JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Ahli kesehatan masyarakat Hermawan Saputra berharap pemerintah dan masyarakat tidak lengah di tengah situasi Covid-19 di dalam negeri yang perlahan mereda dan dibarengi dengan menerapkan berbagai kebijakan pelonggaran kegiatan.
Sebab, menurut Hermawan, selagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mencabut status pandemi atas Covid-19, seharusnya semua negara tetap waspada akan ancaman penyakit itu.
Hermawan mengingatkan supaya pemerintah terus gencar mengingatkan masyarakat supaya mematuhi protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi demi keselamatan diri sendiri dan orang lain di masa pandemi.
"Oleh karena itu, kebijakan kita harus tetap dalam kebertahapan, protokol kesehatan harus terus dikampanyekan, vaksinasi digencarkan, dan yang paling penting kesiapsiagaan infrastruktur," kata Hermawan saat dilansir dari Kompas.com, Minggu (12/6/2022).
Menurut Hermawan, kenaikan kasus infeksi Covid-19 saat ini memang sudah diperkirakan terjadi selepas pelonggaran yang diberlakukan saat Idul Fitri atau Lebaran pada awal Mei lalu.
Menurut dia, dampak dari pelonggaran kegiatan itu memang baru bisa terlihat paling cepat sekitar 3 bulan atau bahkan 1,5 hingga 2 bulan.
"Nah, sekarang di masa awal bulan Juni dan di akhir bulan Mei kemarin itu kasus sudah naik, tetapi memang tidak sedrastis periode Lebaran sebelumnya dan Nataru (Natal dan Tahun Baru)," ucap Hermawan.
Selain itu, kata Hermawan, dalam membuat kebijakan terkait Covid-19, pemerintah diharapkan tetap berpegang teguh dalam kewaspadaan dan pemberlakuan secara bertahap.
"Penerapan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) yang tetap menggunakan level saya pikir cukup baik. Evaluasi sampai Agustus itu pun kalau situasi dunia relatif terkendali," ujar Hermawan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada pekan lalu mengatakan, kenaikan kasus Covid-19 saat ini masih dalam taraf aman dan normal selepas peringatan hari raya.
Menurut Budi, saat ini, angka positivity rate di tingkat nasional berada di angka 1,15 persen sehingga kondisi kasus masih terjaga.
"Saya sampaikan ke masyarakat tidak usah terlalu khawatir-khawatir amat karena kenaikannya dari 300 ke 500," ujar Budi dalam jumpa pers pada Jumat (10/6/2022).
Lebih lanjut, Budi meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai dan mengikuti perkembangan kasus Covid-19 dan disiplin menerapkan protokol kesehatan.
"Yang penting waspada, jangan berlebihan paniknya, vaksinasi booster dipercepat prokes, terutama pakai masker dalam ruangan pakai masker," ucap Budi.
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, perubahan status pandemi Covid-19 menjadi endemi di Indonesia akan ditentukan oleh perkembangan kasus Covid-19 selama dua bulan ke depan.
Luhut mengatakan, jika kasus Covid-19 terkendali selama dua bulan ke depan, status endemi Covid-19 dapat menjadi hadiah ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2022.
"Saya sarankan pada Presiden minggu lalu, 'Kita tunggu dulu dua bulan ini, Pak'. Kalau seumpama dua bulan ini kita masih mampu bertahan dengan baik, saya kira nanti bisa hadiah 17 Agustus," kata Luhut dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR, Kamis (9/6/2022).
Luhut mengingatkan, perubahan status dari pandemi menjadi endemi tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.
Ia pun mengakui bahwa situasi pandemi Covid-19 masih sulit diprediksi karena kasus harian mulai merangkak naik dalam tiga hari terakhir.
"Tadinya 300, 200, tiba-tiba naik jadi 500. Jadi kita semua harus kompak menghadapi ini karena kita enggak bisa berlama-lama juga terus begini," ujar Luhut.
Menurut Luhut, hal tersebut cukup membuat khawatir karena di sisi lain positivity rate Covid-19 di Indonesia juga mulai mencapai angka 1 setelah sempat berkisar di angka 0,5-0,8.
Selain itu, ia juga menyebutkan, ada varian baru yang muncul di Amerika Serikat dan menyebabkan lonjakan kasus di negara tersebut. Untuk itu, Luhut mengingatkan masyarakat agar terus disiplin mematuhi protokol kesehatan serta mengikuti vaksinasi Covid-19.(R02)
Sumber Berita: kompas.com
Listrik Indonesia

