Riau; Karhutla dan Asap Yang Akan Bikin Jadi Pusat Perhatian (Lagi)

Riau;  Karhutla dan Asap Yang Akan Bikin Jadi Pusat Perhatian (Lagi)
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Riau./ Foto: media center riau.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Kondisi kebakaran hutan dan lahan yang kian mengkhawatirkan kembali menjadikan Riau sebagai pusat perhatian.

Saat ini, pemerintah Republik Indonesia sedang berusaha keras untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan yang luasannya kini terus bertambah.

Bahkan pada 16 Juli 2025 lalu, tercatat terjadi lonjakan tertinggi terhadap jumlah titik api, yakni mecapai 1.300 titik.

Data terbaru pada 22 Juli 2025 lalu yang dikeluarkan Pusat Data dan Informasi BPBD Riau, luas lahan yang terbakar sudah mencapai 1.008,62 hektare dan itu tersebar di 12 kabupaten  dan Kota yang ada di Provinsi  Riau.

Rokan Hulu menjadi daerah dengan luasan lahan terbakar  terparah mencapai 229,3 hektare, disusul Rokan Hilir 204,25 hektare, Kampar 188,45 hektare, Siak 87,8 hektare, Kepulauan Meranti 74,20 hektare, Kota Pekanbaru, 51,20 hektare, Kota DUmai 49,83 haktare, Inhil 26,50 hektare, Pelalawan 25 hektare, Inhu 18,25 hektare dan Kuansing 3,50 hektare.

Beberapa menteri pun kini harus turun langsung memastikan kebakaran hutan dan lahan dapat dikendalikan. Dua menteri yang pasti dan dalam beberapa waktu terakhir terus hilir mudik di Riau adalah Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.

Tentunya ini bukan sekadar bentuk perhatian, namun juga sebagai bentuk kekhawatiran  mengingat permasalahan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya sebatas menghanguskan hutan dan lahan yang ada, namun juga berdampak lebih luas terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat dan yang paling tidak mengenakkan adalah bila sampai negara tetangga mulai komplain  karena wilayah mereka terpapar  asap kiriman dari wilayah Indonesia.

Kisah-kisah ini tentunya menjadi salah satu momok yang paling menakutkan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan  bagi para menteri tersebut. Konon lagi bila itu terjadi di Riau.

Dengan luas haparan lahan gambut yang melebihi setengah dari luas wilayahnya, sulitnya mencari sumber air di tengah kondisi kekeringan  serta jaraknya yang relatif  sangat dekat karena berbatasan dengan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, menjadi catatan penting.

Harap diingat, Riau pernah gelap gulita karena begitu pekatnya dampak asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan dan sampai mengimpor asap ke negeri tetangga.

Mengkhawatirkan situasi  tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol  Nurofiq bahkan sampai terjun langsung ke pusat sebaran karhutla terparah yakni di Rokan Hulu dan Rokan Hilir. Ikut memegang selang dan menyemprotkan air ke lahan yang terbakar. Begitu juga Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang terus berkeliling demi menyemangati jajarannya untuk terus mengantisipasi potensi karhutla. 

Selain menyemangati petugas yang masih berjuang di lapangan, mereka juga mengajak pemerintah daerah, masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla dan membantu pemerintah meminimalisir dampak kebakaran hutan dan lahan di tengah kondisi kemarau yang sedang melanda wilayah Riau.

Namun, upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan ini tentunya tak akan bisa meksimal bila hanya melibatkan kerja-kerja pemerintah, kepolisian maupun TNI saja.

Kekuatan terbesar dari bangsa ini adalah jumlah masyarakatnya yang banyak dan sebarannya yang sangat mendukung untuk upaya kolaboratif  pemadaman kobaran api dan kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat juga menjadi kekuatan yang paling dekat dan paling tahu tentang potensi lahan dan daya dukung alam  seperti ketersediaan air dan langkah-langkah antisipatif lainnya.

Pemerintah juga perlu menegaskan komitmen dari para pelaku usaha, pemegang izin konsesi  baik dibidang kehutanan dan pertambangan untuk bersama-sama menangani karhutla, walau pun itu berada di luar dari areal konsesi yang meraka kelola.

Dan yang terpenting adalah, tindakan tegas terhadap pengelola lahan yang tidak memperhatikan aspek keselamatan lingkungan dalam tata kelola kawasan yang menyebabkan  terjadinya kebakaran, khususnya di areal yang mereka kelola.

Pesan terakhir ini penting megingat, sampai saat ini, masih banyak perusahaan yang belum memiliki kekuatan yang memadai dalam upaya mengendalikan dampakkerusakan alam yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan.  Alias mereka hanya memiliki sarana penanggulangan kebakaran seadanya, dan tidak melakupan pembinaan terhadap kelompok masyarakat sekitar dalam upaya penanggulangan karhutla.

Semoga, permasalahan Karhutla ini bisa segera cepat berlalu dan udara di Riau yang mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat juga bisa terus membaik.

Buddy Syafwan-Jurnalis di Pekanbaru

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional