PEKANBARU (RIAUSKY,COM) - Perubahan cuaca yang tidak menentu di Kota Pekanbaru banyak membuat masyarakat terlihat mudah dilanda sakit.
Berbagai wabah pun tidak hanya diderita semisal Demam Berdarah Dengue (DBD). Bahkan, berdasarkan data laporan dari puskesmas yang ada di Pekanbaru, kenaikan jumlah masyarakat yang menderita sakit diantaranya mengidap penyakit ISPA, demam, batuk-batuk dan influenza.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru drg Helda Surya Munir melalui Kepala Bidang Pengendalian Kesehatan Diskes Pekanbaru Gustiyanti saat dikonfirmasi mengatakan bahwa cuaca yang kadang tak menentu itu memang membuat masyarakat dilanda sakit yang diawali dengan rasa demam tinggi hingga menyebabkan DBD. Bahkan, data terakhir dari Diskes Pekanbaru hingga minggu ke 22 di Bulan Juni sebanyak 661 kasus DBD di Pekanbaru.
"Itu data terbaru jumlah kasus DBD dari bulan Januari sampai Juni yah," kata Gustiyanti, Ahad, 12 Juni 2016.
Dikatakan Yanti, kasus tertinggi masih berada di Payung Sekaki, Marpoyan Damai dan Tampan. Dirinya menyebut tingginya angka DBD disebabkan cuaca yang tidak seperti biasa. "Untuk kasus terbanyak berada di Kecamatan Payung Sekaki dengan 113 Kasus, Marpoyan Damai 88 Kasus dan Tampan 77 Kasus. Banyaknya kasus ini dikarenakan kondisi anomali cuaca menyebabkan nyamuk aedes aegepty cepat berkembang biak," ujarnya.
Saat ditanya soal langkah fogging, Gustiyanti mengatakan Diskes terkendala keterbatasan obat fogging. "Kita kan sudah bahas juga dengan Buk Kadis dalam setiap rapat evaluasi, supaya bisa diupayakan penambahan. Karena obat yang kita miliki terbatas," singkatnya.
Dengan banyaknya kasus DBD di Pekanbaru, Ia berharap masyarakat bisa membantu dengan rutin melakukan kebersihan lingkungan. Sebab dengan rutin membersihkan pekarangan atau mengubur barang bekas dapat mencegah berkembang biaknya nyamuk demam berdarah. "Harus mengedepankan 3M plus, jangan biarkan ada barang-barang yang bisa jadi tempat tergenang air menjadi sarang nyamuk DBD," pintanya.
Dijelaskan lagi, dirinya telah mengintruksikan agar kader jumantik juga melakukan sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta membunuh jentik nyamuk. Memang untuk fogging pihaknya belum bisa optimal selain obat, mesin foggingnya juga terbatas. Sebab ada yang rusak sehingga tidak bisa digunakan.
"Kader jumantik harus tetap mensosialisasikan meskipun sedang ramadan. Kalau dibiarkan, takutnya jumlah korban dan kasus akan semakin meningkat." tutupnya. (R05)
Listrik Indonesia

