Bangunan-bangunan bermotif etnik terbuat dari kayu ini sekilas lebih mirip resort, mewah dan berkelas. Namun siapa sangka, kalau dari sini perjuangan menyelamatkan gambut seluas dua kali negara Singapura yang diinisiasi oleh APRIL Group bermula.
-----------------
Cuaca panas dan gerah menjadi teman perjalanan kami begitu penginjakkan kaki di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Selasa (24/10/2023) siang.
Tak ada angin, matahari terik membuat perjalanan terasa sangat lelah dan membosankan.
Saat kami tiba, kondisi permukaan air di Sungai Kampar di jalur Lintas Bono tampak sedang surut, sehingga beberapa kapal dan tongkang sulit untuk melintas.
Agar bisa jalan, beberapa tug boat pun berupa menarik dan mendorong. Namun, tentunya itu bukan hal mudah.
Arus air Sungai Kampar di daerah ini memang identik dengan pasang surut.
Saat air pasang, kapal-kapal maupun tongkang penangkut kayu bisa melintas dengan lancar. Namun bila air surut, sang nakhoda pun harus berjuang keras lepas dari alur kandas.
Terkadang harus memutar, berkelok-kelok menghindari dasar sungai yang dangkal, tak jarang juga bila sudah kandas, terpaksa menggunakan tugboat untuk menarik sekaligus pendorong agar tongkang bisa lalu.
''Ya memang seperti itu Bang, air di sungai ini bisa pasang dan surut sesuai dengan musim. Kadang pagi pasang, siang surut, sehingga kapal tongkang yang menjadi moda penyeberangan orang dan kendaraan umum harus menunggu berjam-jam agar bisa menyeberang antar pulau,'' ungkap Edi, awak sampan motor yang menyeberangkan kami ke Semenanjung Kampar.

Bangunan Eco Research Camp RER di Semenanjung Kampar, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Syukurnya, sampan mesin yang kami tumpangi ukurannya kecil, sehingga, untuk menyeberang ke lokasi Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang lokasinya satu hamparan dengan Areal Hutan Tanaman Industri (HTI) PT RAPP di Estate Meranti tidak terkendala. Hanya berkisar 20 menit saja. Kami pun tiba di pelabuhan jetty milik perusahaan.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil double cabin.
Begitu mendarat di area yang di peta sering di sebut dengan Kampar Peninsula itu, beberapa buah mobil double kabin membawa kami menuju pusat operasi Restorasi Ekosistem Riau (RER).
Sekitar 50 menit perjalanan menuju pusat aktivitas RER. ''Kalau dihitung dalam kilometer sekitar 60 kilometer Pak,'' ungkap sopir yang membawa kami.
Meski kondisinya agak bergelombang, namun, kondisi badan jalan keras dan sesuai dengan jenis kendaraan yang kami tumpangi.
Sementara di kanan kiri jalan, pemandangan hijau menghampar, berbaris-baris hutan tanaman industri- hutan konservasi begitu seterusnya, sebelum kemudian kami tiba di sebuah kawasan yang sangat jauh berbeda.
Dikatakan sebagai camp perusahaan tidak persis sama sekali. Lebih mirip sebuah resort yang berada di tengah hutan belantara.
Pemandangan di hamparan seluas sekitar 20 hektare ini seolah membayar rasa lelah setelah melakukan perjalanan selama lebih kurang 5 jam dari Kota Pekanbaru.
Beberapa bangunan besar berwarna kecoklatan bermotif rumah melayu, juga bangunan mirip rumah joglo serta hall besar menjadi pemandangan pertama yang kami lihat.
Bangunan-bangunan ini, walau terbuat dari kayu, namun tampak sangat mewah dan berkelas. Lantainya bersih dan mengkilap, fasilitas yang tersedia, sangat lengkap.
Ada juga sebuah menara yang tingginya berkisar 25 hingga 30 meter yang sekilas dipandang mirip bangunan pagoda juga beberapa bangunan mirip perumahan yang kendisinya sangat terawat.
Disana juga ada sebuah kantor mewah, lengkap dengan perangkat komputer, telekomunikasi, juga laboratorium.
Pemandangan ini mengingatkan kami dengan bangunan-bangunan yang menjadi pusat riset di beberapa film, seperti Jurassic Park, maupun film yang banyak mengambil angle tentang alam dan lingkungan.
Tempat ini menjadi pusat riset Restorasi Ekosistem Riau (RER), sebuah gerakan yang diinisiasi oleh APRIL Group untuk melakukan perbaikan ekosistem di salah satu lahan gambut terluas di Sumatera.
''Selamat datang di Restorasi Ekosistem Riau (RER), ungkap Junior Norris Marpaung, Communication Manager RER berserta staf, Vania, saat menyambut kedatangan kami di hall gedung utama RER yang bentuknya lebih mirip lobby mewah resort-resort besar di Bali.

Sepintas, pria yang akrab disapa Juno ini menjelaskan tentang RER dan fasilitas-fasilitas apa saja yang ada di camp ini, termasuk yang paling utama tentunya adalah laboratorium dan fasilitas untuk mendukung riset untuk lahan gambut (peatland) juga flora dan fauna endemiknya.
''RER merupakan area hutan seluas 150.693 hektar yang terletak di dua wilayah. Area seluas 130.095 hektar berada di tengah blok hutan yang membentang 344.573 hektar di Semenanjung Kampar ini, sedangkan 20.599 hektar lainnya berada di Pulau Padang,'' jelas dia.
RER, lanjut Juno, adalah program yang diinisiasi oleh APRIL Group dalam upaya merestorasi kondisi alam di sekitar areal usahanya dengan mengkolaborasikan peran serta dunia usaha dengan masyarakat dalam upaya memulihkan dan melestarikan ekosistem gambut yang miliki nilai ekologi tinggi di Semenanjung Kampar, Indonesia.
Setidaknya, jelas Juno, ada tiga alasan besar yang menjadi alasan bagi APRIL Group mendukung aktivitas RER, yakni, pertama, upaya untuk mempertahankan kondisi iklim, mengingat Semenanjung Kampar adalah adalah area gambut terbesar di Asia Tenggara dengan keanekaragaman hayati yang kaya serta memiliki stok karbon yang tinggi.
Kedua, mempertahankan keanekaragaman hayati baik flora dan fauna di sekitar kawasan tersebut yang hidup dalam sebuah matarantai kehidupan yang saling memiliki ketergantungan serta;
Ketiga, melibatkan partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan hutan sebagai potensi perekonomian yang harus dikelola secara berkelanjutan yang merupakan salah satu aspek penting dalam konservasi lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati di Semenanjung Kampar.(bersambung...)
Listrik Indonesia

