PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Pekanbaru, H Maisisco menjadi salah satu narasumber dalam Focuss Geoup Discussion (FGD) Penguatan Kurikulum program MMA Universitas Islam Riau, Selasa (11/6/2025).
Pada kegiatan tersebut, H Maisisco sangat mengapresiasi sinergi yang dilakukan oleh jajaran kampus dengan pemerintah, khususnya Dinas Ketahanan pangan.
Dia menyebutkan, ada banyak sekali sinergi yang bisa dilakukan dalam mendukung dan mempertajam penelitian yang dilakukan oleh jajaran kampus berkaitan dengan kerja-kerja yang dilaksanakan pemerintah.
Sering kali, kata dia, karena terbatasnya akses, penelitian yang dilakukan mahasiswa cenderung itu-itu saja. Padahal, kondisi di lapangan, berkembang sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dan memerlukan banyak sekali analisis dan membuka peluang bagi para mahasiswa.
Salah satunya, sebut Maisisco adalah dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG).
Maisisco menjelaskan, dalam program ini, banyak sekali peluang yang bisa digunakan oleh kalangan akademis, khususnya mahasiswa untuk diteliti.
Misalnya perihal kebutuhan bahan baku maupun tenaga kerja lokal. ''Setiap SSPG akan berdiri dalam radius tiap 3 kilometer. Dan tiap SPPG akan melayani tak kurang dari 3.500 kepala, baik itu siswa, ibu hamil maupun menyusui. Untuk itu membutuhkan sumber daya pangan lokal maupun masyarakat yang bekerja untuk mendukung. Kalau itu tidak mampu diantisipasi, bukan tidak mungkin bahan baku untuk dapur SPPG ini harus didatangkan dari luar daerah, bahkan untuk orang-orang yang bekerjanya,'' ungkap H. Maisisco.
Karena itulah, kurikulum yang dihadirkan oleh Universitas Islam Riau dalam dialog ini menjadi sangat penting. Terutama untuk bisa disejalankan dengan praktik yang ada di lapangan.
Dia mencontohkan juga persoalan sampah yang terjadi di Kota Pekanbaru, dimana pangan juga menjadi salah satu penyumbangnya.
''Kalaulah semenjak awal dapur-dapur SPPG tidak didukung dengan analisis tentang food lost dan food waste, tentunya, ketika nantinya ada banyak berdiri dapur SPPG, juga akan berkontribusi untuk menimbulkan permasalahan ke depannya,'' kata dia.
Diperlukan banyak sekali masukan dan peran kampus dalam mendukung sebuah kebijakan mulai dari proses di hulu maupun di hilir.
Kampus bisa mengambil peranan dalam meneliti terkait potensi food lost dan food waste dan memberikan masukan kepada pemerintah tentang solusi yang bisa dilakukan dalam mendukung kebijakan ini.
''Misalnya, untuk kebutuhan bahan baku, Pekanbaru belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan untuk dapur MBG. Saat ini kita masih mendatangkan dari provinsi atau luar daerah seperti dari Sumbar, Sumut, jawa dan kabupaten kota tetangga lainnya. Padahal, bila diproduksi oleh masyarakat lokal, pastinya juga akan mampu membangkitkan roda perekonomian,'' jelas Maisisco lagi.
Maisisco juga melihat, di setiap dapur SPPG ini, mahasiswa juga bisa dilibatkan dalam program magang, sehingga juga bisa mendukung pada penguatan potensi lokal.
''Pekanbaru sebenarnya kan juga punya potensi cukup besar. Misalnya, untuk ikan air tawar yang saat ini banyak dikembangkan menggunakan bioflog. Kehadiran mahasiswa dalam mendukung penguatan pangan lokal ini sangat memungkinkan khususnya di sisi hulu dan hilirnya. Mahasiswa juga bisa terlibat dalam mendukung penguatan ketersediaan pangan lokal. Semua itu hanya memerlukan kolaborasi, karena peluangnya cukup terbuka,'' kata Maisisco.(R04)
Listrik Indonesia

