TEMBILAHAN (RIAUSKYCOM)- Teror monyet liar yang meresahkan warga Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), kembali memakan korban. Hingga Sabtu (1/8/2026), jumlah korban gigitan monyet liar bertambah menjadi 11 orang.
Korban terbaru merupakan seorang perempuan yang tinggal di Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Kubur, Tembilahan. Korban diserang saat sedang duduk di depan rumah pada sore hari. Tanpa diduga, monyet liar tersebut datang dan langsung menggigit bagian kaki korban hingga harus dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan untuk mendapatkan penanganan medis.
Bertambahnya jumlah korban semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat. Dalam kurun waktu sekitar satu pekan, monyet liar tersebut terus berpindah-pindah lokasi dan menyerang warga di sejumlah titik berbeda di wilayah Tembilahan Hilir.
Menyikapi kondisi tersebut, Camat Tembilahan, Ari Syuria, S.E., M.Si., menegaskan bahwa Pemerintah Kecamatan Tembilahan telah melakukan berbagai langkah penanganan bersama lintas instansi. Namun, mengingat satwa tersebut merupakan satwa liar yang menjadi kewenangan instansi konservasi, pihaknya telah menyampaikan surat resmi kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Surat bernomor 88/KEC-TBH/VII/2026 tertanggal 31 Juli 2026 itu bersifat Sangat Penting, dengan perihal Permohonan Bantuan Penanganan dan Evakuasi Kera Liar yang Mengancam Keselamatan Masyarakat. Dalam surat tersebut, Pemerintah Kecamatan Tembilahan meminta BBKSDA Riau segera menurunkan tim teknis untuk melakukan identifikasi, penangkapan, evakuasi, serta penanganan terhadap monyet liar yang hingga kini masih berkeliaran di kawasan permukiman warga.
Ari Syuria mengatakan, sebelum mengajukan permohonan kepada BBKSDA Riau, berbagai upaya telah dilakukan bersama unsur Forkopimcam, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Inhil, BPBD, TNI, Polri, Dinas Pertanian, perangkat kelurahan, hingga Masyarakat Pecinta Senjata Angin.
"Kami tidak tinggal diam. Tim gabungan setiap hari masih bersiaga di lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan monyet. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari patroli, penyisiran, hingga memasang kandang jebak yang di dalamnya telah diberi umpan berupa susu yang dicampur obat penenang. Selain itu, patroli juga dilakukan dengan dukungan senapan angin sebagai langkah antisipasi apabila kondisi di lapangan membahayakan keselamatan warga," ujar Ari Syuria.
Meski demikian, hingga saat ini monyet liar tersebut masih belum berhasil diamankan karena terus berpindah tempat dan diduga bersembunyi di bawah kolong rumah-rumah warga di kawasan parit.
Ari Syuria juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam mengawasi anak-anak dan membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan.
"Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada, mengawasi anak-anak, tidak beraktivitas sendirian di lokasi yang sepi, serta segera melapor apabila melihat keberadaan monyet tersebut. Jangan mencoba menangkap atau memancingnya sendiri karena sangat berbahaya. Kami berharap masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan petugas," katanya.
Selain itu, Ari juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas.
"Kami juga mengimbau masyarakat agar bijak dalam menerima informasi. Jangan mudah percaya dengan kabar yang beredar di media sosial apabila belum jelas sumber dan kebenarannya. Informasi resmi akan terus kami sampaikan melalui pemerintah dan instansi terkait agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat," pungkasnya.
Pemerintah Kecamatan Tembilahan berharap BBKSDA Riau dapat segera menindaklanjuti permohonan tersebut dengan menurunkan tim teknis ke lapangan, sehingga monyet liar yang telah menyebabkan sedikitnya 11 warga menjadi korban dapat segera dievakuasi dan keresahan masyarakat dapat segera berakhir.
Listrik Indonesia

