Siapapun yang berkunjung ke Eco Research Camp Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang didirikan APRIL Group pastinya akan terkesima. Bagaimana mungkin ada bisnis yang berani menginvestasi kan usahanya dalam bentuk restorasi dan perbaikan alam?
_______________________
KUNJUNGAN ke Eco Research Camp RER di Semenanjung Kampar tentunya menjadi pengalaman paling berharga bagi kami. Karena pastinya tidak semua orang akan bisa datang dan berada di tengah fasilitas mewah yang disediakan oleh APRIL Group tersebut untuk menyelamatkan ekosistem gambut di Semenanjung Kampar.
Masih pada hari pertama kunjungan, kami mengitari beberapa area terbatas yang hanya bisa dilalui oleh pekerja perusahaan APRIL Group maupun RER.
Salah satunya adalah meninjau kanal blocking yang dibangun oleh RER di dalam areal restorasi yang mereka kelola.
Kanal yang kami tinjau itu adalah 1 dari 38 kanal ilegal yang dahulunya digunakan oleh para pekerja illegal logging untuk mengeluarkan kayu dari dalam hutan.
Kanal-kanal berisikan air berwarna coklat kemerahan itu terlihat sangat bersih dan jernih layaknya habitat alami hutan. Tak ada sampah ditemukan di sekitar kanal yang telah dibuat dam-dam manual oleh pekerja RER.
Dari papan petunjuk kegiatan yang terletak di salah satu sisi kanal tertulis kalau kawasan itu berada di daerah rehabilitasi lahan yang dilakukan oleh PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN) grup RER dalam merestorasi Semenanjung Kampar pada tahun 2014.
Namun untuk kanal blocking atau dam dengan kode DAM ID: GCN 19 ini, dibuat pada tahun 2018 dengan kedalaman 1,8 meter serta lebar 2,7 meter.
Menurut Iqbal, salah seorang pekerja yang terlibat dalam pembuatan dam tersebut, kondisi kanal-kanal ini terus dipantau oleh pihak RER dalam upaya memastikan kawasan gambut di daerah sekitar yang dialirinya tetap basah dan tidak kering.
Dam tersebut bentuknya sederhana, yakni dibuat dari karung kedap air geo rein fox berisikan pasir dan batu kerikil.
Disusun sedemikian rapi dan bertingkat untuk memblok aliran air.
Dijelaskan dia, tak semua dam ini dibuat menggunakan karung berisi pasir ini. Ada juga yang dibuat dari bahan lain sesuai dengan kondisi areal yang akan dibangun dam.
Kanal yang kami tinjau itu tersebut berada di lokasi rehabilitasi yang dikelola oleh PT Gemilang.
Meski tergolong sepi dan berada di tengah hutan, namun para pekerja sering memanfaatkan kanal ini untuk melepas rehat dengan mencari ikan.
''Kalau ikan lembat (lele,red) di sini banyak Pak. Kalau untuk cari 2-3 kilo dalam 1 jam itu pasti dapat,'' ungkap pekerja lainnya yang ikut mendampingi kunjungan kami ke kanal tersebut.
Junior Marpaung, Corporate Communication Manager RER mengungkapkan, daerah di sekitar kunjungan kami ini sebelumnya termasuk daerah terdegradasi akibat aktivitas perambahan liar.
Daerah itulah yang kemudian direhabilitasi dengan dilakukan penanaman dan penghijauan menggunakan bibit tanaman asli atau endemis di kawasan tersebut.
''Kami tidak merekomendasikan membawa satwa dari luar areal ini untuk dikembangbiakkan atau dibudidayakan di areal ini, termasuk untuk jenis tanaman. Yang kami tanam adalah tanaman asli dari areal ini juga,'' kata dia.
Begitu pun untuk jenis ikan, meskipun sangat memungkinkan untuk dibudidayakan, namun pihak RER tidak merekomendasikan untuk memasukkan jenis-jenis lain di kanal yang ada.
''Kita tidak ingin menciptakan ketidakseimbangan mata rantai kehidupan di kawasan ini. Karena itu, tidak ada ikan jenis lain selain yang memang asli di tempat ini,'' ungkap pria yang akrab disapa Juno ini.
Dia juga menjelaskan, dari penelusuran RER di areal seluas 150 ribu hektare itu, ada tak kurang dari 38 kanal ilegal di kawasan itu. Namun, saat ini, sebagian besar kanal itu telah ditutup. ''31 kanal sudah kita tutup. Di kanal-kanal yang sampai saat ini masih mengalirkan air yang mengatur kadar hidrologis lahan gambut di areal ini, RER telah membuat sebanyak 87 dam.
Dam ini panjangnya bisa sampai berpuluh likometer ke dalam hutan. Dibuat dengan memperhatikan tingkat kemiringan lahan sehingga tetap mampu mengalirkan air.
Meski dibuat secara manual dan menggunakan material umum, namun, umumnya dam-dam ini bisa bertahan dalam waktu panjang, bahkan berkisar puluhan tahun.
Untuk memastikan kondisinya tetap baik, setiap tahunnya RER akan melakukan pemeriksaan untuk mamastikan dam-dam itu bekerja sesuai dengan tujuan pembuatannya.
Berjuang untuk Hidup Sebatang Pohon di Hutan Belantara
Selepas melakukan peninjauan kanal blocking, riausky bersama sejumlah jurnalis lainnya diajak untuk melihat sebuah arboretum atau pusat pembenihan tanaman endemik Semenanjung Kampar.
.jpg)
Rocky (berbaju kaos abu-abu,red) memberikan penjelasan tentang apa yang dia lakukan di lokasi nurseri tanaman alam di Semenanjung Kampar.
Kawasan nurseri ini berada masih di tengah areal restorasi. Ini adalah 1 dari 7 areal nurseri bibit pohon yang dikelola oleh RER di kawasan itu.
Di tempat itu, kami disambut oleh staf RER bernama Rocky.
Pria lajang ini mengaku kalau dia sudah bekerja di pusat pembibitan tanaman alam ini semenjak tahun 2006 lalu.
Bersama beberapa timnya, Rocky mengaku kalau pekerjaan melakukan mebibitan tanaman hutan ini adalah pekerjaan yang sangat memerlukan ketekunan dan kesabaran.
''Bibit yang ada di sini, semuanya berasal dari tiga pola budidaya, ada yang berasal dari anakan alami yang diambil dari kaki-kaki pohon indukannya di dalam hutan. Ada juga yang dipelihara dari biji, namun juga ada yangberasal dari penyemaian menggunakan stek,'' kata dia.
Hanya saja, untuk menjadikan tanaman yang hutan tersebut bisa hidup dari proses penyemaian yang dilakukan sangat membutuhkan ketelatenan dan kesabaran.
''Kalau akasia bisa dengan mudah dibudidayakan dan mudah tumbuh, namun untuk tanaman hutan, prosesnya memerlukan kesabaran yang luar biasa,'' ungkap Rocky.
Dia menunjuk beberapa rumpun polibag pohon ramin yang tingginya berkisar 1 meter.
''Itu pohonnya sudah kita tanam lebih kurang 3 tahun, tapi baru sebesar itu,'' jelas dia.
Belum lagi jenis-jenis pohon lainnya yang tingginya baru berkisar 30-50 centimeter, yang menurut Rocky sudah berumur 1 tahunan.
''Jadi bukan cuma bibitnya saja yang sulit untuk dicari, tapi juga untuk memastikan tanaman ini bisa hidup dan bertahan setelah ditanam itu juga diawasi. Tidak semua juga dari tumbuhan itu yang bisa hidup saat dikembalikan ke alam. biasanya rata-rata angka kehidupannya di sini berkisar 70-80 persen,'' jelas Rocky.
Riausky sempat mencatat beberapa species kayu hutan yang dikembangkan dan dibudidayakan di dalam nurseri ini. Selain jenis ramin (gonystylus bancanus) juga ada bibit meranti, kempas, kayu malas (Parastemn versteeghii), terentang daun lebar (campnosperma auriculatum), meranti rawa (Shore Macrantha), meranti bakau, pohon redan (nephoelium maingayi), kelat jambu (syzygium grande), suntai (palaquium gutta), resak (vatica teysmannianna) punak (tetramerista giabra), pulai (alstonia cholaris) dan aneka jenis pohon hutan lainnya.
''Setelah sampai umurnya, biasanya dengan tinggi berkisar 50 cm hingga 1 meter, tanaman yang dibudidayakan di nurseri ini akan dikembalikan ke habitatnya di tengah kawasan hutan. Biasanya ditanam di sekitar daerah-daerah yang sudah terdegradasi atau mengalami kerusakan. Setelah ditanam, nanti secara berkala kita cek kondisi tumbuhnya,'' ungkap Rocky.
Dari penjelasan Rocky, setidaknya di areal nurseri (penyemaian) yang dimiliki RER ini, pada saat tinjuan kami ada tak urang dari 23.000 batang bibit dan sebagian besarnya sudah siap ditanam.
Totalnya, lanjut dia, dari 7 lokasi pembibitan yang terletak di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Kepulauan Meranti, tahun ini saja ada sebanyak 60 an ribu bibit yang siap untuk dikembalikan ke ekosistem aslinya.
Kami pun sempat berkelakar tentang sulitnya melakukan budidaya tanaman hutan ini di tengah tingginya keinginan manusia untuk memanfaatkan lahan untuk budidaya tanaman yang lebih tinggi produktivitasnya secara ekonomi.
Di tengah kunjungan kami di tengah hutan belantara itu, hujan gerimis rinai turun membasahi dedaunan dari anakan pohon asli semenanjung kampar yang dibudidayakan.
Daun-daun yang tadinya terlihat kering menjadi hijau dan bercahaya dibaluri bulir air hujan.
Kami pun menyegerakan diri untuk kembali ke Eco Camp yang jaraknya berkisar 30 kilometer dari lokasi budidaya dikarenakan khawatir kondisi hujan berpotensi mengganggu kondisi perjalanan kami menerobos hutan koservasi ini.(Bersambung....)
Listrik Indonesia

