Melihat Eco Camp RER di Semenanjung Kampar (5)

Jadi Rumah untuk Populasi 50 Ekor Harimau Sumatera dan Ratusan Jenis Satwa

Jadi Rumah untuk Populasi 50 Ekor Harimau Sumatera dan Ratusan Jenis Satwa
Harimau Corina.

Berada  di Eco Research Camp Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar bagi kami tentunya hal baru yang menyenangkan. Namun, berada di tengah kawasan hutan dengan tutupan yang demikian lebat tetap membutuhkan kewaspadaan.

______________________________

APALAGI yang paling patut diwaspadai ketika berada di tengah kawasan hutan selain keberadaan binatang buas dan berbisa.

Kontur lahan Semenanjung Kampar yang berada di lahan gambut dalam ternyata menyimpan banyak sekali populasi flora dan fauna.

Di tempat ini, selain menjadi rumah bagi populasi burung, ikan, kucing hutan, beruang madu, spesies ular, kijang, rusa, babi hutan, juga menjadi rumah bagi harimau sumatera.

Satwa dilindungi yang berada di puncak piramida makanan di kawasan hutan seluas lebih 350 ribu hektare dari data yang diungkapkan RER memiliki populasi berkisar 50 ekor. Wow... jumlah yang sangat banyak.

Kandang harimau sumatera Korina sebelum dilepas liarkan di habitatnya di kawasan ekosistem gambut RER.

Secara resmi data tersebut, diakui Corporate Communication Manager RER, Junior Norris Marpaung memang belum pernah dirilis. Namun, itu data dari hasil penelitian oleh beberapa lembaga yang pernah masuk ke kawasan yang juga berbatasan langsung dengan Taman Nasional Zamrud yang berada di wilayah Siak dan Bengkalis.

Itulah yang menyebabkan meski pun berada di kawasan Eco Camp yang dibuat menggunakan tiang pancang cukup tinggi di bawah bangunan, tetap saja, kehati-hatian dan kewaspadaan diperlukan bagi siapapun yang berkunjung ke Eco Camp ini.

''Kepada karyawan yang bekerja di sini, kita senantiasa mengingatkan untuk tetap berhati-hati saat bekerja. Pada malam hari pun kita mengimbau untuk tidak keluar sendiri atau mengurangi intensitas di luar gedung,'' ungkap  pria yang akrab disapa Juno ini.

''Sejauh ini memang belum pernah ada konflik dengan satwa di kawasan ini, termasuk dengan harimau,'' jelas dia lagi.

Pada malam saat kami berada di Eco Camp ini pun standar keamanan yang kami gunakan seperti itu.

Bila berada di luar ruangan, tetap berkelompok, karena tetap saja, kewaspadaan diperlukan saat berada di tengah hutan belantara yang posisinya dikelilingi oleh Hutan Tanaman Industri (HTI) RAPP di Estate Meranti.

Bicara tentang si Raja Hutan, Harimau, Juno mengaku kalau sejauh ini pengamatan terus dilakukan oleh RER menggunakan kamera trap (jebak) yang dipasang oleh para ranger dan petugas yang melakukan penelusuran ke dalam hutan.

''Beberapa kali memang ada terpantau melalui kamera. Tapi untuk jumlah riil populasinya kita belum pernah melakukan penelitian khusus,'' jelas Juno.

Hanya saja, bila berbicara tentang habitat harimau di areal RER, salah satu yang diketahui persis keberadaannya adalah harimau Corina.

Corina adalah harimau jantan yang ditangkap di sekitaran Teluk Meranti karena terkena jerat rusa.

Setelah berhasil diselamatkan, Corina dilepasliarkan di kawasan RER.

''Kita minta pada waktu itu kepada BBKSDA berdasarkan sejumlah kondisi di RER dan ternyata disetujui,'' ungkap Juno.

Keberadaan Corina sempat terpantau selama beberapa bulan di dalam areal RER. Bahkan, daya jelajahnya sudah mencapai 200 kilometer dari lokasi awal pertama sekali dia dilepas.

