Wali Kota Pekanbaru Pimpin Rapat Forkopimda, Harga Cabai Merah Sebabkan Inflasi

Wali Kota Pekanbaru Pimpin Rapat Forkopimda, Harga Cabai Merah Sebabkan  Inflasi

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho memimpin Rapat Koordinasi High Level Meeting  Forum Komunikasi Pemimpin Daerah (Forkopimda) terkait stabilitas harga komoditas pangan dan pengendalian inflasi, Rabu (15/10/2025).

Rapat tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Markarius Anwar, Ketua DPRD Pekanbaru Muhammad Isa Lahamid, Kapolresta Pekanbaru Kombes Jeki Rahmat Mustika, Komandan Kodim Letkol Inf Ikhsanudin, Kepala Kejaksaan Tinggi Pekanbaru, Silpia Rozalina,Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Panji Ahmad, Plh.Kepala BPS Aries Adi Putra, Pj.Sekretaris Daerah Zulhelmi Arifin.

Wali Kota pada kesempatan itu mengungkapkan Rapat Koordinasi Forkopimda ini dilaksanakan dalam upaya memastikan stabilitas harga komoditas pangan di Kota Pekanbaru yang berpotensi menyebabkan inflasi.

Wali Kota Agung, pada kesempatan itu menjelaskan lonjakan harga cabai merah memang menyebabkan terjadi inflasi di Kota Pekanbaru. Namun begitu, secara umum, kondisinya relatif masih normal.

Namun begitu, mengingat kendala kenaikan harga cabai merah terjadi secara nasional, tidak hanya di Kota Pekanbaru, maka perlu langkah-langkah konkrit dalam menghadapinya.

''Untuk cabai merah ini kan persoalannya bukan cuma kita di Pekanbaru, tapi secara nasional. Karena itulah, kita perlu mengajak dan memotifvasi masyarakat untuk menanam cabai, dan bibitnya akan kita sediakan,'' kata dia.

Selain itu, Wali Kota Agung juga menjelaskan kalau pihaknya akan mengalokasikan bantuan untuk penyediaan cabai dalam skala besar sehingga bisa disalurkan kepada masyarakat,'' kata dia.

Sementara itu, Plh. Kepala BPS Pekanbaru Aries Eka Putra mengungkapkan, pada periode September 2025, Pekanbaru mengalami inflasi sebesar 0,95 persen (mounth to mounth), 3,73 persen  (year to date) dan 4,63 persen year on year.

Sementara itu, untuk indeks harga konsumen di Kota Pekanbaru dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,40

Dengan angka mencapai 4,63 persen, dijelaskan Aries, memang angka inflasi di Kota Pekanbaru berada di atas target pemerintah yakni 2,5 plus minus 1.

''Dan ini memang menjadi perhatian dan dicarikan solusinya bersama,'' ungkap Aris.

Di Sumatera, memang, angka inflasi Provinsi Riau pada periode September 2025 ini termasuk tertinggi nomor dua dan orang selalu melihat tolok ukurnya adalah Kota Pekanbaru.

''Tapi yang perlu diketahui adalah di Provinsi Riau, angka inflasi Kota Pekanbaru merupakan yang terendah dibandingkan 4 daerah lain yang masuk dalam penilaian IHK,'' kata dia.

Terkait inflasi yang disebabkan lonjakan harga cabai merah, Kepala DKP Pekanbaru H. Muhamamd Jamil menyebutkan secara umum, memang Kota Pekanbaru bukanlah daerah penghasil.

Kaerena itulah, sebut dia, Pekanbaru sangat tergantung pada pasokan yang masuk dari daerah-daerah di sekitar.

Namun begitu, sebagai langkah stabilisasi harga, DKP melaksanakan sejumlah langkah diantaranya dengan memperkuat stok komoditas pangan dengan memastikan kelancaran pasokan.

Selain itu, DKP juga mengalbil langlah-langkah konkrit berupa pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang ditujukan untuk memastikan tidak ada wilayah yang rentan rawan pangan.

Jadi untuk GPM, kegiatannya dilaksanakan di darah-daerah yang memang titiknya telah ditentukan dalam upaya memastikan tidak ada warga yang kesulitan mendapatkan komoditas pangan. Dan selama pelaksanaan GPM, cabai merah termasuk salah satu komoditas pangan utama yang disediakan.

Selain GPM, DKP juga melaksanakan kegiatan mobil layanan PAK AMAN yang juga hadir di  pemukiman warga yang jauh berada di pelosok wilayah Pekanbaru dan daerah rentan rawan pangan.

Selain itu, Jamil menjelaskan, Pemko Pekanbaru melalui DKP juga sudah menyerahkan bantuan pangan untuk masyarakat kelompok tidak mampu yang sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Adapun untuk mendukung penguatan ketahanan pangan, Jamil juga menjelaskan, saat ini, upaya penguatan lewat Kerja sama Antar Daerah (KAD) juga dilaksanakan dengan membangun komunikasi dengan daerah penghasil seperti di wilayah Sumbar, Bukittinggi, Payakumbuh dan Kota Solok, sumatera Utara dan terakhir beberapa waktu lalu dengan Provinsi Lampung.(R04)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional