JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Ketua Umum PDI Perjuangan meminta semua pihak tidak membentur-benturkan dirinya dengan Anies Baswedan.
Sikap tersebut diungkapkan Megawati saat ditanyai wartawan seputar pemanfaatan area Monas sebagai tempat dilangsungkannya balapan Formula E.
"Monas itu di dalam keputusan peraturan itu adalah cagar budaya, garis bawahi, tapi jangan pula saya dibentur-benturkan (dengan) Pak Anies, bahwa Monas itu adalah sudah pasti peraturannya merupakan cagar budaya, artinya tidak boleh dipergunakan untuk apapun juga, rumah saya itu masuk dalam cagar budaya DKI, saya kalau mau betulin (renovasi), mesti izin, karena ada hal-hal yang tidak ada dalam arsitektur rumah yang lain," kata Megawati.
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri memang menyentil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal penyelenggaraan Formula E.
Ajang olahraga otomotif itu menjadi kontroversial karena hendak digelar di arena Monas.
Megawati yang juga Presiden ke-5 RI ini menyampaikan pandangannya soal isu yang hangat diperbincangkan ini. Dia penasaran dengan keputusan Anies yang memilih Monas sebagai lokasi balapan kendaraan listrik itu.
Megawati mengatakan Monas merupakan cagar budaya sehingga pada ruang lingkup Monas tidak boleh dipergunakan untuk kegiatan apa pun. Namun kritik ini bukan dia tujukan sebagai jalan perseteruan dengan Anies.
Megawati bercerita bahwa Monas adalah kebanggaan bersejarah Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Monas pernah disebut sebagai proyek mercusuar Bung Karno, ayah Megawati.
Formula E di Monas akan digelar pada 6 Juni 2020 nanti. Pemilihan tanggal dan tempat disebut telah melalui proses diskusi yang panjang. 6 Juni dipilih karena merupakan hari lahir Presiden Pertama Indonesia, Sukarno.
Deputy Director Communications Formula E Indonesia Hilbram Dunar mengungkapkan alasan Formula E digelar di Monas. Kata dia, Monas adalah lokasi yang ikonik. Hingga kini, dia juga belum menyebut opsi rute alternatif.
Menurut dia, ikon suatu kota juga memberikan keindahan saat pengambilan gambar. Bangunan ikonik akan menjadi latar utama saat media massa menyiarkan Formula E. Karena itulah Monas dipilih. Direktur Operasional PT Jakarta Propertindo (JakPro) Muhammad Taufiqurrachman memastikan bahwa pelaksanaan Formula E menaati UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Taufiq mengatakan Formula E akan tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana.
"Kita menghormati masukan dari Ibu Mega dan Pak Sandiaga. Kita masih tetap dalam rencana semula, dan dalam pelaksanaannya menaati persyaratan yang ada di UU Cagar Budaya No 11 Tahun 2010, yaitu untuk pariwisata dan pelestarian cagar budaya," ujar Taufiq saat dihubungi, Rabu (19/2).
Gerinda DKI Jakarta membela Anies terkait Megawati yang mempertanyakan Formula E digelar di Monas. Gerindra menilai yang perlu dilakukan hanya menjelaskan soal titik cagar budaya di kawasan Monas. Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, M Taufik, mengatakan yang menjadi cagar budaya hanya bagian Tugu Monas. Sedangkan kawasan lainnya tak masuk cagar budaya.
"Kan tugunya (yang jadi cagar budaya). (kawasan) nggak, kalau kawasan semua cagar budaya, kenapa itu dibikin jalanan (di dalam kawasan)," kata Taufik saat dihubungi, Kamis (20/2).
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengeluarkan pernyataan kritis terhadap fenomena politik dewasa ini.
Dia menyinggung tentang tokoh-tokoh politik yang memaksakan anak-anak mereka yang berusia muda untuk memimpin bangsa.
''2024 akan terjadi regenerasi. Benar, kita kita ini sudah fading away. Yang musti maju itu yang didorong itu anak anak muda," ujar Megawati.
Namun, menurut Megawati, anak-anak muda yang tidak memiliki potensi untuk memimpin bangsa kedepan sebaiknya tidak dipaksakan untuk maju pada pemilihan.
Megawati menyebutkan dia merasa jengkel dengan hal itu.
"Berhentilah, kalau kalian punya anak, anaknya itu enggak bisa jangan dipaksa-paksa. Jengkel loh saya. Lah iya loh, ngapain sih kayak tidak ada orang. Kader itu ya anak kalian juga loh. Gimana yo," tutur Megawati.
Politik 'turun-menurun' kerap terjadi di Indonesia.
Jika tidak anak yang melanjutkan 'dinasti' politik, bisa saja ucap Megawati, keluarga yang lainnya maju kembali di pemilihan.
"Kalau tidak anakne, kalau ndak istrine, kalau enggak ponakane. Loh, nanti pasti ada yang bilang Ibu kan juga, tapi kan saya membuktikan," tuturnya.
Menurut Megawati hal berbeda terjadi dengan anak-anaknya.
Ia mengatakan anak-anaknya mengikuti apa yang menjadi kemauan mereka.
Megawati menyontohkan putrinya, yang kini Ketua DPR Puan Maharani, tidak pernah 'diangkat-angkat' olehnya.
"Mana mungkin, menmang suaranya gede. Tidak ada yang bisa nahan. Begitu. Janganlah.. yang namanya sudah. Mabok saya dengarnya," imbuh dia.
Megawati memastikan PDIP akan memberikan peluang seluas-seluasnya kepada anak muda yang memiliki kompetensi untuk maju.
Tapi, bukan karena faktor kedekatan, melainkan karena faktor kemampuan.(R04)
Listrik Indonesia

