PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Beberapa tahun lalu, Riau sempat menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai permasalahan stunting atau atau tengkes.
Bahkan, angkanya pernah melampaui angka nasional pada tahun 2021 lalu, yakni mencapai 22,3 persen, atau jauh di atas angka nasional yang berkisar 21 persen.
Namun, seiring waktu dan upaya yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun pola kolaborasi bersama stake holder di daerah, permasalahan tersebut berhasil ditekan.
Terakhir, pada tahun 2024, angka stunting di Provinsi Riau berkisar 13,6 persen atau kini jauh di bawah rata-rata nasional yang kini berkisar 21,5 persen.
Salah satu tonggak dari keberhasilan dalam penanganan permasalahan stunting ini adalah upaya-upaya sinergi dan kolaborasi yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Riau, kabupaten dan kota bersama dengan stake holder terkait di daerah, salah satunya adalah bersama PT RAPP.
RAPP telah menjadi bagian dari program penurunan stunting yang merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan APRIL 2030 pada pilar Kemajuan Inklusif.
Komitmen tersebut sudah ditegaskan oleh perusahaan sejak tahun 2020 lalu, dengan target menurunkan prevalensi stunting hingga 50 persen pada balita-balita di desa-desa di Provinsi Riau.
Selama lima tahun terakhir, APRIL Group telah menjalankan berbagai upaya untuk memberikan dampak sosial yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar area operasionalnya di Pangkalan Kerinci, Provinsi Riau.
Baru-baru ini, APRIL merangkum progress komitmen inklusivitas khususnya untuk menekan angka stunting dan kesehatan masyarakat.
Dalam Laporan Kemajuan yang mencatat capaian-capaian penting selama lima tahun implementasi komitmen APRIL2030 tersebut, salah satu dari capaian yang hendak diraih adalah menurunkan prevalensi stunting anak balita di desa-desa khususnya di Provinsi Riau hingga 50 persen pada 2030.
Bagi RAPP ini tentunya menjadi hal yang penting, dimana sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Integrasi tujuan sosial ke dalam operasional bisnis adalah langkah penting untuk memastikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.
Berdasarkan Laporan Kemajuan APRIL2030, pada 2024 angka stunting di Riau telah mencapai 13,6 persen, yang melampaui target 2030.
Di desa-desa sasaran APRIL Group, jumlah desa dengan penurunan angka stunting juga terus bertambah dan menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dari 16 desa pada 2019 lalu, menjadi 74 desa pada 2024.
Adapun bagian dari upaya tersebut dilakukan dengan secara rutin menyediakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta mengedukasi warga di desa-desa, terutama keluarga dengan kondisi ekonomi yang rentan terhadap stunting.
Tahun lalu, lebih dari 16.000 anak di 73 desa telah mendapatkan manfaat dari program ini.
Selain itu, APRIL Group juga mendukung Strategi Nasional Pemerintah untuk Percepatan Pengurangan Stunting dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memberikan pembinaan, lokakarya dan penyuluhan.
Upaya intervensi dengan meningkatkan kapasitas kader posyandu, pemberian makanan tambahan untuk balita gizi buruk dan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis/KEK, penyediaan peralatan puskesmas, kampanye kesehatan, dan pemantauan kegiatan Posyandu.
Program Stunting APRIL Group ini sebenarnya sejalan dengan Perpres Nomor 72 Tahun 2021, tentang Percepatan Penurunan Stunting secara nasional. Termasuk, mengenai program pemerintah Indonesia menurunkan angka prevalensi stunting nasional hingga 14 persen.
Koordinator Program Kesehatan PT RAPP Purwo Widi Astanto pada waktu itu mengatakan salah satu komitmen PT RAPP untuk menurunkan prevalensi stunting di Riau difokuskan pada desa-desa sasaran. Dan untuk mencapai tujuan ini, perusahaan melakukan beberapa pendekatan.
Pendekatan pertama, melalui stakeholder engagement dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten.
Dalam hal ini, PT RAPP bekerja dengan empat kabupaten di sekitar wilayah usahanya, yaitu Siak, Kampar, Kepulauan Meranti, dan Pelalawan.
Mereka menjalin kemitraan strategis dengan lembaga mitra yang berpengalaman dalam pendampingan teknis dalam menyusun strategi komunikasi perubahan perilaku dan mendukung 8 aksi konvergensi.
Tentunya tak hanya dalam upaya penangana stunting, di bidang kesehatan, APRIL Group juga mempunyai komitmen untuk meningkatkan akses layanan kesehatan primer di desa-desa sasaran di Riau.
APRIL Group yang pernah menandatangani perjanjian kerja sama Public-Private Partnership (PPP) pertama dengan Kementerian Kesehatan berfokus pada deteksi dini penyakit anak dan kondisi kesehatan ibu.
Program ini mencakup pengadaan peralatan diagnostik, pelatihan untuk tim medis, serta peningkatan rujukan dari puskesmas ke rumah sakit.
Dari 41 puskesmas yang terlibat dalam program kerja sama ini, sebanyak 27 puskesmas telah mendapatkan peralatan deteksi dini dan program pelatihan. Dua puskesmas di antaranya bahkan telah memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh pemerintah.(*)
Listrik Indonesia

