PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Waktu sudah menunjukkan pukul 21.10 WIB. Saya masih berada di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai hendak menuju Medan Sumatera Utara.
Sejumlah pesan berantai masuk melalui akun media sosial saya dan istri. ''Innalillahi Wainna Iliahi Rojiuun...Bapak Herman Abdullah mantan Wali Kota Pekanbaru meninggal dunia''.
Dengan cepat ruang media sosial warga Kota Pekanbaru maupun Riau dipenuhi dengan ungkapan duka dan belasungkawa atas berpulangnya Herman Abdullah.
Barangkali, hampir sebagian besar masyarakat Riau, khususnya warga Kota Pekanbaru masih sangat mengenal sosok Herman Abdullah.
Meski telah 10 tahun tak lagi menjabat sebagai Wali Kota Pekanbaru, namun nama Herman Abdullah tetap harum dan dikenang.
Sosok leader kebapakan di jajaran pemerintahan kelahiran 18 Juli 1950 ini namanya seolah tak pernah lekang dari memori masyarakat Riau. Padahal, dia tak pernah menjabat sebagai Gubernur Riau.
Begitu pun bagi saya, konon lagi istri saya yang memang setiap harinya dulu selalu mengabdi untuk membantu perjuangan Herman Abdullah untuk mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Riau.
Kabar duka kepergian Herman Abdullah ini seolah menggurat kembali tentang sosok lelaki pekerja keras, guru bagi para praja namun selalu dekat dengan rakyatnya itu.
Kami pun memutuskan kembali ke Pekanbaru guna melayat ke rumah duka di Jalan Thamrin Pekanbaru.
Bagi saya, Herman bukan saja sosok seorang leader di pemerintahan, dia juga seorang politisi ulung yang disegani kawan ataupun lawan.
Seorang pemimpin yang tegas dan keras saat menjalankan tugas, namun juga bisa lembut, bersahabat dan kebapakan bagi siapa pun yang mengenalnya.
Sikap-sikapnya yang demikian itu membuat dia demikian disegani bawahan. Bila Herman Abdullah telah berkata, maka itulah yang akan berlaku hingga ke bawahannya.
Namun ada kalanya juga, Herman Abdullah sungguh suka bersenda gurau dengan bawahannya, termasuk orang-orang di sekitarnya.
Herman juga bukan seorang pejabat yang gila dihormati. Karena, tak jarang, dia sendiri yang langsung menghampiri dan menyapa warganya bila bertemu.
''Eh.. apa kabar, lama tak nampak. Istri, anak, bagaimana sekarang?'' kalimat-kalimant tersebut adalah bahasa sehari-hari yang kerap diucapkan Herman saat bertemu dengan kerabat atau masyarakat yang pernah dia kenal.
Walau terlupa nama, namun Herman tak pernah melupakan wajah. Dia selalu mendahului untuk menyapa, apalagi untuk mereka yang lebih tua darinya. Herman sangatlah menghormati. Tak segan pula dia memanggil untuk sekedar memberikan rezekinya kepada orang-orang yang dia temui.
Hal tersebut jua yang tampaknya membuat siapapun yang pernah bertemu, bercengkerama, bekerja, demikian sulit untuk melupakan sosok Herman Abdullah.
Bahkan, bagi istri saya, Herman Abdullah itu ibaratkan seorang ayah ketimbang seorang pejabat.
''Bapak itu orangnya sangat perhatian pada bawahan. Walau sibuk, dia tak pernah lupa menanyakan apakah sudah makan, kalau capek istirahat saja, kalau kerja kemalaman jangan lagi pulang ke rumah, tidur di kamar di Posko. Bahkan, Pak Herman lah yang setahu saya sangat memperhatikan hal-hal detail tentang bawahannya. Sehingga, bila menjauh, pasti akan demikian terasa perhatian Herman Abdullah. Bapak itu seperti orang tua sendiri,'' ungkap istri saya sembari menyeka air mata begitu mengenang kepergian Herman Abdullah.
Saya pun lantas kembali mengingat masa-masa saat masih bertugas di lapangan meliput aktivitas Herman Abdullah di Kantor Wali Kota Pekanbaru pada kurun 2006-2011.
Di bawah kepemimpinan Herman Abdullah, Pekanbaru berkembang pesat. Sejumlah kawasan yang awalnya masih sepi menjadi sentra pertumbuhan baru. Salah satunya yang tak mungkin saya lupa adalah berkembangnya Kecamatan Tampan, payung sekaki, termasuk terminal terbesar di Riau, Bandar Raya Payung Sekaki.
Listrik Indonesia

