JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Pemerintah berencana mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi, Pertalite maupun Solar.
Perkiraannya, pengumuman akan disampaikan langsung Presiden Joko Widodo.
Namun, hingga pukul 23.30 WIB ini, belum ada pengumuman resmi dari pemerintah terkait rencana kenaikan harga bahan bakar minyak yang disubsidi oleh pemerintah itu.
Sementara itu, antrean kendaraan terjadi di mana-mana SPBU milik pertamina.
Warga antre untuk melakukan pengisian bahan bakar subsidi dengan harga yang masih murah itu.
Antrean pengisian pertalite terjadi untuk jenis kendaraan rida dua maupun roda empat.
Di kota Pekanbaru, sejumlah SPBU seperti SPBU Jalan Harapan Raya, SPBU Jalan Rawamangun, SPBU Jalan Pesantren, SPBU Jalan Arifin AHmad dan banyak SPBU lainnya dipenuhi antrean kendaraan yang hendak mengisi Pertalite dan Bioslar hingga menjelang malam tadi.
Menteri ESDM Arifin Tasrif sendiri, sebelumnya sudah memberi sinyal bahwa pengumuman kenaikan harga BBM akan dilakukan pada Rabu (31/8). "Ya tunggu saja besok (pengumuman kenaikan harga BBM subsidi)," ujarnya dilansir Antara, Selasa (30/8/2022) lalu.
Sinyal lainnya, Direktur BBM BPH Migas Patuan Alfon Simanjuntak menyampaikan bahwa revisi final Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM sudah disampaikan ke meja Kementerian BUMN.
"Sudah rampung, sudah. Saat ini, final (revisi perpres) di Kementerian BUMN," terang dia kepada CNNIndonesia.com.
Namun, ia enggan merinci lebih jauh. Ia meminta setiap pihak menunggu hingga perpres tersebut diterbitkan. "Saya belum berani menyampaikan karena sudah sampai ke pimpinan, ke pak menteri. Jadi, saya tidak berani menyampaikan apa-apa. Kita tunggu perpresnya saja," imbuh Alfon.
Sementara, anggota komisi XI DPR dari berbagai fraksi ramai-ramai menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Penolakan itu disampaikan langsung ke Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat kerja hari ini.
Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan menyebut kenaikan harga Pertalite dan Solar akan membuat inflasi meningkat tajam. "Jangan naikkan harga BBM, karena otomatis kalau harga BBM naik, inflasi kita nendang tinggi," jelasnya seraya mengingatkan inflasi Juli 2022 sudah di level 4,94 persen.
Fraksi Partai Gerindra Jefry Romdonny pun menyuarakan hal senada.
Menurut dia, subsidi energi ada untuk melindungi masyarakat miskin. "Kami berpandangan tidak ada yang lebih penting dari keselamatan dan kesejahteraan rakyat," tutur dia.
Selanjutnya, Fraksi PKB Bertu Merlas menegaskan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi, khususnya Solar, akan menyusahkan para petani.
Apalagi, saat ini harga-harga pangan dan komoditas lainnya sudah naik.
"Bilamana petani kurang sejahtera, ini akan merembet kemana-mana, manufaktur siapa yang beli? Produk-produk manufaktur siapa yang beli kalau petani kurang sejahtera?" tegas Bertu.
Diketahui, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, Pertalite dan Solar, demi menghindari lonjakan subsidi energi yang saat ini sudah membengkak.
Subsidi energi tadinya dialokasikan Rp170 triliun, namun kini membengkak melampaui Rp502 triliun karena kenaikan harga minyak mentah dunia.(R02)
Sumber Berita: cnndindonesia.com