Kemenag Kuansing Evaluasi Gempita

Kemenag Kuansing Evaluasi Gempita

KUANSING (RIAUSKY.COM)- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi melakukan evaluasi pelaksanaan Program Gempita (Gerakan Memberantas Buta Aksara Al-Qur’an) bersama pengurus Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) se-Kabupaten Kuantan Singingi, baik pengurus kabupaten maupun kecamatan, Kamis (10/9/2026). Evaluasi yang digelar di Aula Kantor Kemenag Kuansing tersebut diarahkan untuk memastikan program Gempita memiliki sasaran yang tepat, metode pengajaran yang terarah, serta menghasilkan output yang jelas bagi peserta binaan.

Kepala Kantor Kemenag Kuansing, Suhelmon yang hadir sekaligus memberikan arahan, menegaskan pentingnya memastikan peserta yang menjadi sasaran Gempita benar-benar merupakan anak binaan yang belum mampu membaca Al-Qur’an. “Peserta ajar perlu kita pastikan benar-benar merupakan binaan yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Ini penting supaya program Gempita tepat sasaran dan tidak terjadi tumpang tindih pembinaan,” ujar Suhelmon.

Menurutnya, pemetaan sasaran juga harus dilakukan agar anak-anak yang menjadi binaan penyuluh melalui Gempita tidak sama dengan peserta didik yang telah mendapatkan pembinaan dari guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan demikian, keberadaan Gempita dapat menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan pembinaan kemampuan membaca Al-Qur’an.

Selain memperjelas sasaran, Suhelmon juga mendorong penyuluh agama untuk mendokumentasikan proses pembelajaran secara terukur. Dokumentasi tersebut, lanjut Suhelmon, tidak hanya menjadi bukti pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk melihat proses pengajaran, objek yang dibina, serta kemampuan dan kompetensi penyuluh dalam memberikan pembelajaran Al-Qur’an. “Diharapkan para penyuluh membuat video mengaji dengan penerapan tajwid kepada anak yang dibina. Video tersebut nantinya dikirim melalui link yang disediakan oleh Bimas Islam Kemenag Kuansing,” jelasnya.

Suhelmon menilai Program Gempita perlu terus digaungkan sebagai salah satu inovasi penyuluh agama Kemenag Kuansing dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat. “Gempita ini kita harapkan tetap digaungkan sebagai inovasi dari penyuluh Kemenag Kuansing. Jangan sampai hanya menjadi sebuah program, tetapi harus benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat, khususnya dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an,” tegasnya.

Ia juga meminta seluruh penyuluh segera melakukan klasifikasi terhadap peserta binaan masing-masing. Langkah tersebut diperlukan agar setiap penyuluh memiliki gambaran yang jelas mengenai kemampuan peserta, kebutuhan pembelajaran, serta perkembangan yang telah dicapai. “Segera lakukan klasifikasi terhadap binaan dan kuatkan tanggung jawab kita sebagai penyuluh sekaligus sebagai guru bagi orang yang kita ajari. Kita harus mengetahui siapa yang kita bina, bagaimana kemampuannya dan bagaimana perkembangannya,” kata Suhelmon.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kuansing, Bahrul Aswandi, menekankan pentingnya memastikan pelaksanaan Gempita menghasilkan keluaran yang terstruktur. Menurutnya, setiap kegiatan pembinaan harus memiliki klasifikasi dan capaian yang dapat dilihat secara jelas. “Yang kita upayakan dari program Gempita ini adalah adanya output yang terstruktur dan jelas klasifikasinya. Dengan begitu, kita bisa mengetahui perkembangan peserta binaan dan melihat sejauh mana program ini memberikan hasil,” ujar Bahrul.(*)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional