Pakar Nilai Target Lifting 1 Juta Barel Dorong Stabilitas Ekonomi dan Swasembada Energi

Pakar Nilai Target Lifting 1 Juta Barel Dorong Stabilitas Ekonomi dan Swasembada Energi

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Sejumlah akademisi di Pekanbaru, mengapresiasi capaian pemerintah Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka dalam mengelola energi, khususnya lifting migas yang dimotori Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Pakar energi Universitas Islam Riau, Ira Herawati menilai pemerintah sudah menunjukkan keseriusan dan komitmennya untuk memberikan fasilitas peningkatan lifting, baik dari sisi teknologi, pembiayaan, insentif, dan dukungan Enchanced Oil Recovery (EOR).

"Kebetulan saya mengikuti grup forum diskusi EOR, dan di dalam itu banyak unsur dari pemerintah. Informasi yang sudah kita dapatkan dari pemerintah masif untuk mendukung, untuk melakukan peningkatan-peningkatan EOR, walk-over, dan segala macam. Jadi yang kita bisa lihat dari informasi itu (upaya peningkatan lifting), ya masif," kata Ira dalam Diskusi Satu Tahun Kabinet Prabowo-Gibran dari Sudut Pandang Energi di salah satu hotel Pekanbaru, pada Jumat (14/11/2025) siang.

Dengan adanya keseriusan tersebut, Ira pun optimistis target lifting minyak 1 juta barel per hari dapat tercapai. Adapun saat ini konsumsi BBM dalam negeri mencapai 1,6 juta barel per hari dengan lifting 600 ribu barel per hari, yang artinya ada impor 1 juta barel untuk memenuhi kebutuhan BBM harian.

Lebih lanjut, Ira juga mengapresiasi langkah pemerintah yang melegalkan 45 ribu sumur minyak rakyat. Menurut dia, selain meningkatkan angka lifting nasional, sumur rakyat juga akan mengerek ekonomi masyarakat yang mengelola sumur tersebut. "Efek dominonya meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Betul itu tadi. Ekonomi lokal, pendapatan masyarakat di tempat itu juga meningkat," ungkapnya.

Dari sudut pandang ekonomi, ekonom Universitas Persada Bunda Indonesia, Riyadi Mustofa menilai upaya pemerintah mengejar target lifting minyak 1 juta barel per hari bakal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan impor. Riyadi menyebut peningkatan lifting secara langsung akan memperbaiki struktur permintaan dan penawaran energi nasional. Jika capaian lifting 1 juta barel per hari tercapai, menurut Riyadi maka akan terjadi keseimbangan pasar.

“Kalau kegiatan lifting ini bisa menambah supply, berarti nanti ketika supply terpenuhi akan terjadi keseimbangan pasar. Keseimbangan pasar itu terjadi ketika jumlah permintaan dengan jumlah barang yang tersedia itu sesuai,” ujar Riyadi.

Selain membuat keseimbangan pasar, Riyadi memaparkan bakal terjadi multiplier effect khususnya stabilitas harga bahan pokok di masyarakat jika lifting minyak mencapai 1 juta barel per hari. Sebab dengan stok yang melimpah, harga BBM dapat lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh gangguan distribusi.

"Kalau ini BBM, minyak khususnya energi, ini kan sebagai salah satu kunci dalam perekonomian. Nah oleh sebab itu, kalau saya sebagai orang ekonomi, setuju (peningkatan lifting) karena dapat meningkatkan supply. Sehingga harapannya, tentu harapan kita semua ya, harga (BBM) di dalam negeri menjadi lebih murah. Kalau barang itu bersubsidi, maka subsidi bisa dikurangi atau ditekan,” lanjutnya

Sementara itu, pakar komunikasi publik dari Universitas Riau (Unri), Chelsy Yesicha menilai langkah pemerintah yang ingin mendorong lifting nasional melalui legalisasi 45 ribu sumur minyak rakyat sudah tepat. Menurut dia, langkah ini merupakan langkah nyata swasembada energi pemerintahan Prabowo-Gibran seperti termaktub dalam Asta Cita dengan membuka ruang partisipasi masyarakat.

Namun, ia mengingatkan kebijakan ini juga harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat. Sebab, kebijakan ini bakal membuat makin banyak masyarakat ingin membuat sumur minyak baru sehingga bisa menimbulkan konflik lain, jika pengawasannya tak cukup baik.

"Kalau memang bisa berjalan dengan baik, dengan kontrol yang baik, dan dimanfaatkan dengan baik, dengan kanal-kanal lingkungan dengan baik, pemeliharaan lingkungan dengan baik, dan pengawasan dengan baik, tidak memicu konflik apalagi di masyarakat. Itu kan bakal ada konflik-konflik baru yang memungkinkan muncul. Apakah pemerintah bisa mengontrol itu? Kalau bisa, itu akan lebih baik," ujar Chelsy.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan pada 2030 produksi minyak Indonesia mampu menembus 1 juta barel per hari, dengan strategi agresif di sektor eksplorasi, reaktivasi sumur tua, dan penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Adapun saat ini realisasi lifting minyak bakal mencapai rata-rata 607.000 barel per hari (BOPD) pada akhir tahun ini. Proyeksi tersebut melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 605.000 BOPD.

Optimisme mencapai 1 juta BOPD itu sejalan dengan pernyataan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman, yang menyebut total cadangan minyak bumi dan kondensat nasional mencapai 4,4 miliar barel, sedangkan cadangan gas bumi mencapai 55.850 BSCF (Billion Standard Cubic Feet). Berdasarkan data yang dipaparkan Laode, cadangan minyak dan kondensat terbesar terdapat di Sumatera Bagian Tengah dengan total 1.327,46 juta barel. Lalu disusul oleh Jawa bagian timur sebesar 878,28 juta barel, dan Kalimantan sebesar 573,82 juta barel.

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional