Intervensi Kenaikan Harga Bahan Pangan, Ini Yang Dilakukan Disketapang Pekanbaru

Intervensi Kenaikan Harga Bahan Pangan, Ini Yang Dilakukan Disketapang Pekanbaru
Kadis Ketahanan Pangan Pekanbaru Hj El Syabrina saat memotivasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Perhentian Marpoyan untuk tetap produktif memanfaatkan lahan kosong untuk bercocok tanam./Sumber Foto: riausky.com

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Badan Pusat Statistik melaporkan harga beras dan cabai merah menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kota Pekanbaru dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah Kota Pekanbaru, melalui Dinas Ketahanan Pangan  (Disketapang) Kota Pekanbaru melakukan sejumlah langkah-langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya lonjakan harga yang memberatkan perekonomian warga.

Salah satunya, disebutkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kota Pekanbaru, Ir.Hj. El Syabrina MP adalah dengan melaksanakan Gerakan Pasar Murah (GPM) serta memberikan subsidi untuk biaya transportasi sembako yang dipasarkan melalui iven pasar murah tersebut.

Hal tersebut diungkapkan El Syabrina saat melakukan panen sayur mayur, cabai dan buah di Perhentian Marpoyan, Kecamatan Marpoyan Damai, Selasa (31/1/2023).

Dijelaskan dia, langkah ini sedikit banyaknya bisa menekan biaya transportasi dari area produksi dan membantu juga menekan biaya beli warga pada iven-iven yang diselenggarakan tersebut.

Diakui El Syabrina, persoalan inflasi yang disebabkan fluktuasi harga terhadap beberapa komoditas, seperti beras, cabai dan telur, tidak terlepas dari beberapa kondisi.

Seperti halnya beras, hampir sebagian besarnya didatangkan dari luar daerah. ''Pekanbaru bisa kita katakan bukan daerah penghasil beras. Beras kita didatangkan dari daerah-daerah tetangga seperti Kampar, Pelalawan, Siak, juga dari provinsi tetangga seperti Sumbar, Lampung. Seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), harga beras dan bahan pangan yang didatangkan dari luar itu juga secara administrasi menyumbang pada kenaikan harga karena biaya transportasi pasti juga naik, dan kita tidak bisa mengintervensi situasi tersebut. Namun, lewat iven-iven seperti Gerakan Pasar Murah itu, kita membantu dalam bentu subsidi,''ungkap mantan Kadis Pertanian Kota Pekanbaru itu.

Begitu pun dengan kenaikan harga cabai, yang terdampak beberapa faktor, di antaranya adalah perubahan cuaca. ''Musim hujan di beberapa daerah sentra penghasil cabai berdampak pada kesehatan tanaman. Ada juga yang rusak, sehingga memperkecil jumlah produksi. Situasi itu berdampak pada berkurangnya pasokan. Sementara kita tahu, untuk di Riau, dan Sumatera umumnya, tingkat konsumsi cabai itu relatif tinggi, sehingga berlaku hukum pasar, produksi sedikit, permintaan banyak, harga naik,''papar wanita yang punya hobi bercocok tanam ini.

Karena itu juga, lanjut El Syabrina, aktivitas menanam cabai oleh masyarakat, baik di pekarangan, lahan kosong  sebagaimana yang dicanangkan Pj Wali Kota Pekanbaru Muflihun, akan sangat membantu untuk menekan biaya rumah tangga untuk membeli cabai. Dan itu memberi kontribusi terkait upaya menekan inflasi daerah.

Untuk itulah, dia mengimbau masyarakat untuk tetap mengintensifkan gerakan menanam di pekarangan dan lahan kosong. Karena pastinya akan sangat berdampak untuk membantu perekonomian warga.(R03)

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional