PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Kinerja investasi Provinsi Riau pada Triwulan I (Januari-Maret) 2026 menunjukkan daya tahan yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Riau mencatat total realisasi investasi mencapai Rp12,85 triliun.
Kepala DPMPTSP Riau, Vera Angelika, mengatakan capaian tersebut menempatkan Riau di peringkat ke-15 secara nasional. Untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Riau berada di peringkat ke-10 dengan nilai Rp9,6 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai 197,01 juta dolar AS atau setara Rp3,25 triliun.
“Realisasi investasi Triwulan I 2026 sebesar Rp12,85 triliun ini menunjukkan bahwa Riau tetap menjadi daerah yang menarik bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama di wilayah Sumatera,” ujar Vera.
Di tingkat regional Sumatera, Riau bahkan mencatat posisi yang lebih kuat, yakni peringkat ke-3 untuk PMDN maupun PMA.
Kontribusi investasi masih didominasi wilayah strategis. Kota Dumai menjadi penyumbang terbesar dengan Rp3,05 triliun (23,70 persen), diikuti Kota Pekanbaru Rp2,55 triliun (19,88 persen).
Selanjutnya Kabupaten Indragiri Hilir Rp1,74 triliun (13,56 persen), Kabupaten Rokan Hilir Rp1,13 triliun (8,82 persen), dan Kabupaten Pelalawan Rp1,04 triliun (8,14 persen).
Dari sisi investor asing, Singapura masih menjadi mitra utama dengan kontribusi 70,77 persen atau sekitar Rp2,3 triliun. Disusul Malaysia, serta Bermuda, Seychelles, dan Kepulauan Virgin Inggris.
Sektor usaha yang menjadi penopang utama investasi mencerminkan kekuatan struktur ekonomi Riau, yakni industri makanan Rp2,825 triliun (21,98 persen), tanaman pangan, perkebunan dan peternakan Rp2,24 triliun (17,46 persen).
Kemudian, industri kimia dan farmasi Rp1,83 triliun (14,21 persen), perumahan dan kawasan industri Rp1,12 triliun (8,75 persen), serta pertambangan Rp1,05 triliun (8,17 persen). Kelima sektor ini menyumbang lebih dari 70 persen total investasi.
Menurut Vera, arah kebijakan ke depan difokuskan pada penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
“Kami terus mendorong pengembangan industri hilir. Saat ini DPMPTSP bersama perangkat daerah tengah mengidentifikasi produk-produk hilir dari perusahaan PMA dan PMDN, agar Riau semakin kuat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah dan ekonomi hijau,” jelasnya.
Optimisme juga diperkuat dengan sejumlah proyek strategis yang sedang berjalan. Di antaranya kelanjutan Tol Lingkar Pekanbaru ruas Rengat–Pekanbaru, pengembangan Kawasan Industri Buruk Bakul, serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 gigawatt di Pulau Rangsang.
“Proyek-proyek ini akan menjadi pengungkit investasi ke depan, memperkuat konektivitas, menarik industri pengolahan, serta mendukung transisi energi bersih di Riau,” tambahnya.
Pemprov Riau juga terus meningkatkan kualitas layanan publik melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Dengan pelayanan yang semakin prima, kami optimistis iklim investasi akan semakin kondusif, dunia usaha berkembang, dan peluang kerja bagi masyarakat terus terbuka,” tutup Vera.