Ditemukan Wakapolresta Pekanbaru Sedang Memanen S

POTRET BURAM PENDIDIKAN, Tak Punya Uang, Siswa SMK Telkom Pekanbaru Terpaksa Berhenti Sekolah

POTRET BURAM PENDIDIKAN, Tak Punya Uang, Siswa SMK Telkom Pekanbaru Terpaksa Berhenti Sekolah
Soffan Qital (16) saat dirangkul Wakapolresta Pekanbaru AKBP Edy Sumardi Priadinata dan diminta lanjut sekolah lagi.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Karena menunggak pembayaran uang sekolah,  Soffan Qital (16),  warga Binawidya panam, Pekanbaru terpaksa berhenti dari tempatnya menimba ilmu  di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Telkom.

Dia mengaku sudah hampir sepekan tak berani masuk sekolah karena tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan. 

Hampir sepekan, bocah malang ini tidak mengikuti pelajaran di sekolahnya. Bahkan ujian pun dia tidak bisa ikut karena masih ada uang sekolah yang mesti dilunasi.

Hal ini diketahui oleh Wakapolresta Pekanbaru, AKBP Edy Sumardi saat mengunjungi ayah Soffan, Annahdi (62) di rumahnya di wilayah RT 02 RW 07, Kelurahan Bina Widya, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Jumat (29/9/2017).

Kedatangan Edy Sumardi dalam rangka menjalankan kegiatan rutin program Jumat Barokah bersama beberapa anggotanya dan diikuti oleh Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR).

Kali ini, bantuan berupa sembako dan uang diberikan kepada Annahdi, salah satu warga yang tergolong kurang mampu.

Namun, disamping memberikan bantuan, ternyata ada yang lebih memilukan ditemukan oleh Edy Sumardi.

"Ternyata anak pak Annahdi ini (Soffan) sudah putus sekolah, karena belum melunasi uang pembangunan sekolahnya," ujar Edy.

Dia pun mengaku langsung memeluk Soffan, karena prihatin tidak bisa melanjutkan pendidikan di sekolahnya.

Soffan langsung menangis sambil cerita sedih pada orang nomor dua di Polresta Pekanbaru itu.

Selama ini Soffan Qital duduk di bangku kelas satu jurusan teknik sepeda motor (TSM) di SMK Telkom, yang terletak di Jalan Melati, Kecamatan Tampan, Pekanbaru.

Dia bercerita soal putus sekolah kepada Edy Sumardi. Sejak tanggal 18 September kemarin sudah tidak masuk sekolah karena tidak diperbolehkan oleh gurunya.

"Soffan harus membayar uang sekolah Rp2,1 juta dulu baru bisa ikut ujian," kata Edy berdasarkan pengakuan Soffan.

Jika tidak dibayar, wali kelas diketahui bernama Teguh dan Wakil Kepala Sekolah SMK Telkom, Tetri, tidak memperbolehkan Soffan ikut ujian mid semester.

Untuk mendapatkan uang sebanyak itu, Soffan terpaksa membantu ayahnya bekerja membersihkan kebun semangka.

Namun hasil yang didapat ayahnya masih belum cukup membayar uang sekolah Soffan. Meski Annahdi hidup berstatus duda itu, sesekali terpaksa bekerja serabutan untuk menghidupi delapan anaknya.

"Saya sempat melihat Soffan membantu ayahnya bekerja di kebun. Kemudian saya panggil untuk mendekat. Saat itulah dia cerita soal putus sekolah," sambung Edy Sumardi.

Sambil mengusap punggung Soffan, Edy mencarikan solusi untuk membantu kelanjutan sekolah bocah tersebut. 

Soffan pun juga cukup senang bisa bertemu dan bercerita tentang perjalanan sekolahnya kepada mantan Kapolres Kampar itu.

"Dia mengatakan bahwa ayahnya baru membayar uang pembangunan Rp1 juta. Selebihnya masih dicari," ujar Edy.

Oleh karena itu, dia mengaku sudah meminta bantuan kepada tokoh masyarakat setempat untuk memperhatikan sekolah Soffan.

Bahkan pihaknya juga memberdayakan Bhabinkamtibmas untuk membantu.

Untuk mencarikan solusi tersebut, Edy mengaku perlu dilakukan pendekatan pada pihak sekolah hingga ke Dinas Pendidikan.

"Yang jelas jangan sampai adik kita ini putus sekolah. Adik kita Soffan harus melanjutkan pendidikannya. Kita carikan solusi bersama. Semoga diberikan kemudahan," ungkap Edy berharap.

Sementara itu, penyerahan bantuan sembako kepada Annahdi, Wakapolresta Pekanbaru didampingi Kasubag Humas, Iptu Polius Hendriawan dan personel Polsek Tampan.(R07)

Sumber berita: Riaupotenza

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional