BPS: Inflasi Kota Pekanbaru November Melonjak 4,42 Persen, Harga Emas dan Biaya Makan Jadi Pemicu

BPS: Inflasi Kota Pekanbaru November Melonjak 4,42 Persen,  Harga Emas dan Biaya Makan  Jadi Pemicu

PEKANBARU (RIAUSKY. COM)- Kota Pekanbaru mengalami inflasi cukup tinggi pada periode bulan November 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka inflasi di Kota Pekanbaru sebesar 4,42 persen (year on year) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110.55.

Rilis data terbaru tersebut diungkapkan Plh. Kepala BPS Pekanbaru Aries Eka Putra saat memaparkan angka inflasi Kota Pekanbaru pada High Level Meeting (HLM) Pemko Pekanbaru yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Agung Nugroho.

Aries mengungkapkan, pada periode November 2025 lalu, Pekanbaru mengalami inflasi cukup besar, yakni 4,42 persen (y on y). Angka inflasi ini cukup dalam dan merupakan yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Bahkan angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka inflasi  Provinsi Riau dan angka inflasi secara nasional dimana pemerintah memberikan toleransi inflasi 2,5  plus minus 1.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Pekanbaru, pada November 2025 terjadi inflasi y-on-y sebesar 4,42 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,87 pada November 2024 menjadi 110,55 pada November 2025.

Meski begitu, secara month to month (m-to-m) pada November 2025 Kota Pekanbaru mengalami deflasi sebesar 0,11 persen, sedangkan secara year to date (y-to-d) Kota Pekanbaru mengalami inflasi sebesar 3,87 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada November 2025, antara lain: emas perhiasan, cabai merah, akademi/perguruan tinggi, nasi dengan lauk, ikan serai, daging ayam ras, ayam hidup, jeruk, beras, telur ayam ras, dan beberapa komoditas lainnya.

Lonjakan inflasi yang terjadi di Kota Pekanbaru ini, jelas Aries perlu menjadi perhatian pemerintah mengingat dalam sebulan ke depan, akan memasuki akhir tahun.

Dikatakan Aries, ada  beberapa fenomena yang perlu diperhatikan  dalam menjelang akhir tahun ini.

Pertama: Nataru, dimana kenaikan harga kelompok makanan dan minuman menjadi perhatian khusus, karena pola konsumsi akan meningkat. Sehingga perlu dicarikan solusi.

Kedua, jelas Aries, transportasi udara, dimana pergerakan masyarakat mulai meningkat, dan tarif transportasi perlu menjadi catatan. Walaupun sejauh ini  ini sulit untuk diintervensi oleh pemerintah daerah.

Ketiga, kata Aries adalah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dimana di Pekanbaru saat ini sudah beroperasi sebanyak 56 dapur SPPG dari target 100 SPPG hingga akhir tahun ini.

''Kalau seluruh SPPG ini mulai beroperasi, pastinya serapan untuk bahan makanan juga akan meningkat. Dan pemerintah perlu memperhatikan stok pangan di daerah per komoditas untuk memastikan tingginya angka kebutuhan akan berdampak pada terjadinya inflasi,'' ungkap dia.

Keempat, lanjut dia adalah, hal yang tidak terprediksi, yakni bencana yang melanda sejumlah daerah produsen seperti Aceh, Sumut dan Sumbar yang pastinya akan berpengaruh pada pasokan komoditas pangan yang ada di daerah, mengingat Kota Pekanbaru adalah daerah pengimpor.

Dan Aries mengungkapkan sangat penting bari pemerintah daerah, khususnya di Kota Pekanbaru untuk menggerakkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk mengambil langkah antisipasi  hingga menjelang akhir tahun 2025 ini.(R04)

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional