Kelapa sawit telah terbukti memberikan perbaikan ekonomi bagi banyak petani di Provinsi Riau. Bertahun-tahun sawit berhasil membangkitkan perekonomian masyarakat, termasuk mereka, para petani yang saat ini bermitra bersama PT Asian Agri.
Laporan BUDDY SYAFWAN, Pekanbaru
Hubungan kemitraan yang baik dan saling sinergi, perhatian yang intens dari perusahaan kepada petani dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi di lapangan, persiapan menjelang masa peremajaan tanaman sampai pada pasca peremajaan.
Kemitraan yang saling menguntungkan tersebut terus disuarakan oleh tiga perwakilan kelompok tani yang memberikan testimonial terkait program kemitraan yang telah dilaksanakan bersama Asian Agri, masing masing Sekretaris KUD Sawit Subur Ukui, Pelalawan, Anton Suhartono, Ketua KUD Jaya Makmur Buatan, Kabupaten Siak, Sudiyono dan Ketua KUD Bukit Makmur, Peranap, Indragiri Hulu, Irwan Ritonga dalam acara Pembagian premi dibagikan kepada 38 KUD yang dilaksanakan di Grand Jatra Hotel Pekanbaru, Kamis (12/12/2024) lalu.
Mereka bukan saja berasal dari generasi pertama dari kelompok tani dan KUD yang bermitra bersama Asian Agri. Tapi sudah menjadi generasi kedua.
Namun, sebuah catatan dari Ketua KUD Bukit Makmur, Irwan Ritonga sepertinya bisa menjadi sebuah refleksi betapa mereka tetap berharap Asian Agri dengan komoditas sawit unggulannya, yakni Topaz bisa menjadi bagian dari masa depan anak cucu mereka.

Penyerahan premi program Premium Sharing kepada KUD yang menjadi mitra Asian Agri di Pekanbaru, kamis (12/12/2024) lalu.
Irwan mengungkapkan, awalnya, tentunya tidak mudah untuk memberikan pemahaman kepada anggota, sesama petani untuk melakukan peremajaan kebun sawit mereka yang mulai menua. Karena tentunya banyak yang akan menjadi pemikiran dari mereka, seperti kalau sawit ditumbang, mereka akan makan dari mana, kalau ditumbang, apakah hasilnya akan baik.
''Banyak ketakutan petani, kalau ditumbang akan kehilangan income, akan kehilangan pendapatan, apa makan kami, itu yang menghantui kami,''kenang Irwan.
Perlahan, seiring berjalannya waktu, PT Asian Agri terus melakukan sosialisasi kepada petani.
''Kami mulai mulai menanamkan kepercayaan setelah memahami, bahwa sawit yang sudah tua itu, seperti saya sajalah, kalau sudah tua itu, apa masih kuat untuk produktif, begitu juga sawit, apa masih bisa produktif, yang pasti, semakin tua, semakin tidak produktif,'' kata Irwan.
Dan secara pribadi, Irwan mengungkapkan, akhirnya dia berpikir jauh ke depan, bahwa melakukan replanting dengan bermintra bersama Asian Agri ini bukanlah untuk kepentingannya secara pribadi. Melainkan untuk diteruskan kepada anak dan cucu. Sehingga apa yang diberikan haruslah yang terbaik.
''Prinsip saya cuma satu, saya yang sudah tua ini ingin melakukan replanting (Peremajaan) karena ingin meninggalkan kepada anak cucu saya, benih bibit yang baik untuk mereka nikmati. Jadi jangan takut, saya menanam sawit untuk saya, tidak, prioritas saya adalah untuk anak cucu,'' jelas Irwan lagi mengenang tentang keputusannya bekerja sama dengan Asian Agri.
Keraguan dirinya bersama para petani yang bergabung di KUD Bukit Makmur Peranap juga semakin hilang manakala melihat keseriusan pendampingan yang diberikan Asian Agri kepada para petani, termasuk juga setelah melihat keberhasilan KUD lain yang saat ini sudah memasuki generasi kedua bekerja sama dengan Asian Agri.
''Kami dibawa studi banding melihat langsung ke kebun kakak-kakak kami yang sudah lebih dahulu bermintra, di bawa ke kebun sana, kekebun sini, untuk meyakinkan bahwa generasi sawit Topaz yang akan ditanam ini benar-benr baik untuk ke depannya,'' ungkap dia.
''Kalau teman-teman petani yang lain yang sudah terdahulu , mereka itu kan kakak-kakak kami, kalau kakak-kakak kami ini berhasil, maka kami pun yakin pasti berhasil,'' ungkap Irwan.
Keyakinan untuk bermitra ini juga semakin kuat karena, Asian Agri tentunya menjadi pihak yang paling menginginkan keberhasilan dari kebun kemitraan ini dan sangat takut kalau ini tidak berhasil.
kekhawatiran tersebut berubah seiring dengan dukungan dan perhatian penuh yang diberikan Asian Agri melalui jajarannya yang ada di tengah masyarakat.
Bahkan tak cuma itu, Asian Agri juga yang memberikan pendampingan kepada para petani untuk bisa mendapatkan bantuan dari BPDPKS untuk program peremajaan perkebunan kelapa sawit.
''Kami tahunya dari mitra, mereka yang menginformasikan, mereka juga yang mengajarkan kami bagaimana cara mendapatkan program itu. Kami ini sama sekali tidak tahu itu Pak, maklumlah, kami ini kan jauh, kami ndak paham itu komputer, semua dibantu oleh mitra. Bahkan, manejer mitra kami itu, bahkan ada yang sampai tengah malam untuk membantu kami. Kami benar-benar tidak tahu, mitra inilah yang membantu kami,'' ungkap dia.
Sebenarnya, kisah kemitraan yang dibangun Asian Agri dengan para petani kelapa sawit, khususnya di Riau sudah demikian banyak. Bahkan, Sekretaris KUD Sawit Subur, Anton Suhartono. mengungkapkan, dia juga sudah pernah mencoba untuk membuat perbandingan antara kebun yang dia kelola sendiri dengan kebun yang dikelola dengan cara kemitraan bersama Asian Agri.
Dijelaskan Anton, dia mencontohkan satu hal saja, untuk biaya pembersihan lahan dari semak belukar, itu per kaplingnya bila dikelola secara pribadi butuh biaya sekitar Rp300-Rp500 ribu. Namun, bila dikelola oleh mitra, biayanya hanya sebesar Rp180.000. Jadi sangat jauh.
Selain itu, bila menghadapi permasalahan, seperti gangguan kerusakan pada tanaman, mitra sudah memiliki tenaga ahli yang profesional dalam memberikan penanganan.
Sementara bila dikelola sendiri, walau pun menggunakan bibit yang sama, tentunya hasilnya akan berbeda.Mitra sudah memiliki standar penanganan masalah terhadap permasalahan-permasalahan di lapangan, termasuk dalam hal penyakit tanaman.
Sekelumit kisah kemitraan petani kelapa sawit di Riau bersama Asian Agri ini tentunya hanya sebagian kecil dari kebahagiaan yang mereka dapatkan selama bertahun-tahun bermitra.
Perekonomian keluarga dan masyarakat yang terus membaik, perhatian yang senantiasa diberikan, termasuk juga bonus berupa pembagian premi hasil penjualan minyak sawit bersertifikasi atau premium sharing yang setiap tahunnya mereka dapatkan, menambah optimisme mereka dalam memastikan sawit sebagai masa depan bagi anak dan cucu.(*)
Listrik Indonesia

