BPS Paparkan Potensi Inflasi di Kota Pekanbaru Jelang Ramadhan: Cabai Turun, Jengkol dan Sayuran Naik, Emas....

BPS Paparkan Potensi Inflasi di Kota Pekanbaru Jelang Ramadhan: Cabai Turun, Jengkol dan Sayuran Naik, Emas....

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekanbaru menyampaikan paparannya terkait kondisi terkini inflasi di Kota Pekanbaru menjelang momen Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriyah atau tahun 2026.

Sejauh ini, hingga awal minggu keempat periode Januari 2026, harga berbagai komoditas pangan dan komoditas penyumbang inflasi lainnya diperkirakan masih berfluktuasi, walau pun pada beberapa komoditas cenderung mengalami deflasi.

Beberapa komoditas yang saat ini mengalami penurunan di antaranya adalah harga buncis, cabai merah, kacang panjang, cabai hijau dan cabai rawit.

Sementara komoditas penyumbang inflasi di antaranya adalah jengkol, sawi putih, brokoli, kangkung dan kol putih.

Kondisi ini bergeser dibandingkan dengan tahun 2025 lalu, dimana inflasi dipicu oleh lonjakan harga emas perhiasan, ketupat/lontong, ikan setai, beras dan nasi lauk pauk.

Adapun deflasi pada tahun 2025 bersumber dari kebijakan diskon tarif listrik, turunnya harga ayam hidup, turunnya harga bawang merah dan telur ayam.

Data tersebut diungkapkan Pelaksana Tugas Kepala BPS Pekanbaru, Aries Adi Putra dalam Rapat Koordinasi yang dipimpin Plt. Sekda Kota Pekanbaru Ingot Ahmad Hutasuhud juga dihadiri tim Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kota Pekanbaru, Rabu (28/1/2026) siang.

Aries mengungkapkan, harga beberapa komoditas yang cenderung mengkhawatirkan setiap bulan ramadhan adalah di antaranya kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai, beras dan beberapa lainnya.

Namun, tren sepanjang beberapa pekan terakhir Januari, harga beberapa komoditas utama seperti cabai merah, cabai rawit mengalami penurunan seiring dengan semakin lancarnya pasokan dari daerah produsen dan peningkatan pasokan.

''Berbeda dengan pola tahun sebelumnya, kelompok cabai merah, cabai hijau dan rawit saat ini mengalami deflasi atau penurunan harga. Ini memberikan bantalan  untuk tetap terjaganya daya beli masyarakat,''ungkap Aries dalam rapat yang juga dihadiri Kadis Perindag Iwan Simatupang, Kabag Perekonomian Boge Peni, Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Dinal Husna juga beberapa pejabat teknis lainnya.

Pada kesempatan itu, Aries juga melaporkan saat ini, terjadi kenaikan harga dini pada komoditas jengkol dan sayuran hijau  seperti sawi, kangkung, kol yang disebabkan anomali pra musim yang perlu langkah intervensi.

Sementara untuk sawi hijau, ketimun, buncis,, kacang panjang dan cabai rawit mengalami penurunan signifikan pada periode minggu keempat Januari ini.

Menjelang Ramadhan, Aries juga menjelaskan, potensi terjadinya kenaikan harga pada beberapa komoditas makanan siap konsumsi  seperti lontong, ketupat sayur, nasi dan lauk pauk, ikan-ikan juga beras yang bisa memberi andil untuk terjadinya infasli pada harga komoditas.

Ini bisa terjadi dipicu oleh peningkatan permintaan rumah tangga untuk kebutuhan sahur dan berbuka puasa.

Namun begitu, jelas dia, kondisi stabilitas harga masih bisa dijaga sepanjang pemerintah bisa memastikan ketersediaan pasokan  bahan baku dan lancarnya proses distribusi di tengah masyarakat.

BPS juga melaporkan, ada juga harga komoditas pangan yang saat ini masih relatif tinggi, atau mengalami kenaikan, di antaranya adalah bawang merah.

Selain dari komoditas pangan, inflasi juga berpotensi terjadi dikarenakan masih terus bergejolaknya harga emas secara global.

Untuk di Pekanbaru sendiri, BPS melihat kecenderungan masyarakat untuk berbelanja emas juga masih cukup tinggi.  Yang menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup baik.

BPS sendiri memang belum merilis besaran angka inflasi di Kota Pekanbaru untuk periode Januari 2026 ini.

Namun, sebagai gambaran, perkembangan inflasi kota Pekanbaru tahun 2025 secara bulanan yakni sebesar 0,92 persen, sementara secara kalender sebesar 4,83 persen serta inflasi tahunan sebesar 4,83 persen.

Meski secara umum harga komoditas pangan masih relatif stabil,  namun BPS mengingatkan pemerintah untuk tetap mengalami data mingguan  sebagai alat deteksi dini terhadap potensi gejolak harga.

Pemerintah perlu memprediksi risiko harga berdasarkan  kondisi musim, cuaca dan pola konsumsi masyarakat.

Pemerintah juga perlu memperkuat rantau pasok, distribusi dan produksi komoditas lokal  secara konsisten.

Dan di penghujung, Aries juga melihat masih diperlukan langkah intervensi  pada beberapa komoditas dan wilayah-wilayah yang mengalami tekanan harga.(R04)

 

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional