TANJUNG MEDAN (RIAUSKY.COM) - Siapa sangka Alika Viana yang sepi dalam keriangannya harus pergi di usia yang sangat muda. Begitulah takdir berbicara.
Namun dibalik kepergiannya tersebut tak banyak yang tahu kalau gadis belia 11 tahun yang masih mengenyam pendidikan di kelas V SD Negeri 33 Tanjung Medan itu adalah seorang anak yatim.
Ayahnya telah lama pergi, sementara ibunya pun tak lagi bersamanya setelah memutuskan pergi merantau tak tahu rimbanya.
Alika hidup sebatang kara tanpa ibu dan ayah. Karena itulah, dia dipelihara oleh nenek dan kakeknya yng tinggal di Tanjung Medan.
Setiap hari, tempat dimana Alika dibunuh adalah rute yang selalu dilaluinya saat pergi ataupun pulang sekolah. Karena itulah, tidak ada curiga atau sakwasangka kalau pelaku akan berbuat keji kepada bocah malang itu.
Berdasarkan keterangan salah seorang saksi, Bahari Malau, rekan sesama bekerja HL, pelaku pembunuhan Alika, dia masih sempat melihat Alika melintas di perkebunan milik Mangara Tumpang Limbong tempat mereka bekerja.
Jaraknya hanya berkisar 150 meter dari tempatnya berdiri. Pelaku sendiri disebutkan saat itu sedang menimbang buah di ancakan.
Beberapa saat setelah Alika melintas, Bahari mengaku masih mendengar teriakannya. Namun, saat itu, Bahari tidak berpikir apa-apa dan tidak curiga dan terus bekerja. Namun, dia memang sedikit heran, karena, tidak biasanya, untuk menimbang buah HL harus menghabiskan waktu cukup lama.
Kecurigaannya baru terjawab setelah pukul 23.30, sejumlah warga mengaku menemukan mayat seorang gadis muda berseragam pramuka di areal perkebunan tempatnya bekerja.
Bocah yang seragam bawahnya terbuka itu ditemukan dengan kondisi sangat mengenaskan, tewas dengan perut terbelah.
Diduga, dia dibunuh oleh pelaku, HL karena takut aksinya ketahuan oleh rekan-rekannya yang mendengar teriakan bocah malang itu.
Listrik Indonesia