''Kita memasang pelacak pada Corina yang akan lepas dengan sendirinya setelah 6 bulan. Sekarang untuk keberadaan Corina diperkirakan masih aman di dalam kawasan RER,'' kata dia.

Selain Corina, keberadaan harimau juga sering terpantau di Pos Harimau yang terletak di tepi Sungai Serkap.

''Mengapa dikatakan Pos Harimau, tak lepas dari keberadan harimau yang sering muncul dan menampakkan diri pada saat petugas membangun Pos pengamanan di kawasan ini, dulu sering muncul, tapi sekarang kemungkinan masih sering muncul tapi tak terpantau,'' jelas Sataria, salah seorang Ranger yang kami temui saat melintasi Sungai Serkap yang memesona.

Pos Ranger  (Jagawana) RER di tepian Sungai Serkap yang juga menjadi salah satu lokasi terpantaunya harimau Sumatera.

Sebagai salah seorang dari Ranger (jagawana) yang  bekerja bersama RER, Sataria pun mengungkapkan banyak sekali pengalaman berharga yang mereka dapati yang tidak didapati orang lain saat menjaga ekosistem gambut di Semenanjung Kampar ini.

Salah satunya adalah, sebut dia saat berpapasan dengan buaya berkururan sebuah tinting (kendaraan air terbuat dari plat besi,red).

''Di sungai ini, saat itu kami patroli dan menemukan buaya moncong pendek, ukurannya sebesar tinting kita ini. Kita sempat khawatir, sehingga memilih diam sampai buaya tersebut menghilang,'' jelas dia.

Hidup sebagai ranger bagi Sataria dan rekan-rekannya tentu saja tidak mudah. Karena, baru melakukan rotasi setelah 2 minggu bertugas.

''Kita tukaran grup setelah 2 minggu. Jadi selama 2 minggu kita bertugas di pos ini,'' jelas Sataria kepada para jurnalis yang datang  ke pos tersebut.

Syukurnya, kesunyian dan keheningan juga kewaspadaan berada di tengah hutan belantara itu sedikit terbantu dengan jaringan komunikasi milik salah satu perusahaan telekomunikasi yang bisa menjangkau kawasan tersebut.

''Sebenarnya tak ada jaringan komunikasi disini. Cuma dulu, dari teman-teman ada yang suka memanjat pohon di belakang pos untuk menelepon. Itu juga yang kemudian menjadi ide bagi kami untuk menggantung ponsel setiap hari sebagai wifi di puncak pohon ramin setinggi lebih  40 meter,'' ungkap Sataria.

Ponsel digantung dengan cara digerek seperti bendera. Setiap harinya, ponsel yang digantung bergantian supaya bisa dicharger.

Lantas bagaimana caranya menggantung ponsel ke puncak pohon ramin setinggi 40 meter yang berada di tepian sungai dan dikelilingi semak belukar?

Sataria pun menjelaskan kalau untuk bisa menggantungkan ponsel ke puncak pohon, awalnya dengn melemparkan joran pancing ikan ke arah pohon menggunakan pemberat.

Jadi sebelum diganti tali rayon, awalnya yang dilempar itu tali pancing menggunakan tali tipis dan pemberat. Ternyata sampai  ke puncak pohon. Setelah itu baru diganti dengan tali nilon seukuran tali untuk menggerek bendera.

Setiap ponsel yang digunakan sebagai Wifi sebelum digerek seperti bendera akan dibungkus dulu menggunakan plastik dan kain bekas.

Plastik gunanya supaya kalau hujan tidak basah. Serangkan kain bekas gunanya untuk meredam efek panas terhadap ponsel yang bisa menyebabkan baterai ponsel cepat habis.

''Jadi setiap pagi kami mengganti ponsel yang akan digantung ke puncak pohon supaya bisa tetap bisa berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk dengan keluarga,'' jelas dia.(bersambung...)

 

 

 

 

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional