ISLAMABAD (RIAUSKY.COM)- Perundingan antara pemerintah Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi Pemerintah Pakistan di Islamabad berujung buntu.
Perundingan kedua belah pihak terkait dengan beberapa item yang diajukan pemerintah Amerika Serikat ditolak oleh Pemerintah Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dilansir Ahad (12/4/2026), mengatakan perundingan kedua belah pihak berakhir tanpa hasil karena tuntutan yang diajukan pihak AS dinilai berlebihan oleh Iran.
Esmaeil mengungkapkan, baik Iran dan AS sebenarnya telah mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu. Hanya saja, masih terdapat perbedaan pandangan pada beberapa topik utama yang menjadi penghambat kesepakatan.
“Dalam beberapa isu kami telah mencapai pemahaman bersama, tetapi masih ada perbedaan pada dua hingga tiga hal penting,” ujarnya, sebagaimana dilaporkan kompas.com dari Tasnim News Agency, kantor berita berafiliasi dekat dengan Garda Revolusi Iran.
Meski tidak dirinci secara spesifik, perbedaan utama dalam perundingan disebut berkaitan dengan tiga isu krusial, yakni program nuklir Iran, pengaturan Selat Hormuz, serta tuntutan lain yang diajukan masing-masing pihak.
Isu-isu tersebut dinilai memiliki tingkat kompleksitas tinggi dan menjadi titik tarik-menarik kepentingan antara Iran dan AS.
Berlangsung dalam suasana penuh kecurigaan Baqaei menyebut, perundingan kali ini merupakan yang terpanjang dalam satu tahun terakhir, dengan durasi mencapai sekitar 24 hingga 25 jam.
Ia menjelaskan, negosiasi dilakukan dalam situasi yang tidak ideal, mengingat berlangsung setelah sekitar 40 hari konflik bersenjata antara kedua pihak.
“Perundingan ini berlangsung dalam suasana penuh ketidakpercayaan dan kecurigaan. Wajar jika sejak awal tidak ada ekspektasi untuk mencapai kesepakatan hanya dalam satu pertemuan,” katanya.
Menurutnya, kompleksitas isu yang dibahas juga semakin meningkat, terutama dengan masuknya topik baru seperti Selat Hormuz, yang memiliki dimensi strategis dan kepentingan besar bagi banyak pihak.
Di tengah kebuntuan tersebut, Baqaei menegaskan diplomasi tetap menjadi instrumen utama dalam memperjuangkan kepentingan nasional Iran.
“Diplomasi tidak pernah berakhir. Ini adalah alat untuk melindungi kepentingan nasional, baik dalam kondisi perang maupun damai,” ujarnya.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyatakan bahwa kegagalan tersebut lebih merugikan Iran. “Kabar buruknya adalah kita tidak mencapai kesepakatan, dan itu lebih buruk bagi Iran dibandingkan Amerika Serikat,” ujarnya. Vance menegaskanm AS telah menetapkan “garis merah”, terutama terkait tuntutan agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir maupun kemampuan untuk membuatnya. Sebaliknya, Iran menilai tuntutan AS terlalu berlebihan. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa perbedaan utama mencakup isu program nuklir dan penguasaan Selat Hormuz.(*)
Listrik Indonesia

