TEMBILAHAN (RIAUSKY.COM)- Udang 'Nenek', namanya memang kurang begitu familiar terdengar. Namun, bila dikatakan udang 'Ketak', sebagian dari kita mungkin mengetahuinya.
Jenis udang yang punya nama latin Squilla harpax de Haan ini, ukurannya cukup besar dan saat ini menjadi buah bibir, karena, selalu disediakan di perjamuan mewah dengan menu makanan laut.
Tak jarang udang ini disediakan dalam bentuk hidup, direbus dengan rempah khusus yang menggugah selera. Harganya, sudah pasti, jangan ditanya...
Karena itulah, mendapatkan udang nenek ini, begitu menjadi harapan bagi banyak nelayan di wilayah pesisir. Bisa mendapatkan beberapa ekor saja, itu sudah cukup untuk menutupi kebutuhan periuk nasi keluarga.
Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan udang nenek ini. Karena, dia masih belum dibudidayakan dan tidak pula hidup di semua kawasan perairan.
Masyarakat di perairan Concong di Kuala Indragiri, Tanah Merah dan Mandah Kabupaten Indragiri Hilir adalah mereka yang paling beruntung, karena mereka yang paling dekat dengan keberadaan udang yang ukurannya bisa cukup besar ini.
Upaya Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dalam mewujudkan Misi 1 pembangunan daerah, yakni meningkatkan ekonomi yang merata, inklusif, dan berkelanjutan, terus didorong melalui penguatan sektor unggulan, salah satunya perikanan.
udang nenek atau udang ketak menjadi komoditas bernilai tinggi yang kini semakin mendapat perhatian.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Indragiri Hilir, Drs. Eko Rahdippa dalam keteranganny menyampaikan bahwa udang nenek merupakan salah satu potensi perikanan unggulan daerah yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan pesisir.
“Udang nenek memiliki nilai ekonomis tinggi dan peluang pasar yang sangat besar, baik di dalam maupun luar daerah. Ini sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Inhil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Eko Rahdippa.
Udang nenek banyak ditemukan di perairan pesisir dan muara yang masih alami, khususnya di Kecamatan Concong, Kuala Indragiri (Kuindra), Mandah, dan Tanah Merah.

Udang nenek hasil tangkapan nelayan di perairan Concong Kuala Indragiri dikumpulkan sebelum dipasarkan. (Sumber Foto: mediacenter inhil)
Musim panen biasanya berlangsung dari November hingga Maret, dengan produksi harian mencapai 2.000 hingga 5.000 ekor per hari.
Nelayan menangkap udang nenek menggunakan jaring rampus (drift gillnet) saat air pasang, serta secara manual di lubang atau tempat persembunyiannya saat air surut, yang oleh nelayan dikenal dengan istilah numbur.
Dalam aktivitas numbur, nelayan juga kerap memperoleh komoditas lain seperti kerang, dan sesekali ikan sembilang, sehingga turut menambah pendapatan mereka.
Dari sisi harga, udang nenek Inhil tergolong sangat kompetitif. Ukuran A di tingkat nelayan berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per ekor, sementara ukuran B mencapai Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per ekor.
Saat ini, udang nenek Inhil telah dipasarkan ke Batam, Jakarta, hingga Singapura, menjadikannya komoditas potensial berorientasi ekspor regional.
Kecamatan Concong tercatat sebagai sentra penangkapan udang nenek terbesar di Kabupaten Indragiri Hilir dengan produksi yang relatif stabil sepanjang musim.
Untuk mendukung pengembangan komoditas ini, Dinas Perikanan Inhil terus memberikan support kepada nelayan melalui pelatihan peningkatan kualitas hasil tangkapan serta bantuan alat tangkap ramah lingkungan.
“Kami terus mendorong nelayan agar meningkatkan kualitas hasil tangkapan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya.
Dengan pengelolaan yang baik, udang nenek dapat menjadi motor penggerak ekonomi pesisir,” jelas Eko Rahdippa.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan, potensi perikanan udang nenek diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.(CR6)
Listrik Indonesia

