Pemulihan 1 Hektare Lahan untuk 1 Hektare Hutan Tanaman, Komitmen Besar RAPP Lakukan Konservasi Secara Kemitraan

Pemulihan 1 Hektare Lahan untuk 1 Hektare Hutan Tanaman, Komitmen Besar RAPP Lakukan Konservasi Secara Kemitraan
Bentang kawasan hutan rawa gambut di sekitar areal konsesi PT RAPP di Semenanjung Kampar, Kepulauan Meranti yang tetap terjaga dan terpelihara. / Sumber Foto: Restorasi Ekosistem Riau

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Di tengah kekhawatiran terkait  kondisi kerusakan lahan dan hutan di Tanah Air, istilah konservasi nyaris terlupakan.

Padahal, konservasi menjadi  bagian penting dari upaya mempertahankan mata rantai kehidupan di satu kawasan yang tidak dapat dipisahkan, khususnya  di kawasan hutan.

Namun, PT RAPP, perusahaan kehutanan grup usaha APRIL yang beroperasi di wilayah Riau, semenjak awal menjadikan konservasi sebagai bagian dari komitmennya dalam upaya mempertahankan keberlanjutan ekosistem usaha.

Komitmen terhadap upaya konservasi ini merupakan implementasi dari 5 prinsip usaha RAPP-APRIL Group, yang dikenal dengan 5C, yakni Good for Community, Good for Country, Good for Climate, Good for Customer dan Good for Company.

Prinsip ini kemudian  diimplementasikan dalam komitmen APRIL2030, berupa aksi nyata  yang terdiri dari empat komitmen yakni: Climate Positive (Iklim Positif), Thriving Landscape (Lansekap yang Berkembang), Inclusive Progress (Kemajuan Inklusif), dan Sustainable Growth (Pertumbuhan yang Berkelanjutan).

Lewat APRIL2030, Direktur Utama PT RAPP, Sihol Aritonang menyebutkan, perusahaan bahkan melanjutkan komitmennya untuk berinvestasi di bidang lingkungan dengan menyisihkan US$1 dari setiap ton serat yang digunakan dalam produksi untuk membiayai kegiatan restorasi dan konservasi.

Langkah-langkah konservasi itu dilakukan PT RAPP baik secara swakelola maupun melibatkan stake holder terkait juga masyarakat.

Salah satunya dengan menginisiasi kehadiran Restorasi Ekosistem Riau (RER) sebagai upaya melestarikan dan memulihkan ekosistem kawasan hutan rawa gambut di Semenanjung Kampar, yang memiliki nilai ekologi penting di Sumatera.

Baru-baru ini juga, PT RAPP juga meluncurkan program betajuk Konservasi Bersama Masyarakat.

Sebuah komitmen yang diharapkan bisa memastikan keberlanjutan terpeliharanya ekosistem kawasan hutan, utamanya adalah di areal  yang terletak di sekitar  perusahaan dengan melibatkan peran serta masyarakat.

Mengapa RAPP Peduli Konservasi dan melibatkan masyarakat? 

Aktivitas PT RAPP hampir sebagian besarnya adalah berkaitan dengan ekosistem kehutanan berpotensi untuk mengalami degradasi disebabkan beberapa faktor.

Hampir sebagian kawasan ekosistem lahan yang dikelola juga sangat sensitif, seperti halnya gambut. Namun lahan tersebut tetap memiliki kesempatan untuk bisa produktif. 

Karena itulah, dalam pengelolaan ekosistem gambut yang dimilikinya, PT RAPP menggunakan banyak sekali literasi keilmuan dengan harapan lahan yang dikelola tetap terpelihara dan terjaga secara berkelanjutan.

Salah satunya adalah teknologi water management, dimana lahan gambut dikelola dengan memperhatikan level muka air. 

Teknologi water management sendiri merupakan sistim  pengelolaan sumber daya air di lahan gambut untuk mengontrol  jumlah dan tinggi muka air sehingga mampu menjaga kelembaban lahan gambut yang mendukung pada upaya  pertumbuhan tanaman yang optimal  dan memperkecil bahaya kebakaran lahan.

RAPP juga melibatkan masyarakat melalui kelompok peduli api yang ada di desa-desa yang berada di sekitar areal usahanya untuk memastikan daerah-daerah yang berbatasan dengan kawasan hutan terhindar dari kebakaran hutan dan lahan.

''RAPP juga melakukan penanaman di lahan kritis atau terdegradasi yang ditinggalkan perambah ilegal guna mencegah terjadinya deforestasi dan perubahan fungsi kawasan hutan,'' ungkap Inra Gunawan, Head of Conservation PT RAPP dalam webinar yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. 

Bahkan, lanjut Inra, sebagai bagian dari komitmen kebaikan kelola usahanya,  PT RAPP- APRIL Group, juga mencanangkan program pemulihan 1 hektare lahan untuk setiap 1 hektare hutan tanaman yang dibangun oleh perusahaan.

Merujuk pada langkah-langkah yang telah dilakukan, dijelaskan Inra, program konservasi bagi RAPP, pada dasarnya bukan merupakan hal baru. 

Misalnya, di daerah Cerenti, lanjut dia, ada Lembaga Konservasi Desa (LKD)  Pulau Kopung, dan sampai saat ini masih berjalan dan mereka fokus pada panen madu.

Dia pun menjelaskan, bahwa pembentukan LKD ini, sebenarnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, dan dukungan dari perusahaan adalah dalam upaya menstimulasi masyarakat dalam upaya memastikan terpeliharanya ekosistem lingkungan di sekitar kawasan hutan. 

''Misalnya di Pulau Kopung mereka minta bagaimana cara memanen madu. Dulu, mereka ini kan ke hutan, dan produksinya kurang. Setelah ada komunikasi dengan perusahaan, akhirnya ada ide melakukan pelatihan kepada semua petani pemanen madu hutan bekerja sama dengan Litbang Kuok dan kini hasilnya produsi meningkat tanpa merusak ekosistem, target kita tetap konservasi,’’ kata dia. 

Dalam mengelola ekosistem lingkungan yang tetap terjaga, RAPP-APRIL Group menginisiasi hadirnya Restorasi Ekosistem Riau (RER) untuk melakukan monitoring maupun perlindungan terhadap ekosistem yang ada.

Salah satu yang menjadi concern dari RER adalah, berkaitan dengan restorasi hidrologis kawasan gambut yang berada di sekitar areal perusahaan.

Nyoman Iswarayoga, External Affair Director RER mengungkapkan, pada sebagian dari ekosistem gambut yang berada di sekitar areal perusahaan pada dasarnya juga mengalami degradasi jauh sebelum perusahaan hadir. 

Hal tersebut ditandai dengan banyaknya ditemui kanal-kanal yang selama ini digunakan sebagai sarana transportasi yang langsung menjurus ke laut. 

''Kanal-kanal ini berpotensi untuk menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekosistem hidrologis di kawasan gambut dan menyebabkan terjadinya kekeringan dan meningkatkan potensi kebakaran lahan,'' ungkap Nyoman.

Sejalan dengan komitmen PT RAPP untuk menjaga keseimbangan ekosistem ini, RER melakukan upaya-upaya pendataan, restorasi, selain melakukan penanaman kawasan kritis, maupun dengan melakukan pembuatan dam atau sekat  yang digunakan untuk memastikan lahan gambut yang ada tetap terbasahi.

RER juga melakukan upaya penanaman kembali kawasan hutan yang terdegradasi, dengan tujuan tetap memastikan kondisi kelestarian ekosistem dan keberagaman hayati di sekitar ekosistem yang di-briging oleh RER ini juga tetap terpelihara. 

Sepanjang tahun 2021 lalu, RER berhasil melakukan pemulihan dengan merestorasi hutan seluas hampir 12.000 hektare melalui berbagai metode, seperti penanaman, pemeliharaan maupun regenerasi.

RER juga mengembangkan 38.000 bibit di tujuh persemaian anakan alam yang tersebar di kawasan RER. 

Restorasi hidrologis juga terus dijalankan dan sejauh ini telah terbangun 87 bendungan untuk menutup 31 sistem kanal sepanjang 176,3 kilometer di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.

Dukung 1 Hektare Lahan Untuk Setiap 1 Hektare Hutan Tanaman 

Komitmen PT RAPP dalam upaya melakukan konservasi areal di sekitar usahanya, diakui Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Riau Makmun Murod merupakan komitmen besar pihak swasta ntuk merestorasi lingkungan. ''Ya, pastinya ini butuh komitmen besar untuk melaksanakannya,'' sebut Murod.

Salah satu yang juga menjadi atensi dinas, sebut Murod adalah perihal komitmen PT RAPP dalam memulihkan dan melestarikan 1 hektare lahan untuk setiap 1 hektar hutan tanaman yang dibangun.

Dijelaskan Murod, tidak mudah bagi dunia usaha untuk melakukan langkah-langkah progresif dalam upaya pelestarian ekosistem.

''Ketika melaksanakan komitmen 1 hektare lahan untuk 1 hektare hutan tanaman itu tentunya punya konsekuensi terhadap biaya yang dikeluarkan, plus kemitraan,'' sebut pria yang juga pernah bertugas di Kepulauan Meranti itu.

Berbeda dengan program reboisasi pada hutan alam yang didukung dana Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Reboisasi (DR) yang  dibiayai negara, program konservasi di areal hutan tanaman sebagaimana yang dilakukan PT RAPP murni oleh swasta. 

Karena itulah, Pemprov Riau khususnya Dinas LHK sangat mengapresiasi upaya-upaya seperti ini.

Penerapan kebijakan konservasi oleh dunia usaha sebagaimana yang dilaksanakan  PT RAPP- APRIL Group, dijelaskan Murod, mempunyai kontribusi dalam upaya Nationally Determined Contribution (NDC)/ pengurangan emisi gas rumah kaca, mencegah kebakaran hutan dan lahan juga  pelestarian ekosistem. 

Apalagi, di Provinsi Riau, hampir sebagian besar bentangan lahannya berada di antara ekosistem gambut dan mangrove yang bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem.

Nah, bagi kawasan yang mampu dikelola dengan baik, seperti bisa dicegah dari potensi kebakaran akan berkontribusi pada menekan  emisi gas rumah kaca.

Selain itu, sebut ungkap Murod, tentu saja adalah langkah-langkah ini ke depan juga akan memberikan nilai tambah dengan kebijakan carbon trade (perdagangan karbon) dari luar lahan yang mampu menahan terjadinya emisi. 

Dia juga mengapresiasi positif langkah  PT RAPP- APRIL Group melibatkan masyarakat dalam upaya mengkonservasi kawasan hutan dan lahan kritis yang ada lewat pola kemitraan.

''Saya pikir itu sebuah terobosan yang baik, karena dengan demikian akan mampu menjawab satu per satu persoalan yang berkaitan dengan tata kelola dan pemanfaatan kawasan hutan yang ada tanpa harus melakukan perubahan fungsi kawasan,'' sebut Murod. 

Harus diakui, jelas dia, bahwa tak jarang perusahaan punya komitmen untuk mempertahankan fungsi ekosistem, juga berhadapan dengan kepentingan masyarakat. 

''Nah, Kebijakan PT RAPP melibatkan masyarakat dalam konservasi --bukan saja berkaitan desa bebas api-- merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mencegah terjadinya degradasi hutan,'' puji dia. 

Dengan pelibatan masyarakat untuk mempertahankan dan mengkonservasi kawasan di sekitar tempat tinggal mereka, diharapkan bisa mempertahankan fungsi hutan yang ada.

''Bahkan bisa bertambah seiring dengan penyadar-luasan peran masyarakat untuk upaya konservasi ini. Masyarakat bisa tetap hidup di sekitar hutan, memanfaatkan hasil hutan non kayu, sembari menjaga lingkungannya,''tutup dia.(Penulis: BUDDY SYAFWAN/ Media: Riausky.com)

#APRIL2030 #APR2030 #exploreRER #sustainability #konservasi/ # http://aprilasia.com #PT RAPP

 

Berita Lainnya

Index