PT Desa Mandiri Nusantara Sampaikan Minat Investasi Sektor Pangan di Kota Pekanbaru

PT Desa Mandiri Nusantara Sampaikan Minat  Investasi Sektor Pangan di Kota Pekanbaru
Kepala DKP Pekanbaru H.Maisisco dan jajaran foto bersama perwakilan PT Desa Mandiri Nusantara, Muhammad Ikhsan (berbaju batik,red) dan rombongan.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Perwakilan PT. Desa Mandiri Nusantara melakukan audiensi ke kantor dinas Ketahanan Pangan (DKP) Pekanbaru, Rabu (26/6/2024) pagi hari tadi.

Audiensi tersebut diterima langsung oleh Kepala DKP Pekanbaru H. Maisisco beserta sejumlah jajaran di antaranya Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinal Husna juga Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan, Yarnengsih Alam.

Audiensi dilaksanakan dalam upaya membangun koordinasi dan sinergi terkait rencana investasi perusahaan yang akan berperan sebagai bapak angkat dalam upaya membangun penguatan industri pangan di Kota Pekanbaru.

Ketua Desa Mandiri Nusantara Wilayah Riau, Muhammad Ikhsan dalam penjelasannya mengungkapkan PT Desa Mandiri Nusantara berencana mengembangkan program pertanian dan tanaman pangan  di wilayah Rumbai Bukit, Kota Pekanbaru dengan luas areal kelola berkisar 50 hektare.

Lahan pertanian tersebut akan dikelola secara terintegrasi  untuk pengembangan sapi simental, pertanian jagung, cabai, bawang dan beberapa komoditas pangan lainnya.

Dalam kapasitas ini, PT Desa Mandiri Nusantara akan berperan sebagai bapak angkat bagi para petani yang nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan pertanian terintegrasi ini.

Pada tahap awal, jelas Ikhsan, para petani akan bekerja sama dengan PT Desa Mandiri Nusantara, namun, ke depannya disiapkan untuk menjadi petani-petani mandiri.

Pola ini, dijelaskan Ikhsan telah dilaksanakan di beberapa daerah di Jawa dan ternyata efektif untuk mendukung penguatan ketahanan pangan di tengah masyarakat.

Kepala DKP Pekanbaru H. Maisisco yang menyambut kedatangan perwakilan PT DMN mengaku sangat mengapresiasi rencana investasi di bidang pangan di Kota Pekanbaru ini.

Dia menjelaskan kalau sejauh ini, peluang untuk pengembangan usaha di bidang pangan masih sangat terbuka.

Dia menjelaskan, sebagai wilayah peetokaan, Kota Pekanbaru bukanlah sentra produksi untuk pangan.  

"Total hanya 23 persen produksi pangan kita dihasilkan lokal. Sisanya kira masih mendatangkan atau impor dari daerah-daerah lain di sekitar seperti kabupaten bahkan provinsi tetangga.

Besarnya celah tersebut membuat pemerintah berupaya keras melakukan Upaya mendukung produktivitas pertanian dan tanaman pangan dengan memanfaatkan lahan kosong, pekarangan untuk digunakan untuk bercocok tanam,'' kata dia.

DKP memberdayakan banyak kelompok di tengah masyarakat seperti kaum ibu dan wanita tani untuk mengelola pertanian dan tanaman pangan melalui pola urban farming.

"Pemerintah tidak mungkin hanya diam saja. Karena itulah, upaya untuk meningkatkan produksi dengan memanfaatkan lahan kosong terus dibina. Tak hanya itu, DKP juga melakukan upaya pembinaan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengolah pangan sehingga bisa meningkatkan nilai tambah dari komoditas pangan yg ditanam," jelas Maisisco.

Maisisco juga mengapresiasi peran swasta dalam mengembangkan industri pangan. Sehingga diharapkan ke depannya bisa mengurangi wilayah rentan rawan pangan di Kota Pekanbaru.

Hanya saja, pada kesempatan tersebut, Maisisco juga berharap PT Desa Mandiri Nusantara juga dapat memetakan terlebih dahulu potensi produksi pangan yang hendak di kelola.

Dia mencontohkan, salah satunya adalah berkaitan dengan pasar. karena itulah, dia mengajak PT DMN untuk juga bisa menyiapkan pasar, salah satunya adalah pabrik untuk pengolahan.

Dia mencontohkan, untuk bercocok tanam, pada dasarnya petani di Pekanbaru cukup banyak.

Hanya saja sering kali kendala pasca panen adalah memastikan komoditas yg dihasilkan bisa diserap pasar.

Maisisco pun menawarkan agar perusahaan mendirikan pabrik-pabrik mini untuk menjadi pasar terhadap komoditas pertanian seperti pengolahan cabai maupun buah dan sayuran.

Dia mencontohkan mengapa saat ini hampir sebagian besar lahan di Riau didominasi oleh sawit, bahkan masyarakat secara sukarela menanam lahannya yang semual untuk bercocok tanam menjadi kebun kelapa sawit.

Itu, sebut dia, tidak terlepas dari fakta bahwa sawit yang ditanam oleh masyarakat tidak perlu susah payah untuk dijual atau mencari pasar.

Banyaknya industri pengolahan minyak kelapa sawit membuat masyarakat tak lagi susah payah menjual sawit yang mereka hasilkan. Sebaliknya, ini juga menyebabkan pabrik-pabrik tidak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku.

Sinergi yang terbangun itu, jelas Maisisco merupakan salah satu contoh yang bisa digunakan dalam pengembangan industri pangan ke depan di Provinsi Riau, khususnya di Pekanbaru.

Dia juga menjelaskan pemilihan Pekanbaru sebagai poros pengembangan industri pangan di Provinsi Riau sangat tepat mengingat Pekanbaru merupakan pusat pemerintahan di Provinsi RIau dan potensi pasar yang terbuka luas. 

Dia juga menjelaskan, potensi Pekansikawan (Pekanbaru, Kampar, Siak dan Pelalawan) sebagai daerah penyangga kota Pekanbaru sangat mendukung untuk pengembangan usaha di sektor Pangan ini.

Dia pun berharap audiensi apa yang dilaksanakan ini juga akan segera ditindaklanjuti dengan aksi di lapangan segera.

''Kami selaku pemerintah siap mendukung apapun yang diperlukan untuk mendukung pecapaian dari minat perusahaan untuk berinvestasi di Kota Pekanbaru,'' ujar dia.

Ikut hadir pada kesempatan itu, Kabag Tata Pemerintahan Safriyan Tomi yang pada kesempatan itu juga berhadap apa yang dilaksanakan oleh perusahaan ke depan tetap melibatkan peran serta masyarakat, khususnya kaum petani.

Langkah-langkah pemberdayaan masyarakat, jelas dia, diharapkan akan mampu membangun perusahaan yang kuat, namun juga ekonomi masyarakat yang tangguh.(*)

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional