JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Pengamat politik Chusnul Mar'iyah menyindir sikap politisi yang terus mengggiring rekonsiliasi Jokowi-Prabowo sebagai bentuk sikap tidak percaya diri.
Dikatakan dia, bila sudah diputuskan dan dimenangkan oleh MK, diputuskan dan dimenangkan oleh KPU, harusnya percaya diri untuk membentuk pemerintahan. ''Jadi tidak perlulah bingung, kenapa harus ngocok-ngocokin 02 untuk bertemu, gak perlu...percaya dirilah...,'' ungkap Ilmuan Politik Universitas Indonesia itu saat menjadi salah satu pembicara pada Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan TVOne, Selasa (8/7/2019) malam tadi.
Di dalam sistem politik, disebutkan Chusnul ''Anda ikut pemilu, anda menang, bentuk pemerintahan, yang tidak menang, anda menjadi oposisi di parlemen, mau sistem presidensial ataupun parlementer, silakan,'' tegas dia lagi.
Persoalannya, mengapa masih menginginkan rekonsiliasi? dikatakan Chusnul karena tidak percaya diri karena masih menginginkan mendapatkan legitimasi.
''Legitimasinya diperoleh kalau capres 02 kemudian salaman dan ketemu lalu di-blow up di seluruh media dukungannya, saya rasa sebetulnya kan tidak perlu,'' tantang dia.
Harusnya, sambung Chusnul, pemenang bentuk saja pemerintahan, apakah dengan cara zaken kabinet atau dengan pola 'bagi-bagi kursi dan rezeki', itu silakan saja.
Chusnul mengingatkan, jangan sampai 'persekongkolan' sampai untuk mempertemukan Jokowi dan Prabowo malah menyakiti pendukung dan pemilih, terutama emak-emak yang militan.
''Saya pikir emak-emak itu sangat baik, berpolitik tanpa kekerasan. kalah sekarang itu biasa, anggap saja mengabdi untuk nusa dan bangsa, lima tahun ke depan kita bersiap untuk memilih lagi,'' sebut dia.
karena itulah, Chusnul menawarkan, rekonsiliasi antara kubu pro Jokowi-Prabowo bisa dilakukan dalam bentuk kebijakan.
''Rekonsiliasi itu harusnya dalam bentuk kebijakan, itu yang perlu direkonsiliasi. Bagaimana sumber daya alam kita, bagaimana mensejahterakan rakyat, membuka lapangan pekerjaan. Apa yang harus direkonsiliasi lainnya, pro asing aseng atau pro tenaga kerja dalam negeri,'' kata dia.
Sebagai perempuan, sambung Chusnul, dirinya sering sekali bicara TKW di luar negeri. Lantas untuk apa harus impor tenaga kerja asing , hingga untuk OB pun kita harus impor?
Pada kesempatan itu, Husnul juga mengingatkan para politisi agar jangan menjadikan agama sebagai kambing hitam dalam melihat persoalan politik. ''Agama itu identitas yang melekat dan hak azasi manusia, tak apa, Jadikan agama sebagai kekuatan dalam membangun bangsa kita. Di amerika, juga ada pendukung protestan, katolik, itu biasa saja, itu hak yang melekat,'' kata dia.
''Kekuatan agama itu harus dijadikan kekuatan membangun bangsa. Dia akan mempengaruhi moral, akhlak, etika berpolitik, itu yang penting sekali, karena itu saya sering ingatkan praktisi politik untuk dekat-dekatlah pada rumah ibadah, rumah ibadah apapun, karena dari sanalah isi praktik-praktik moral dalam berpolitik itu sendiri,'' sebutnya.
Fungsi pemilu yang minimal adalah membentuk pemerintahan dengan menempatkan kader-kadernya. Katanya sudah bekerja keras, berkeringat-keringat.
Disamping itu, juga ada Fungsi maksimal dari pemilu yang substantif adalah bagaimana menjadikan kekuasaan sebagai instrumen untuk memilih orang-orang yang berbakat untuk mengelola negara sekaligus instrumen untuk mnyingkirkan orang-orang jahat dan tidak berbakat untuk mengelola negara. itulah fungsi partai, mau di oposisi atau dipemerintahan. karena itulah, jangan lupa baca konstitusi, apa munajat pendirian negara ini. (R04)
Listrik Indonesia

