satu produsen pulp dan kertas  terbesar di dunia dan ikut mengangkat nama Indonesia.

Pabrik yang dikelola oleh RAPP di Pangkalan Kerinci  memproduksi tak kurang dari 2,8 juta ton pulp  serta sebanyak 1,15 ton  serta 240.000  ton viscose per tahun. 

Keberhasilan tumbuh menjadi industri berkelas dunia  tentunya tak hanya menangkat nama Riau, namun juga Indonesia.

RAPP pun tak lepas dengan komitmennya untuk tumbuh dan maju bersama masyarakat .

Dukungan PT RAPP untuk sinergi salah satunya dilakukan dengan menggandeng dan melibatkan masyarakat  sekitar menjadi bagian dari ekosistem usahanya.

Direktur Utama PT. RAPP, Sihol Aritonang saat pertemuan dengan Gubernur Riau Syamsuar beberapa waktu lalu menyebutkan, salah satu dari pilar komitmen RAPP adalah menciptakan kemajuan inklusif.

Kemajuan Inklusif itu sendiri, sebut Sihol, mencakup langah-langkah konkrit untuk memberdayakan masyarakat melalui serangkaian inisiatif transformatif. 

Salah satu targetnya adalah  memerangi kemiskinan ekstrem dalam radius 50 kilometer dari kegiatan operasional  perusahaan.

Sihol mengungkapkan, komitmen tersebut ada karena pihaknya merasakan bahwa  RAPP adalah bagian dari masyarakat. RAPP ingin maju bersama masyarakat.(R02)

Penulis : BUDDY SYAFWAN


FOLLOW Twitter @riausky dan LIKE Halaman Facebook: RiauSky.Com



 
Cetak Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Tulis Komentar Index »
IKLAN BARIS